
Note: Sensitive content!
...SELAMAT MEMBACA...
"Maaf, Kak. Aku memang punya hubungan spesial dengan Egry."
Chalodra mengangguk pelan, lalu apa yang harus dirinya buat? Marah, tidak akan bisa dilakukan seorang Chalodra kepada adiknya sendiri. Chalodra menyentuh lengan Sufia dan mengelusnya lembut. "Kamu harus pilih teman hidup yang baik," ucap Chalodra.
Sufia mengernyitkan dahi. "Maksud Kak Chalodra apa? Egry tidak baik?" Wajah Sufia terlihat tidak suka dengan perkataan Chalodra. Setelah Chalodra menggeleng, dengan kasar Sufia menepis tangan Chalodra. "Aku tahu, dia memang selingkuh. Tapi itu dia lakukan karena Kakak menghilang."
"Fia, kamu mengenalnya hanya sebatas pacar Kakak. Selebihnya kamu gak tahu," tutur Chalodra.
"Gak. Kakak gak bisa bilang seperti itu! Aku menjalin hubungan tiga bulan dan aku juga sudah tahu rumahnya."
Wajah Sufia merah padam, tentu saja dirinya tidak terima kekasihnya disebut seperti itu. "Kakak gak berhak larang aku." Penekanan itu menyayat hati Chalodra.
"Kamu gak tahu kan, Sufia? Kalau yang menculik Chalodra waktu itu adalah Egry." Suara berat itu, membuat Sufia terbelalak kaget. Hendery mendudukkan tubuhnya di sofa, menyorot tajam dua perempuan itu. "Dan Egry, pacar kamu itu adalah tangan kanan orang yang ingin membunuh Kakak kamu."
Sufia semakin dibuat kaget, tangan kanannya membungkam mulutnya sendiri yang terbuka. Sufia beralih, menatap Chalodra dengan sendu. Dia sudah marah-marah pada kakak di depannya itu. "Kak," panggil Sufia lirih. Chalodra menanggapinya dengan senyum tipis, lalu membawa adiknya ke dalam pelukannya.
Sejauh ini, Sufia sebagai anak bungsu, paling menyayangi Chalodra, dibandingkan Silvia. Chalodra itu selalu bisa bila dimintai tolong, daripada Silvia yang jarang di rumah. Namun, sifat Sufia dan Chalodra jauh berbeda, Chalodra lebih suka di kamar, sedangkan Sufia suka berbelanja di mall.
.....
Taka duduk di kursi membiarkan Hendery tetap berdiri. Mereka sedang berada di ruang kerja Hendery, tepat di sebelah kamarnya. Dua laki-laki itu tengah terlibat obrolan serius, tentang Carlon.
"Jadi, keberadaannya masih belum ditemukan?"
Taka menggeleng. "Terakhir kali dia ada di rumah."
Hendery berdecak pelan, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku harus segera pindah," kata Hendery. Dia melangkah kecil ke sebuah almari besar, menyandarkan punggungnya di sana.
"Pasti alasanmu pindah rumah di dalam hutan bukan hanya karena jauh dari jangkauan Papa. Tapi, Kakak ingin berduaan, kan?" Taka mengangkat alisnya, menggoda kakaknya itu.
Hendery melebarkan matanya, melotot pada Taka. "Jajan bulanan di potong?" Sebelah alisnya terangkat, membuat Taka bergidik ngeri.
"Bercanda, Kak."
"Kita harus segera mencari tahu keberadaannya, sebelum pria tua itu bertindak lebih jauh," kata Hendery.
"Iya. Sana, pergi cari!" pinta Taka. Laki-laki itu melipat kedua tangannya di depan dada, lalu meraih secangkir kopi di atas meja.
"Hey, ini ruangan siapa? Siapa yang seharusnya mencari?" Hendery berjalan mendekat, berdiri menjulang tinggi di samping laki-laki itu.
Taka bergidik, menjadi patung seketika. Taka berdiri dari duduknya, lalu memberi hormat sang kakak. "Baik, aku akan mencarinya. Permisi." Taka berlari dengan gugup keluar ruangan. "Selamat," ujarnya berhasil kabur dari amarah Hendery.
.....
Setelah dari rumah Chalodra dan mendapatkan sebuah kebenaran, Sufia menghentikan mobil yang dikendarainya di depan rumah Egry. Dua penjaga menyambut kedatangan Sufia, mereka sudah terbiasa dengan hal itu.
Sufia melangkahkan kakinya ke dalam rumah, yang sudah menjadi rumahnya sendiri. Sufia tidak melihat tanda-tanda adanya Egry. Namun, sayup Sufia mendengar seperti suara tembakan di dalam kamar Egry.
