
"Tidak kenal." Pras gelagapan. "Saya akan pulang dengan Bunga," ujarnya. Lalu, dia melangkah ke dalam rumah dan keluar bersama Bunga.
Pras berhenti di depan Hendery, kemudian berujar, "Saya permisi." Lelaki itu menggandeng tangan sang putri dan membawanya pergi.
Chalodra melihat kepergian mereka dengan kebingungan. Pras tiba-tiba masuk dan mengajak Bunga pulang, padahal gadis tersebut tengah makan kue. "Kenapa, Mas?" tanya Chalodra.
Hendery menggelengkan kepala sebagai jawaban. Lalu, dia melenggang masuk meninggalkan Chalodra yang masih kebingungan. Chalodra menggaruk tekuk lahirnya melihat hal aneh ini.
Bukan Hendery kalau tidak mudah penasaran. Dia langsung membuka laptop untuk mencari tentang Pras, yang juga merupakan teman masa remaja Chalodra. Membuka media sosial Chalodra untuk mendapatkan informasi tentang lelaki itu. Hendery menatap layar benda tersebut dengan serius.
.....
Chalodra baru saja selesai memasak makanan untuk siang ini. Segera dia naik ke atas untuk memanggil sang suami, yang mengemas barang-barangnya. Chalodra membuka pintu, disapa oleh senyum hangat Hendery. "Semangat banget siap-siapnya. Padahal tiga hari lagi," ujar Chalodra, duduk di samping suaminya.
Hendery memasukkan beberapa baju ke dalam koper, yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Dia merangkak di atas kasur untuk dapat duduk di samping sang istri. Menggapai tangan Chalodra, mengecupnya sekilas. "Ditinggal sebentar tidak apa-apa, ya?" ucap Hendery.
Chalodra menarik kedua sudut bibirnya, mengangguk pelan, dan membelai lembut wajah tampan Hendery. "Asalkan Mas pulang," katanya.
Keduanya saling menatap dengan dalam, Hendery menundukkan kepalanya merasakan sapuan hangat di pipinya. Jemari lentik Chalodra, selalu membuatnya terbuai. "Sudah! Ayo, kita makan siang!" ajak Chalodra. Dia berdiri dari duduknya. "Aku tunggu di luar."
Hendery mengangguk singkat, kemudian Chalodra menghilang di balik pintu. Lelaki itu menghela napas panjang, membanting tubuhnya ke belakang. "Kalau bisa aku tidak usah pergi. Jauh dari kamu itu sulit, Cha," kata Hendery.
Lelaki itu tidak peduli seberapa buruknya dia di masa lalu, sekejam apa perlakuannya terhadap istrinya yang sekarang itu. Dia lupa, dahulu selalu kasar hingga membuat Chalodra menangis setiap saat. Namun, Hendery benar-benar berubah, menjadi lebih peduli dan romantis. Bahkan, Hendery telah jatuh cinta dengan Chalodra.
Meski sekarang tidak ada yang lagi ancaman akan dibunuhnya putri bungsu Anggara, Hendery akan melindungi Chalodra, istri berharganya.
Begitu banyak menu makan siang hari ini. Nasi, ayam goreng, dan sayur sup. Ah, begitu sederhana hidangan istri Hendery. Chalodra sudah menyiapkan porsi untuk sang suami, dengan cepat Hendery melahapnya.
"Bi Aya ke mana?" tanya Hendery.
"Tidak enak badan. Jadi, aku suruh istirahat saja," jawab Chalodra.
Chalodra ikut duduk di samping Hendery, mengambil porsi makan siang untuknya. "Enak tidak?" Hendery mengangguk cepat membuat senyum Chalodra mengembang.
Menyuapi mulutnya dengan sendok penuh nasi, hal aneh terasa di perutnya. Chalodra sontak memegangi perut buncit itu. "Mas," lirih Chalodra.
Hendery membulatkan mata, segera meletakkan sendok ke piring. "Kenapa?"
"Seperti mulas," ucap Chalodra.
"Ayo, kita ke rumah sakit!" Hendery segera mengendong Chalodra dan membawanya ke mobil.
Hendery melaju kencang dengan mobilnya, sedangkan Chalodra masih memegangi perutnya dan meremas bajunya. "Mas," rengek Chalodra.
"Sabar, Cha! Sebentar lagi sampai," ujar Hendery. Dia melirik ke arah Chalodra, jantungnya berdetak kencang karena khawatir melihat istrinya kesakitan seperti itu.
