
Chalodra masih belum diizinkan untuk pulang, sebab peredaran darah Chalodra tidak normal. Ada dua penyebab, racun ular itu dan Chalodra banyak pikiran. Dia hanya diizinkan bangun, hanya untuk duduk. Jika keluar ruang inap, Hendery takut anak buah Carlon melihat dan kembali mengusik.
Siang ini, awan mendung menyembunyikan sinar matahari. Chalodra duduk di atas tempat tidurnya. Pantatnya terasa panas dan nyeri karena terlalu banyak duduk dan tidur. Hendery sedang mengupas apel, tentunya untuk istrinya. Chalodra melihat layar televisi di atas sana dengan begitu serius.
"Ini, Cha," ucap Hendery sambil memberikan apel di atas piring kepada Chalodra.
Chalodra tersenyum dan menerima piring itu. Lalu, menyuapi mulutnya dengan sepotong apel yang sudah bersih. "Mas mau?" tanya Chalodra. Hendery terus memandanginya tanpa berpaling. Hendery menggelengkan kepala, menolak tawaran Chalodra.
Pintu terbuka, dua perempuan masuk dan menyapa Chalodra dengan senyuman lebar. Ratu dan Silvia berjalan mendekat, membuat Hendery berdiri dari duduknya. Silvia meletakkan paperbag di atas nakas.
"Bagaimana kondisi Chalodra?" tanya Ratu pada Hendery.
"Sudah tidak ada masalah, tetapi masih belum diizinkan untuk pulang," jawab Hendery. "Kalau begitu, aku keluar." Hendery mengelus pucuk kepala Chalodra, lalu melenggang keluar.
Ratu tersenyum pada Chalodra dengan begitu hangat. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi, yang tadi digunakan Hendery. "Kamu yang kuat, ya!" ujar Ratu. Chalodra mengangguk dengan cepat.
"Cha, Erlangga melakukan penyelidikan dengan rekan-rekannya yang merupakan detektif profesional. Dia menemukan kebenarannya. Rekaman CCTV di rumah Egry, laki-laki itu benar-benar menembak Sufia," ujar Silvia.
Chalodra terbelalak kaget, bahkan bibirnya sedikit terbuka. Nama Egry, membuat Chalodra kembali mengingat semua mimpi yang menghantuinya. "Apa Egry dipenjara?" tanya Chalodra.
Silvia menggelengkan kepalanya. "Keberadaannya masih belum diketahui," jawab Silvia. "Kamu harus jaga diri, Cha!"
Chalodra tersenyum. "Ada Mas Hendery," katanya, dengan yakin.
"Ibu berharap yang terbaik untuk kalian semua," titah Ratu.
"Oh, ya, Kakak dan Erlangga, kapan menikah?" celetuk Chalodra membuat Silvia tersedak ludah.
"Kamu bicara apa sih, Cha!"
"Eh? Apa ada yang salah?"
"Kami hanya teman tahu!"
"Tapi Kakak mencintainya 'kan?"
Tanpa sadar, Silvia mengangguk dengan dalam. "Eh! Enggak! Masih belum!" pekiknya keras. Pipi gadis itu sudah merona, lalu wajahnya memanas mendengar godaan adiknya.
Silvia memang orang yang mudah terbawa suasana, tetapi jika urusan cinta, akan sulit menaklukkan hatinya. Silvia keras, sudah ada karena didikannya Ratu untuk Silvia anak sulung. Agar kuat menghadapi segalanya, tanpa merasa iri dengan saudara-saudaranya.
Galak tawa yang awalnya ringan, kini menjadi semakin menggelegar. Keluarga ini berprinsip, jika sudah pergi maka relakan dan hadapi selanjutnya. Candaan Silvia semakin pecah, gadis itu memang suka bercanda, apalagi sekarang dalam keadaan bahagia.
Pintu terbuka membuat semuanya seketika senyap, hanya seuntai senyum yang tersisa. Hendery juga punya rasa gugup, saat berada di suatu lingkungan dan hanya seorang diri sebagai pria. "Cha, aku tinggal sebentar, ya? Ada urusan mendadak," kata Hendery.
"Iya, Mas. Tapi, cepat kembali!" jawab Chalodra. Hendery mengukir senyum tipis, lalu berjalan pergi.
Tidak sedikit warga rumah sakit memandangi wajah tampan Hendery. Bahkan, perawat hingga dokter pun curi pandang. Hendery hanya acuh, menatap jalan dengan dingin ke depan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, terlihat begitu gagah.
