
Chalodra berbaring di brankar sambil menonton televisi. Kini dirinya seorang diri, Hendery pamit untuk mencari makanan. Tiba-tiba saja, rasa ingin buang hajat Chalodra datang, dia bergegas ke kamar mandi.
Televisi itu dibiarkan menyala, gemericik air terdengar dari dalam toilet yang Ada di dalam ruangan. Dokter masih belum mengizinkan Chalodra untuk pulang, mungkin besok.
Chalodra menghela napas lega sambil menutup pintu. Dekapan kuat membungkam mulut dan bibirnya. Chalodra memberontak, tetapi kepalanya terasa memberat. Lalu, gelap.
Setengah jam setelah itu, Hendery memasuki ruangan. Tidak melihat keberadaan Chalodra di brankar. Hendery meletakkan kantung plastik yang dibawanya di atas nakas. Hendery mendongak, melihat televisi menyala. "Cha!" panggil Hendery.
Hendery melangkahkan kaki ke arah kamar mandi. Pintu itu tertutup rapat. Hendery mengetuknya pelan. "Cha, kamu di dalam?" Namun, tidak mendapat sahutan dari dalam. Kening Hendery berkerut.
Dengan sekali gerakan, pintu itu terbuka lebar. Tidak ada siapapun. "Chalodra!" teriak Hendery. "Cha! Kamu di mana?!"
Selimut brankar tidak rapi, televisi menyala, dan tidak ada di kamar mandi. Hendery memutuskan mencari di luar ruangan. Mengitari rumah sakit, tetapi nihil. Chalodra tidak bisa dilihatnya.
.....
Berat dan pusing. Tubuhnya terbaring di atas kasur besar. Benda-benda asing mengitarinya. Chalodra membuka mata perlahan, mendudukkan tubuhnya. Chalodra memicingkan mata, merasa kepalanya kelebihan beban. "Aku di mana?"
Chalodra memegangi keningnya, bibirnya mendesis pelan. "Mas Hendery," lirih Chalodra.
Ruangan asing, tempat tidak di kenal. Chalodra hendak beranjak turun dari tempat tidur. Pintu kamar dibuka, membuat pergerakan Chalodra terhenti. Sosok laki-laki berjalan mendekati Chalodra dengan nampan di tangannya. "Egry?"
"Hai, Atha," sapanya ramah. "Sarapan, yuk!" Dia mengambil semangkuk bubur dan menyuapi Chalodra dengan sendok.
Chalodra menolak, memalingkan wajahnya. "Kamu culik aku?" pekik Chalodra.
Egry mengulas senyum tipis, kembali meletakkan mangkuk itu ke atas nakas. "Ini yang kamu minta kan, Tha?" Chalodra mengerutkan dahi, bingung. "Kamu ingin aku membawamu pergi, kan? Menyelamatkanmu dari Hendery," jelas Egry.
Chalodra mengangguk tanpa sadar. Memang, keinginan untuk pergi dari kediaman Hendery masih ada, sampai sekarang. "Tapi, aku rasa ... sekarang tidak perlu," ucap Chalodra sedikit gemetar. Melihat Hendery yang semalam, membuat perasaan aneh muncul dalam dirinya.
"Kamu mencintainya, Tha?" Seringai di wajah Egry, membuat Chalodra bergidik. "Kamu mengkhianati aku, Atha?"
Chalodra menundukkan wajahnya, Egry terlihat menakutkan. "Kamu ... bukan Egry yang aku kenal," lirih Chalodra.
"Ini aku, Atha. Ini aku ... yang asli. Tatap aku!" Namun, Chalodra tak sedikit pun mengangkat pandangannya. Egry geram, dengan kasar dia mendongakkan dagu Chalodra. "Lihat aku!"
"Atha sekarang sudah besar, ya?" Senyum miring itu, entah mengapa terlihat menjijikkan di mata Chalodra. "Kamu pasti sudah ... melakukan itu, ya?"
Chalodra memberontak, menepis tangan laki-laki itu dengan keras. Lalu berdiri, menjaga jarak dari Egry. Chalodra melangkahkan kaki menuju pintu, susah karena dikunci.
Egry berdiri mendekati Chalodra. "Ini sama seperti yang dilakukan suami kamu kan, Tha?" Egry mengangkat sebelah alisnya.
Chalodra berbalik, melihat kunci itu ada di tangan Egry.
"Egry, aku mau pergi!"
"Tidak bisa diralat."
"Aku mohon." Chalodra memelas, bulir air bening jatuh dari sudut mata Chalodra.
"AKU BILANG TIDAK, YA TIDAK!"
Air mata Chalodra semakin deras menetes di pipinya. Chalodra ambruk ke lantai, bertumpu dengan lututnya. Egry mendekat, memegang kedua lengan Chalodra agar dia bangun. Namun, Chalodra menepisnya, membuat Egry naik pitam. "Kamu berani sama aku, Cha!" Cengkraman Egry, tanpa sengaja menekan luka Chalodra.
"Sakit," lirih Chalodra.
Egry segera melepaskan cengkeramannya, lalu berdiri tegak. "Makan buburnya! Jangan keluar!" Setelah itu, Egry hilang dari hadapan Chalodra.
