
Dari balik pintu, tidak disadari oleh dua wanita itu, Hendery mematung dan kedua tangannya mengepal. Memandang wajah sang istri dengan artian dalam. Lalu, dia melenggang pergi meninggalkan tempatnya.
Chalodra menghela napas panjang, menundukkan sejenak kepalanya dan mendongak menatap langit. "Jangan bilang sama Mas Hendery, ya?" ucap Chalodra. Bi Aya mengangguk singkat, meraih tangan wanita di depannya untuk digenggam.
"Tapi, Non Cha harus selalu hati-hati. Kasihan suaminya khawatir sama kamu," ujar Bi Aya.
Chalodra menatap manik wanita tua di depannya. "Aku akan selalu di rumah," gumam Chalodra.
Chalodra tidak ingin sang suami mengetahui bahwa dirinya bertemu Egry hari ini. Namun, siapa sangka Hendery mendengar obrolan rahasia sang istri dengan asisten rumah tangganya. Kini, lelaki itu berkutat dengan ponsel di balkon kamar, sambil berwaspada akan kedatangan Chalodra.
Saat panggilannya terhubung dengan Roi---anak buahnya, Hendery segera menjelaskan perintahnya. "Awasi rumah saya! Dia sudah menemui Chalodra."
"Sisanya, tugaskan ke rumah Egry!" perintah Hendery.
"Baik, akan saya lakukan," jawab Roi dari sebrang.
"Keselamatan istri saya, akan saya serahkan juga ke kamu. Ingat! Tidak ada kesempatan satu kali pun bila bekerja dengan saya."
"Baik. Saya akan menjaga kepercayaan Anda."
Setelahnya, Hendery mematikan panggilan sepihak karena emosinya pun sudah memuncak. Ponsel di tangannya digenggam kuat, melihat kosong ke arah depan. "Sial!" umpatnya. Dia memejamkan mata dan menjambak rambutnya sendiri.
"Mas Hendery sedang apa?" Suara Chalodra sontak mengejutkan Hendery, segera ia memasang wajah seperti biasanya. Sang istri berjalan mendekati, mengulas senyum tipis. "Sedang apa?" tanya Chalodra lagi.
Hendery menggelengkan kuat. "Bisnis," jawabnya. Tingkahnya seperti orang canggung. Hendery menggenggam tangan Cha, lalu berujar, "Cha, jangan keluar-keluar rumah, ya? Mas khawatir."
Chalodra sontak mengerutkan dahi. "Kenapa memang?" Alih-alih bertanya, Chalodra juga curiga suaminya itu sudah mengetahuinya.
"Jangan keluar saja. Mas mau kamu selalu istirahat di rumah."
Chalodra menganggukkan kepalanya. Hendery dengan cepat menarik istrinya ke dalam dekapannya, memeluk pinggang ramping itu dengan erat. "Ya? Mas mohon sama kamu, tetap di rumah!" seru Hendery.
"Siap." Chalodra mendongak, menatap wajah tampan sang suami yang mulai mendekatinya.
Hendery mendekatkan wajahnya dengan milik sang istri, menempelkan kedua hidung mereka. Saling melemparkan senyum tipis dan tatapan hangat yang begitu dalam. Hendery mencium sekilas bibir tipis Chalodra. Lalu, pria itu membelai lembut pipi Chalodra dan membawanya ke suasana lebih dari romantis.
Malam itu, bulan terang menyaksikan bersama bintang-bintang. Hembusan angin menambah kemesraan sepasang insan tersebut, dengan menerpa rambut panjang Chalodra hingga Hendery semakin jatuh dalam buaiannya.
Sinar matahari masuk melalui ventilasi. Awan melambung di langit biru, menjadikan suasana sejuk di pagi hari. Sedangkan pria tampan itu masih menutupi dirinya dengan selimut tebal. Chalodra sudah membangunkannya berulang kali, tetapi sang suami tak kunjung membuka mata.
Lagi, Chalodra akan mencobanya. Naik ke atas kasur dan duduk di samping tubuh sang suami, Chalodra membelai lembut rahang kokoh itu. "Mas, bangun! Sudah pagi, loh," tuturnya.
Hanya bernapas dan berdeham singkat. Hendery tidak bergerak sedikit pun hingga Chalodra menyerah dan memutuskan pergi. "Cha!" Suara lantang Hendery sontak menghentikan langkah Chalodra.
Chalodra menoleh, mendapati sang suami telah membuka mata dan duduk diam di kasur. "Jangan pergi ke luar, loh!" peringat Hendery.