Hendery berjalan menuju tempat parkir di depan rumah sakit. Dia membuka pintu mobilnya. Namun, kakinya terasa berat saat akan diangkat. "Papa!" Suara itu membuat Hendery mengerutkan dahi.
Hendery mengurungkan niatnya dan mencoba meladeni anak kecil itu. "Papa!" ucap bocah dua tahun itu. Rambutnya kuncir dua dan baju berwarna kuning yang dia kenakan terlihat kebesaran.
Hendery berjongkok, menyamakan tingginya dengan gadis kecil itu. "Kamu siapa?" tanya Hendery. "Papa kamu mana?"
Gadis itu hanya mengedipkan matanya. "Anya," ucapnya.
"Nama kamu Anya?" Gadis itu mengangguk. "Papa kamu di mana?" tanya Hendery.
"Papa!" Dia menunjuk wajah Hendery. Tentu saja Hendery bingung, dia paling tidak bisa mengerti maksud dari anak kecil. Di luar dugaan, gadis itu merentangkan tangannya.
"*****!"
Kedua mata Hendery melebar. Dia mati kutu dari seorang anak kecil. Hendery tidak berkutik, dia berdiri tegak dan mengedarkan pandangannya. "Papa kamu ke mana?!" tanya Hendery, kali ini dengan nada sedikit membentak.
Gadis itu terus saja menunjuk Hendery, seakan sebagai jawaban kalau papanya itu Hendery. "Papa!"
"Ya, Papa kamu di mana?" Hendery sedikit kesal. Dia meraup wajahnya dengan emosi, lalu mengendong gadis itu tanpa kelembutan. "Ada aja," gumamnya.
"Papa! *****!"
"Diam!"
Gadis itu mengerutkan bibirnya dan menekuk kedua tangannya di depan dada. Hendery membawanya ke resepsionis. "Saya menemukan anak hilang, apa bisa bantu saya?" ucap Hendery dengan to the poin.
"Oh, sebentar ya, Pak. Saya panggil sekuriti dulu," kata resepsionis itu.
"Cepatlah!" tegur Hendery.
Hendery menurunkan anak itu di kursi tunggu, tepat di depan tempat resepsionis. Lalu ikut duduk di sampingnya. Gadis itu menggoyangkan paha Hendery, seakan memanggilnya. Dia membuat wajah yang begitu manis, sehingga membuat Hendery mengangkat alisnya. "*****," katanya sedikit pelan dari sebelumnya.
"Minum air saja, ya?" tawar Hendery. Gadis itu mengangguk cepat.
Hendery melangkahkan kaki menuju almari es di belakang, lalu mengambil botol air mineral. Hendery kembali dan memberikannya pada anak itu. "Buka!" bentak gadis itu.
Hendery frustrasi. Dia berjalan menuju tempat resepsionis. "Apa masih lama?" tanya Hendery. "Saya sedang ada urusan. Kalau saya tinggalkan anak itu di sini saja, bagaimana?"
"Tidak bisa, Pak. Bapak tunggu sebentar, ya!"
"Jangan panggil saya Bapak! Saya masih muda!"
Di sisi lain, di sebuah taman dekat rumah sakit, sepasang kekasih kalang kabut. "Kak Amar, Anya ke mana?" tanya wanita itu dengan penuh kegelisahan di wajahnya.
"Kita cari dulu ya, Mar," jawabnya.
Mereka terus mencari, bahkan sudah setengah jam berlalu. "Kita cari di dalam rumah sakit saja, ya?" ajak Amar.
"Tapi tadi sudah tidak ada, Kak!"
"Kita cari dulu, Maria."
Maria mengigit bibirnya, menahan emosi. Amar berjalan menuntun Maria dengan merangkul pundak istrinya itu.
Anya berlari ke arah luar membuat Hendery mengejarnya. Anya memeluk kaki seorang wanita dan wanita itu juga memeluk Anya. "Anya sayang," lirih wanita itu.
"Hendery?" Pria dengan perawakan tinggi itu membulatkan matanya. Wajahnya, tubuhnya, bahkan suaranya sangat mirip seperti Hendery. Hanya saja, tatapan mata pria itu berbeda jauh dari Hendery. Amar menarik Hendery dan memeluknya erat. "Akhirnya, ketemu juga kamu, Hen!" serunya.
"Apa kabar?" tanya Amar seraya mengendurkan pelukannya.
"Baik," jawab Hendery.
"Ini yang namanya Hendery, Kak?" tanya Maria.
"Iya, dia yang Kakak ceritakan. Anak dari sahabat Mama, mirip banget 'kan sama aku?"
Maria mengangguk cepat. "Hai, Kak, salam kenal aku Maria!"
"Iya."