Seperti keajaiban, setelah perut Chalodra disentuh oleh dokter yang menangani, sakit tersebut langsung hilang. "Hanya kontraksi palsu, tidak perlu khawatir. Tapi, bila terjadi lagi, tolong segera diperiksakan," jelas bu dokter.
"Jadi, bayi saya tidak apa-apa, Dokter?" tanya Chalodra.
Dokter cantik tersebut mengangguk sembari tersenyum. "Saya ambilkan vitamin dulu, ya? Agar bayi dan ibunya selalu sehat," ujarnya. Lalu, dokter tersebut melenggang pergi.
Chalodra menghela napas lega, menggenggam tangan suami yang berdiri di sampingnya. "Aku takut, Mas!" celetuk Chalodra.
Hendery mengusap pucuk kepala Chalodra. "Tidak apa-apa," ucap Hendery.
Chalodra sudah mendapatkan penanganan dan memutuskan segera pergi dari rumah sakit. Cuaca hari ini terasa begitu dingin. Seseorang menghentikan langkah Chalodra dan Hendery dengan cara mencegat jalannya.
"Hai," balas Chalodra.
Bayu cengengesan, dia tidak pernah berubah. "Ini, undangan untuk kamu!" ujarnya sembari menyodorkan sebuah kartu kepada Chalodra. "Datang, ya!"
"Undangan siapa?" tanya Chalodra, membolak-balikan kartu tersebut.
Bayu kecewa, temannya tidak langsung paham. Dia berdecak kesal, kemudian menarik napas panjang. "Aku menikah minggu depan," kata Bayu.
Chalodra sontak membulatkan mata. "Akhirnya, ada yang mau sama kamu," celetuk Chalodra. Dengan cepat, Hendery menyenggol lengan istrinya.
Ucapan Chalodra membuat Bayu memasang wajah malas. "Aku ini seorang dokter tampan, siapa yang tidak mau?" ucap Bayu dengan percaya diri.
"Aku," jawab Chalodra cepat.
Sepulang dari rumah sakit, Chalodra langsung pergi ke kamar untuk tidur. Hari yang panjang dan melelahkan. Hendery mengecup sekilas kening Chalodra, kemudian berbisik lembut di telinga nya. "Mas keluar sebentar."
Chalodra tidak membuka matanya, mungkin sudah lelap dan jauh memasuki alam mimpinya.
Di bawah langit gelap, Hendery menemui Roi yang sudah menunggu di depan rumahnya. Hendery dan lelaki itu sudah memiliki sebuah janji untuk pergi ke rumah seseorang.
Roi mengemudi mobil Hendery, membawanya bosnya ke rumah lelaki yang dimaksud.
Mengawasi dari jarak jauh. Hendery mengamati rumah sederhana itu dengan saksama.
Rumah cat biru muda, tidak terlalu besar, terdapat halaman kecil di depannya, dan juga berpagar. Kediaman Egry, berbeda jauh dari sebelumnya. Mungkin, lelaki itu terlilit hutang sehingga menjadi kurang kaya, atau bahkan karma dari perbuatannya.
Kini, Hendery sudah tahu rumahnya. Melalui mobil, terlihat Egry keluar dari dalam, kemudian pergi dengan motor. "Ikuti dia!" pinta Hendery.
"Baik," jawab Roi.
"Mau ke mana dia?" gumam Hendery.
Mobil Hendery mengikuti Egry, hingga target berhenti di sebuah toko. "Tempat apa?" tanya Hendery.
Roi melihatnya. "Sepertinya toko bunga."
Benar kata Roi, tempat yang dimasuki Egry tersebut merupakan toko bunga. Lelaki itu membawa keluar buket cantik bunga mawar. "Untuk siapa?" tanya Hendery lagi.
"Saya tidak tahu," jawab Roi. Hendery melirik ke arahnya dan berdecak kesal.
"Ikuti lagi!"
Ternyata, Egry tidak pergi ke mana-mana lagi, lelaki itu kembali ke rumahnya membuat Hendery mengajak Roi untuk pulang.
Pagi yang cerah, Chalodra pergi keluar untuk menghirup udara segar. Namun, sesuatu tergeletak di depan pintu membuatnya mengerutkan dahi. "Bunganya siapa?" Chalodra mengambil buket bunga tersebut.
Terdapat secarik kertas merah di sana. Bertuliskan 'Untuk Nona Chalodra'.
"Mas!" Chalodra berteriak memasuki rumah. Hendery yang tengah meneguk kopi di dapur, segera menoleh. "Ada bunga ini di depan pintu," ujarnya.
Hendery sontak membulatkan matanya. Bunga yang mirip, seperti yang dibeli Egry semalam.
...🐰...