I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
61. Egry?



Chalodra membuka daun pintu, dia dan Hendery berpamitan pulang dari rumah Ratu. Namun, Silvia datang bersama Erlangga dengan koper dan tas di tangan mereka. "Eh, ada Chalodra?" pekik Silvia, lantas memeluk erat sang adik.


"Baru mau pulang," ucap Chalodra.


Pelukan keduanya mengendur, saling melemparkan senyuman tipis. Ratu yang berdiri di belakang Chalodra berjalan mendekat, mengulas senyum akan kedatangan sang putri. "Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Ratu, menatap Silvia dan Erlangga bergantian.


"Aku happy banget," ujar Silvia. "Angga sampai gak mau pulang."


Erlangga membulatkan mata mendengar namanya disebut. "Enak aja kamu! Kamu yang gak mau pulang, Sayang," sahutnya.


Chalodra tidak jadi pulang, Silvia menghalanginya dengan alasan ada buah tangan untuknya. Chalodra tak bisa menolak, apalagi ini barang gratis.


Mereka duduk di ruang tamu. Erlangga ikut duduk di samping Silvia setelah mengembalikan koper dan tas ke kamar. Hendery tidak bergabung, dia berdiri di teras untuk menikmati rokoknya.


"Jadi, aku dibawakan oleh-oleh apa, nih?" ujar Chalodra. Dia menantikan ini.


Silvia yang duduk di samping Chalodra, lantas memeluknya dari samping. "Sebenarnya, baju ini aku beli untuk aku sendiri. Tapi, karena ada kamu, aku kasihkan ke kamu!" ucap Silvia, menyodorkan benda itu.


Blouse lengan pendek berwarna biru muda, ia membuat Chalodra terpesona. Maniknya membulat sempurna, bibirnya sedikit terbuka. "Cantik banget!"


Setelah senang mendapatkan oleh-oleh, Chalodra mengajak Hendery pulang. Bukan hanya membawa pulang blouse, tetapi buah-buahan yang disuguhkan Ratu tadi.


Hari pun sudah sore, Hendery mengendarai mobil dengan kecepatan standar. Pria itu melirik ke arah sang istri, yang tengah memandang ke luar jendela. "Apa yang menganggu kamu, Cha?" tanya Hendery.


Chalodra menoleh cepat, segera tersadar dari lamunannya. Wajah Egry, saat lelaki itu menolongnya, tidak terlihat sedikit pun kejahatan di sana. Entah mengapa, Chalodra memikirkan dan berharap bisa bertemu lagi. Namun, ada rasa takut bila Egry akan jahat lagi kepadanya. "Gak apa-apa, Mas. Aku cuma berpikir suatu hal," jawab Chalodra.


"Apa itu?"


"Tidak penting." Chalodra menghela napas panjang, kembali memalingkan wajah dari Hendery. Sedangkan lelaki itu masih tidak puas akan jawaban yang istrinya berikan.


"Cha, kamu menghela napas berulang-ulang. Keadaan kamu benar-benar baik? Atau ada yang menganggu kamu? Tolong, kasih tahu Mas!"


"Mas, aku bilang tidak ada."


Hendery memilih diam kali ini, dari pada terjadi pertengkaran antara dirinya dan Chalodra. Sifat ibu hamil memang berubah-ubah dan menyebalkan.


Sesampainya di rumah, mereka dikejutkan akan kehadiran Tivani beserta keluarga kecilnya. Chalodra langsung bersorak ria, dia bergegas menemui adik kecil. Tivani mengatakan bayinya berada di kamar tamu, tidur ditemani Bi Aya.


Tivani duduk santai dengan Andre dan Hendery, menikmati teh hangat. Hendery sempat bertanya, apa tujuan mereka datang, hanya sekadar berkunjung atau ada hal lain. Terlebih saat melihat sorot mata Tivani, seperti ada sesuatu.


"Aku mau ke Chalodra dulu," ujar Tivani, berdiri dari duduknya. Andre mengangguk dan Tivani melenggang pergi.


Andre meneguk teh hangat miliknya. "Hen," panggil Andre.


Hendery yang tengah membenarkan jam tangannya, segera menoleh ke arah Andre yang duduk di sofa sebrang. "Ada apa? Kalian sedang ada masalah?" tanya Hendery.


Andre menghela napas panjang. "Tidak ada. Tapi, Tivani akhir-akhir ini sikapnya aneh," ungkap Andre.


