I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
44. Berkebun



...SELAMAT MEMBACA...


Chalodra masih tidak mendapatkan jawaban, dari pertanyaan yang dilontarkan. Namun, Chalodra juga tidak mau membuat Hendery marah, karena Hendery juga mempunyai privasi.


Hingga saat Chalodra hendak pergi keluar kamar, Hendery mencekal tangan Chalodra dan membawanya duduk di kasur. "Aku mau cerita sama kamu, Cha," ujar Hendery. Sorot mata laki-laki itu begitu tajam.


Chalodra meraih dan menggenggam tangan besar Hendery. "Aku gak apa-apa kok, Mas. Aku juga tidak mempermasalahkan itu lagi," ucap Chalodra.


"Mengenai senjata itu, Mas menyimpannya untuk bersiaga, banyak saingan bisnis Mas yang mulai menyerang," kata Hendery.


"Yang terpenting tidak ketahuan polisi. Nanti Mas malah ditangkap."


Tentu saja penjelasan singkat Hendery bohong, tidak mungkin membuka identitas dirinya sebagaimana seorang mafia, itu adalah rahasia terbesar. Hanya Taka dan Carlon yang mengetahui. Sebagai mafia, tidak boleh ramai identitas diri terbuka.


DOR!


Suara tembakan dari lantai bawah, membuat Hendery bergegas turun. Pasalnya, Taka sedang tidak ada di rumah. Laki-laki itu berjalan cepat menuruni tangga, menghampiri pria yang mengangkat pistol di tangannya. "Mau apa Anda?!"


Carlon tersenyum miring. "Saya mau mengambil hak waris perusahaan."


Hendery berdecih. "Punya hak apa Anda? Perusahaan itu sudah diwariskan kepada saya. Menurut hukum, itu sudah menjadi milik saya," kata Hendery.


"Kamu hanya cucu! Tidak berhak lebih."


"Maaf, tapi Nenek pemilik saham terbesar dan beliau telah mewariskannya kepada saya."


"Saya akan merebutnya,"ancam Carlon. Laki-laki itu haus akan harta, dia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.


Mendengar keributan, Chalodra hanya berani berdiri di lantai atas, bersembunyi di balik pintu sambil mengintip. " Harus diapakan, ya, Papa Carlon supaya berhenti menganggu," gumam Chalodra.


"Suatu saat, pasti akan menjadi milik saya, Hendery!"


"Jika tidak mau menyerahkan perusahaan itu, istri kamu akan tetap menjadi mangsa."


"Dasar! Kamu itu anak durhaka!"


"Sudah dibesarkan, tidak tahu terima kasih!"


Berbagai umpatan Hendery dapatkan dari sang Papa, tetapi Hendery sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Apa yang menjadi miliknya, akan tetap berada di tangannya. Prinsip Hendery hanyalah adil.


Tidak ada pertarungan setelahnya, Carlon pergi dengan pundak naik turun karena marah. Sedangkan Hendery, langsung menghampiri Chalodra yang ketakutan. Ancaman Carlon untuk Chalodra, membuat perempuan mungil itu sedikit ketakutan.


"Mas, aku masih jadi buronan mereka, ya?"


"Kalau aku sampai dibunuh, Mas mau menikah lagi?"


"Tapi, aku mau selamanya sama Mas. Aku mau lihat anak kita, Mas." Chalodra merengek, sambil mencengkram lengan Hendery. Hormon Ibu hamil, memang suka membuat gemas. "Mas, kita pergi ke luar negri saja, ya?"


"Kamu takut, Cha?" Suara lembut Hendery, membuat Chalodra merinding. Lain dari biasanya.


"Memangnya, Mas tidak takut?"


"Mas takut kehilangan kamu. Karena itu, Mas akan selalu menjaga kamu, Chalodra."


Belakang ini, semuanya tidak berjalan mulus. Carlon selalu datang, hanya untuk memberi ancaman kepada Hendery. Kesehatan Chalodra juga menurun, lantaran sering syok. Hendery berdiam diri di rumah untuk menjaga Chalodra, sambil mengerjakan beberapa dokumen.


Satu bulan lalu, Tivani memberi kabar bahwa dirinya hamil. Silvia juga mengirim pesan kepada Chalodra, bahwa dia dan Ratu akan pergi LA untuk berlibur. Sebenarnya, Chalodra merasa sedih, tidak bisa berkeliaran bebas seperti yang lain. Namun, sikap manja Hendery akhir-akhir ini membuat Chalodra betah di rumah, meski terpaksa.