"Makanya bangun!" sentak Chalodra. Lalu, dia membanting pintu dan pergi menuju dapur.
Hendery berdecak kesal. Dia telanjang dada, memperlihatkan perutnya yang masih berbentuk seperti roti. "Aku mau malas-malasan hari ini," gerutu Hendery. "Dua minggu lagi harus ke luar kota."
"Berlian itu tidak bisa dilewatkan," lanjutnya, kemudian kembali membanting tubuh dan memeluk guling. Laki-laki ini, Chalodra hebat karena bisa bertahan.
"Izin cuti. Katanya ada kenalannya menikah, jadi Bi Aya bantu-bantu di sana," jawab Chalodra.
Hendery mengangguk singkat. Mengukir senyum miring, dia berdiri di samping Chalodra. "Jangan buat aku kesal, Mas!" peringat Chalodra karena Hendery mencium lehernya.
Chalodra mulai menuangkan adonan ke dalam cetakan, kemudian memasukkannya ke dalam oven. Kini, dapur itu terlihat begitu kotor karena ulah Chalodra.
Siang ini matahari tidak begitu muncul, ditutupi oleh awan putih yang tebal. Kediaman Hendery sepi, hanya ada dirinya dan sang istri. Satpam pun berada di luar rumah, menjalankan tugasnya.
Chalodra membaca resep makanan, diantaranya terlihat sangat lezat, hanya melalui tampilan sepertinya cocok untuk kehamilannya. "Cha, brownies cokelat sepertinya enak," celetuk Hendery.
"Mau?" Hendery mengangguk dengan semangat.
"Oke." Chalodra beranjak pergi, mengambil cokelat batang di rak atas. Lalu, dia kembali untuk mencairkan cokelat tersebut.
Hendery mengendus, aroma wangi di tubuh sang istri. Rambut yang digerai itu, ia sisipkan ke belakang telinga Chalodra dengan jemari panjangnya. "Cha," panggil Hendery seperti merengek.
"Ya?"
"Kamu ...."
"Mas, lebih baik kamu pergi kalau menganggu seperti ini."
"Cha, jangan ketus sama Mas!" Hendery melingkarkan tangannya ke tubuh Chalodra, memeluknya dari belakang dan menempelkan dagunya di pundak sang istri. "Kamu tidak boleh marah-marah, Sayang!" Menciumnya leher mulus Chalodra, wanita itu segera menjauhkan Hendery dari tubuhnya.
Chalodra memasang wajah marah, tetapi seketika sirna kala melihat raut sang suami lebih menyeramkan. "Jangan ganggu aku, Mas! Kalau kuenya gagal jadi tidak enak, bagaimana?!" gerutu Chalodra.
Hendery tersenyum hambar, menggaruk tekuk lehernya. "Mas suka wangi kamu."
"Stop! Atau aku yang berhenti buat kue?"
"Iya! Jangan marah, Sayang!" Hendery lagi-lagi menarik tubuh Chalodra ke dalam pelukannya, menggoyang-goyangkan ke kanan dan ke kiri. "Cha, Mas cuma mau romantis sama kamu," katanya.
"Boleh. Tapi, bukan sekarang."
Bukannya melepaskan, Hendery justru mengeratkan pelukannya, tetapi Chalodra pun enggan menolak. Hendery mengecup pucuk kepala sang istri begitu lama, Chalodra juga semakin menyusupkan wajahnya ke dalam dada bidang Hendery.
Ada rasa takut dalam diri Chalodra, akan seseorang yang menganggu pikirannya sejak kemarin. Sama seperti Hendery, dia pun khawatir akan keselamatan sang istri. "Kamu jangan lelah-lelah! Ingat, kamu sedang hamil!" ujar Hendery.
"Aku tidak lelah, kok. Aku senang melakukannya."
Chalodra mendongak, mengamati setiap inci wajah sang suami dari jarak sedekat ini. Benar-benar sempurna. Hendery mendekati, menempelkan kedua hidung mereka. Chalodra pun memejamkan mata.
Tok tok tok
Suara ketokan pintu yang keras itu pun menggagalkan acara mesraan mereka. Hendery berdecak. "Aku lihat dulu," ucap Hendery.
Dalam langkahnya, Hendery menggerutu, "Siapa, sih?! Ganggu!"
Saat membuka pintu, Hendery semakin dibuat kesal dengan tamu yang sangat menganggu itu. "Taka?"