Sufia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu per satu. Dengan perasaan gugup, Sufia tetap menuju sumber suara. Saat sampai di depan pintu, Sufia mematung sejenak untuk mendengarkan baik-baik.
Napas Sufia memburu. Dengan gerakan cepat, tangannya membuka pintu.
Brak
Bersamaan dengan bantingan pintu, Egry berbalik. Sebuah pistol berada di tangannya, laki-laki itu sekarang berdiri membelakangi pintu, menatap tajam mangsanya. Napas Sufia tercekat, sebuah foto di tembok itu membuat jantung Sufia berdebar.
"Jangan, Egry!"
"Kamu sudah tahu. Siapapun yang tahu, akan aku bunuh." Suara berat itu, terdengar menakutkan.
Egry menarik tangan Sufia, mengunci pergerakan gadis itu. Egry menyeringai. "Dari awal, aku hanya ingin mendapatkan informasi tentang Chalodra darimu," ujar Egry.
"Lepas!" Sufia memberontak, memukul dada Egry dengan keras, tetapi nihil. Egry mencengkram kedua tangan Sufia, membuat dahi gadis itu bertatapan dengan tembok.
Di luar kamar, rumah yang sepi penghuni. Egry memang tinggal sendiri, karena dia sudah menjadi pemuda sukses.
Sufia merintih kesakitan, keningnya terasa di tekan. Cengkraman Egry terlalu kuat. Jantung Sufia seakan berhenti, melihat pistol itu menempel di dahinya. Sufia tidak bisa bergerak, bahkan bernapas saja rasanya berat. "Lepasin aku!"
Seakan tuli, Egry tidak menggubrisnya. Laki-laki itu tersenyum miring. "Aku tidak akan menyakiti Chalodra, jika dia tidak menolakku."
"LEPAS, BRENGSEK!" Bentakan Sufia membuat laki-laki itu kesal. Dan ....
DOR
Tubuhnya meluruh ke lantai. Darah segar mengucur deras keluar dari kepalanya. Egry tersenyum puas, tidak akan ada hambatan lagi setelah ini. "Dasar murahan," umpat Egry. Lalu, laki-laki itu menggotong Sufia keluar rumah.
Detak jantungnya tidak lagi terasa. Oksigen sepertinya habis, Sufia memejamkan mata dan tidak akan membukanya. Begitu tidak berhati seorang Egry. Sufia menghembuskan napas terakhirnya, di neraka Egry.
.....
Malam terasa begitu dingin karena hujan mengguyur. Sejuknya angin membuat Chalodra mengenakan jaket tebal, milik suaminya. Suara petir beberapa kali terdengar, tetapi Chalodra tidak takut.
Hendery masuk, dia baru saja merokok di balkon. Laki-laki itu mengeluarkan koper kuning dari kolong ranjang. Melihat itu, Chalodra yang sedang bermain handphone Hendery, beranjak turun. "Mas, mau ngapain?" tanya Chalodra.
"Besok pagi kita pindah," jawab Hendery sambil tersenyum tipis. "Kita harus menyiapkan baju malam ini."
"Koper aku, mana?"
"Di bawah kolong." Hendery mendekati almari, membukanya. "Tapi, tidak usah. Pakai satu koper saja cukup. Mas tidak akan membawa semua baju Mas."
"Mas akan sering-sering ke sini?" Hendery mengangguk.
"Ini rumah peninggalan Mama aku, Cha." Laki-laki itu terlihat mengemas pakaian Chalodra, hingga sampai baju dalam.
Melihat Hendery memutar benda itu, Chalodra melebarkan matanya. "Mas! Biar aku saja!" pekik Chalodra.
Chalodra panik, dia merebut benda itu dari tangan Hendery. "Mas nakal."
"Sudah, Cha. Biar Mas saja, tangan kamu masih sakit," tutur Hendery.
"Tapi jangan dimainkan seperti itu!" Mata besar dan bulat milik Chalodra, seakan menghipnotis Hendery.
Hendery mengangguk kepalanya, membuat Chalodra berdiri dari jongkok.
.....
Derasnya hujan dan gemuruh angin malam membuat suasana semakin mencengkram. Ratu yang sedang bersiap untuk tidur, mendengar ketukan pintu dari luar. Ketika membuka pintu, tidak ada siapapun. Namun, peti mati putih berada tepat di depan pintu. Seketika, Ratu merinding.
Ratu meneguk ludah dengan keras. Dengan sedikit takut dan berat hati, Ratu mendekatinya, mencari kunci untuk membukanya.
Saat peti itu dibuka, napas Ratu tercekat. Wajah cantik putri bungsunya yang pucat, tanpa napas, dan tersenyum tipis. Ratu mundur selangkah, lalu berteriak keras, "Aaaaa!"
Silvia yang berada di dapur mendengar dengan jelas suara ibunya berteriak. Silvia berlari menghampiri.