Siapa tahu, Hendery luluh dengan rayuan Chalodra, dan membelikan istrinya hewan peliharaan. Seekor hamster kecil, padahal Chalodra geli melihatnya. Chalodra menginginkan seekor kucing, bukan hamster.


"Mau kucing," gumam Chalodra. Napasnya sesenggukan dan air matanya menetes berulang kali. "Satu saja." Chalodra tetap memohon selama satu minggu, tetapi Hendery begitu keras dengan ketetapan hatinya.


Hingga hari ini, Chalodra memutuskan untuk berkebun di samping rumah. Selama dua minggu ini, Chalodra benar-benar menjadi seorang Ibu rumah tangga. Memasak, membersihkan rumah, dan berkebun. Mawar merah yang Chalodra tanam sudah tumbuh besar.


"Kalau ditaruh di vas, kayaknya bagus," gumam Chalodra. Dia begitu suka bunga, Chalodra membelai lembut kelopaknya sebelum menggunting tangkainya.


Chalodra menghirup aroma wangi bunga, begitu menyerbu indra penciuman. Chalodra meletakkan setangkai mawar di keranjang, yang sudah dia siapkan. Begitu indah seperti dirinya.


"Kamu harus tetap indah, meski sudah dilukai."


"Cantik." Suara berat menggelikan itu membuat Chalodra tersentak kaget. Hendery ikut berjongkok di samping Chalodra. "Jangan jongkok terlalu lama, Cha!" tutur Hendery.


Chalodra mengangguk singkat. "Mas mau ke luar sebentar. Kamu di rumah saja, ya?" ucap Hendery seraya menegakkan kakinya.


"Jangan lama-lama!"


"Sebentar, lima menit." Hendery berjalan menjauh, sambil melambaikan tangan. Begitu juga Chalodra, yang membalas lambaian Hendery.


Chalodra sudah mendapatkan satu keranjang penuh bunga, dia segera masuk ke rumah untuk meletakkan bunga di vas. Chalodra melangkahkan kakinya dengan riang. Namun, suara teriakan dari belakangnya membuat Chalodra terhenti dan mematung.


Keranjang bunga Chalodra jatuh, seseorang mencengkram kedua tangannya dan diarahkan ke belakang. Chalodra melirik sekilas orang itu, Carlon menodong pistol pada kepala Chalodra. "Tolong lepas!" lirih Chalodra.


"Kamu pembawa sial."


"Tolong, jangan sakiti!" Chalodra memohon dan berusaha untuk melepaskan, tetapi kondisi kesehatan Chalodra sedang tidak baik.


"LEPASKAN CHALODRA!" Hendery melihatnya, dia segera mendekati. Namun, Carlon semakin menekankan pistolnya pada kening Chalodra. "Jangan sakiti istriku!" Ucapan Hendery penuh penekanan, terlihat jelas dia menahan amarah.


"Ambilkan tali untukku, kalau tidak mau dia aku sakiti," seru Carlon.


"Oke." Hendery berjalan menuju dapur, mencari sesuatu. Setelah menemukannya, Hendery segera kembali. "Ini." Hendery memberikan seikat tali kepada Carlon.


DOR DOR


Pistol di genggaman Carlon terlepas, tubuh pria itu meluruh ke lantai. Dengan desisan yang keluar dari bibirnya, Carlon memegang kaki kirinya yang terkena tembakan. Chalodra segera berlari dan memeluk Hendery erat-erat. Napas Chalodra memburu, detak jantungnya bernada cepat.


Seseorang dari arah pintu, tersenyum miring melihat Carlon telah berhasil dilumpuhkan. Amar, dia kembali menyimpan pistolnya ke dalam saku celana. "Selamat siang," katanya.


Carlon memicingkan matanya. "Dia?"


"Iya, saya Amar. Senang bertemu dengan Anda."


"Omong-omong, sudah lama tidak bertemu," ucap Amar. Amar berjalan, mengambil pistol milik Carlon yang tergelatak di lantai, lalu dia mendekati Hendery. "Apa istrimu tidak apa-apa?"


"Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Hendery.


"Di sana masih ada kejahatan kriminal, jadi setiap kepala keluarga pasti memiliki satu," jawab Amar.


...SEE U NEXT PART BESTIE ...