Egry masih punya hati untuk tidak melukai Chalodra. Sebenarnya, di dalam lubuk hatinya masih ada nama Chalodra. Egry menjalin hubungan dengan Sufia, agar dirinya dapat mengetahui informasi tentang Chalodra, yang sempat hilang dan membuatnya khawatir.
Lalu, ada sebuah perintah dari bosnya untuk menjadi mata-mata seseorang. Di situlah Egry tahu, suami Chalodra adalah Hendery, anak dari bosnya. Namun, saat ini dirinya menculik Chalodra karena kemauan sendiri.
Chalodra melahap semangkuk bubur itu dengan sedikit sesenggukan. Meski begitu, Chalodra merasa lapar karena belum sempat sarapan. Lalu, meminum segelas air hingga habis. Chalodra sangat percaya, tidak akan ada racun di dalam makanan ini. "Egry gak akan kasih racun buat aku," kata Chalodra sebelum melahap semuanya.
"Ruang inap VIP mawar satu," ucap Hendery.
Petugas pria paruh baya itu segera mencari dokumen dengan tempat tersebut.
CCTV itu dihidupkan kembali setelah tidak ada yang menempati kamar. Di ruang VIP mawar, hanya ada dua, Chalodra dan seorang ibu hamil.
Taka berdecak, lalu bersiul pada Hendery. Rekaman itu memperlihatkan Hendery dan Chalodra pelukan semalam. "Ekhem." Taka berdeham setelah mendapat tatapan tajam dari Hendery.
"Pukul 8 pagi tadi, Pak," ujar Hendery.
Terputar, saat itu Chalodra turun dari brankar dan berjalan ke kamar mandi. Bersamaan setelah itu, ada orang berpakaian serba hitam masuk. Chalodra keluar dari toilet dan orang itu membekap Chalodra, lalu mengendong Chalodra pergi.
"Siapa?" tanya Taka sambil mengetukkan jari di keningnya.
Hendery memijat pangkal hidungnya untuk meredakan rasa pusing. "Tunggu! Aku tahu pemilik rambut itu," cetus Hendery.
"Aku pernah melihat itu sebelumnya. Coklat dan agak keriting," sambung Hendery.
Benar, itu rambut Egry. Pria itu hanya memakai topeng wajah dan baju hitam biasa. Saat masih di luar, Egry bersikap layaknya keluarga pasien.
"Kita pergi sekarang," ujar Hendery melenggang pergi.
"Ke mana?" Namun, tidak mendapat jawaban dari kakaknya, yang sudah menghilang di balik pintu. "Terima kasih, Pak." Taka sedikit menundukkan tubuhnya sebelum pergi menyusul Hendery.
Hendery menancapkan stang gas begitu cepat, membuat Taka berpegangan dengan ngeri. Mobil hitam mahal itu membelah jalanan yang sepi, lalu berhenti di pinggiran. "Aku akan telpon Ibunya Chalodra dulu," ujar Hendery.
"Untuk apa?"
"Bertanya alamat rumah Egry."
"Egry? Siapa dia?" tanya Taka penasaran.
"Tangan kanan Papa, sekaligus mantan kekasih Chalodra," jelas Hendery.
"Kenapa Kak Hendery bisa berpikir dia yang melakukan itu?"
"Cerewet!" Adiknya itu memang tidak bisa diam jika penasaran. Balasan Hendery membuat Taka mengerucutkan bibirnya kesal.
.....
Anggara melangkahkan kaki lebarnya dengan tubuh tegak dan gagah. Meski sudah tua, rahang kokoh, serta ketegasan wajah Anggara tidak hilang. Dia membuka pintu, setelah mendapat informasi kamar inap Chalodra.
Di dalam sana, ada Tivani dan Andre yang berdiri di depan brankar. Sedikit mengintip ke tempat tidur, Chalodra tidak ada di tempatnya membuat Anggara mengerutkan dahi. Anggara berjalan mendekat. "Di mana Chalodra? Apa dipindahkan ke ruang lain atau sudah pulang, ya?" tanya Anggara.
"Tadi, sesampainya di sini, saya menghubungi Taka, adik saya. Dia bilang, Chalodra diculik seseorang," jelas Tivani.
"Apa?! Siapa yang menculiknya?"
"Belum dipastikan. Sekarang, Taka dan Hendery sedang perjalanan ke rumah orang yang dicurigai," ujar Tivani. Pipinya masih dibasahi air mata yang tadi menetes deras.
"Aku akan memberi Carlon pelajaran." Tangan Anggara mengepal kuat, pundaknya naik turun karena napas memburu. Anggara berbalik, henda melenggang pergi, tetapi dihentikan Tivani.
"Tunggu! Bukan Carlon tapi Egry!"
Anggara berbalik kembali, menghadap Tivani. "Siapa dia?"
"Mantan kekasih Chalodra."
Tivani menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan Andre. Sedikit merasa bersalah kepada para tamu undangan. Acara pertunangan itu sukses membuat gempar satu gedung. Gara-gara Papanya yang egois, lebih mementingkan dendamnya.