Hendery mengerutkan dahi, semakin penasaran akan ucapan lelaki itu. "Aneh?"


"Parnoan." Setelah mengatakan itu, Andre celingukan, takut bila sang istri mendengarnya. "Dia gampang kaget. Tivani juga sering terlihat gelisah. Aku tanya, dia tidak bilang apa-apa," jelasnya.


Hendery memijat pelipisnya, sesuai dugaannya. Ketika melihat tatapan Tivani, dia seperti menyembunyikan sesuatu. "Nanti biar aku tanyakan," ucap Hendery.


"Iya, aku takut kalau ada masalah besar dan dia sembunyikan."


Hendery menganggukkan kepala. "Yang terpenting kamu harus selalu jaga dia."


"Itu gak perlu kamu suruh. Aku lakukan setiap saat," kata Andre dengan percaya diri.


Hubungan Tivani dan Andre menjelang pernikahan hampir saja berhenti, disebabkan oleh Andre yang salah mencantumkan nama mereka. Sehingga Tivani harus mencetak ulang undangan mereka sendiri. Bagaimana Tivani tidak marah? Andre menuliskan nama sang mantan, bukan nama Tivani.


Beruntung saja Andre, Tivani masih bisa mengerti dan memberikan kesempatan kedua. Jikalau tidak, mungkin Andre akan mengemis kepada Tivani sampai sekarang.


Hari semakin larut, terlalu banyak cerita yang ditukar membuat Tivani dan Hendery baru bisa bicara. Keduanya berdiri di tepi kolam renang. Sedangkan Chalodra duduk di kursi sendirian, memandang bintang di langit sana.


"Jadi?" Hendery menatap sang kakak dengan serius.


"Aku lihat Egry di taman minggu lalu," ucap Tivani. Awalnya, Hendery bersikap biasa, tetapi tidak ketika Tivani mengatakannya lagi. "Tadi, waktu aku datang, aku lihat dia awasi rumah kalian."


Hendery membulatkan mata, semakin menajamkan pendengarannya. "Yakin itu dia?"


Tivani mengangguk kuat. "Aku gak berani datangi dia, soalnya ada anak aku."


"Aku sudah suruh orang untuk cari tempat tinggalnya," ucap Hendery.


"Lalu?"


"Dia ada di kota ini. Tapi, rumahnya masih belum."


Tivani menghembuskan napas panjang, melihat ke arah Chalodra sejenak. Rupanya istri Hendery itu tidak penasaran dan tak suka menguping. "Aku harap dia tidak ganggu kalian. Apalagi berniat jahat untuk Chalodra," cecar Tivani. Hendery mengangguk setuju.


"Sejauh ini masih aman," kata Hendery.


........ ...


"Cha, Kakak pulang dulu, ya?"


Tivani dan Andre berpamitan untuk pulang. Lalu, Tivani mengambil sang bayi dari gendongan Bi Aya. "Kenapa tidak menginap? Ini sudah malam," ucap Chalodra.


"Besok pagi-pagi harus pergi ke luar kota," jawab Tivani.


"Anakmu kamu bawa?" tanya Hendery, Tivani mengangguk. "Kasihan."


"Titipkan ke kita saja! Aku siap jagain, kok!" pekik Chalodra bersemangat.


"Tidak, tidak, nanti malah merepotkan kalian," ucap Tivani.


"Ih, tidak merepotkan. Aku malah senang." Chalodra tersenyum lebar.


"Tidak, Kakak bawa saja."


Tivani dan Andre telah pulang. Chalodra duduk santai di tepi kolam renang, masih membutuhkan udara segar. Ditemani Bi Aya, mereka menikmati hembusan angin malam.


"Cha, segera masuk! Sudah malam," ujar Hendery.


"Iya, sebentar. Aku mau bicara sesuatu sama Bi Aya."


Chalodra menghela napas panjang, menatap Bi Aya dengan dalam. Jika tidak cerita, dia tak bisa menyimpannya sendiri. Namun, Chalodra kurang siap untuk menceritakannya.


"Jadi, waktu Cha pergi ke mal tadi, Cha sempat jatuh. Lalu, ada yang tolongin aku, Bi Aya tahu siapa dia?" Bi Aya lantas menggelengkan kepala. "Egry," ungkap Chalodra.


Bi Aya membulatkan mata, seakan memelototi Chalodra. "Egry yang ...."


Chalodra mengangguk cepat. "Mau cerita ke Mas Hendery tapi takut."


"Kalau tidak cerita pun takut."