I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
28. Roti gosong



Awan sepertinya enggan membuka tirai, ia menyembunyikan matahari. Langit menjadi mendung karenanya.


Alat dan bahan untuk memasak sudah siap di atas meja. Chalodra dengan semangat mengaitkan tali apron di tubuhnya, agar baju yang dikenakan tidak terkena noda. Namun, Hendery terlihat kesusahan dengan benda itu.


Melihat Hendery, Chalodra berdecak dengan senyum manis di bibirnya. "Kamu lemah dengan hal seperti ini, Mas," ucap Chalodra. Dia berdiri di depan Hendery, seakan memeluk untuk mengaitkan tali apron. Chalodra mendongak, menatap wajah datar suaminya. "Kita buat kue apa?" tanya Chalodra sambil mengikis jarak.


"Kue awan?"


Chalodra mengetuk dahinya, berpikir apa yang dimaksud Hendery. Manik Chalodra melebar mendapatkan sebuah jawaban. "Cloud breat?" tanya Chalodra memastikan, Hendery mengangguk.


"Siap! Ayo, kita buat!" Dengan sigap, Chalodra mengambil mangkuk untuk membuat adonan. "Aku butuh putih telur," ujar Chalodra.


Hendery paham, karena fungsi dirinya di sini adalah membantu istri. Hendery mengambil beberapa butir telur. Hendery memecahkannya, lalu mengambil bagian putih dan diletakkannya di sebuah mangkuk.


"Eh, bukannya tidak usah tepung," pekik Chalodra mengurungkan niatnya untuk menuang tepung ke mangkuk. Chalodra mendekati Hendery yang dengan telaten memisahkan bagian putih dari kuning. "Sudah?"


Hendery menegakkan tubuhnya, lalu mengangguk pada Chalodra.


Chalodra mengambil mangkuk itu, lalu berjalan ke belakang mengambil sebuah mixer. "Setelah adonan jadi, tinggal di kasih pewarna dan siap dioven," jelas Chalodra.


Chalodra menopang dagu dengan tangannya, mengamati mixer yang berputar-putar. Sedangkan Hendery, laki-laki itu memandangi Chalodra, begitu manis.


Chalodra memberi pewarna, sebuah warna yang menyala. "Cha, kamu sangat terobsesi dengan warna pink?" tanya Hendery. Chalodra mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari oven.


"Selain kue awan, aku juga mau goreng keripik tempe," ujar Chalodra.


Chalodra melumuri potongan tempe dengan tepung, agar terasa krispi. Setelah memasukkan tempe ke minyak panas, Chalodra menjauhkan diri. Dia melepaskan apron dari tubuhnya. "Mas, kalau sudah matang, nanti diangkat, ya? Aku mau ke atas," ucap Chalodra.


Hendery hanya mengangguk. Laki-laki itu memandangi minyak mendidih sedang mengosongkan tempe. Hendery menghembuskan napas panjang, kepalanya terasa berat. Hendery memijat pangkal hidungnya dengan jari. "Rokok sepertinya akan meredakan ini," ujarnya.


Sepertinya pria itu lupa dengan sesuatu. Hendery melangkahkan kaki, pergi dari dapur.


Chalodra mengikat rambutnya sembari berjalan menuruni tangga. Beberapa menit lalu, dia baru selesai membuang beban yang melilit di perutnya. Chalodra menghela napas lega, sebelum sampai di dapur. Kedua mata Chalodra melebar. "Astaga," pekik Chalodra menutup mulut dengan tangan. "MAS!"


Teriakan Chalodra membuat Hendery kaget dari santainya. Laki-laki itu membuang putung rokok ke tanah, tidak lupa menginjaknya. Hendery berlari kalang kabut mendengar suara Chalodra. "Ada apa, Cha?" tanya Hendery. Pandangannya tertuju pada sebuah wajan hitam yang mengeluarkan kepulan asap.


Api yang membara itu melahap tirai yang tadinya terbuka. Hendery berlari dan langsung menyiram api dengan air. Gosong sudah keripik tempe itu. Chalodra menganga tidak percaya melihat kue di dalam oven. Chalodra tersenyum hambar, "Lihat? Kue dan tempeku sudah gosong."


Ada warna hitam di tembok putih itu. Ini kali pertama Hendery menggerakkan tangannya di dapur dan berujung kebakaran.


.....


"Maaf, Cha," ujar Hendery, lagi.


Sudah beberapa kali Chalodra mendengar kalimat itu keluar dari mulut Hendery. Chalodra hanya menunduk, menatap daging panggang di piring.


"Iya, Mas! Sudah aku maafkan!"


"Tapi wajah kamu terlihat kesal, Cha."


Chalodra mengangkat pandangannya, menatap lekat laki-laki di hadapannya itu. "Aku hanya sedikit kecewa, Mas, kita tidak jadi makan kue." Chalodra menundukkan kepalanya. Tangannya bergerak menusuk garpu ke daging, lalu dengan kesal memasukkan ke mulut.


"Kita beli saja, bagaimana?" Chalodra mengangguk.


Dua orang itu sedang berada di sebuah restoran yang terletak sangat jauh dari rumah. Padahal, Chalodra tadi mengajak Hendery makan di cafe, tetapi Hendery membuat alasan 'nanti ada Carlon'. Hingga Chalodra hanya bisa menurut.


Mewah, tidak ada yang memakai kaos biasa. Semua pengunjung berpenampilan elegan, layaknya tami spesial. Mungkin hanya Chalodra, karena dia hanya memakai dress hitam selutut, sedangkan Hendery kemeja hitam tanpa jas.


Hanya ada suara alat makan, dan beberapa bisikan. Chalodra sudah berangan-angan makan kue di balkon bersama Hendery dengan mesra. Namun, semuanya hancur. Tidak mungkin dinner romantis dengan kue dan tempe gosong.


Selesai sudah acara makan dua orang itu. Chalodra menatap lurus mobil yang dikendarai Hendery tengah membelah jalan. Birunya langit mulai memudar, digantikan jingganya senja. Chalodra merasa senang, sekarang kegiatannya tidak dibatasi.


"Mas!" teriak Chalodra, tentu saja membuat Hendery kaget dan menginjak rem.


"Apa, Cha?" Hendery melebarkan matanya, memastikan istrinya itu baik-baik saja.


Wajah Chalodra terlihat kaget, tetapi ada senyum yang perlahan terbit. "Toko kue!" pekik Chalodra menunjuk sebuah toko kue, di sebrang jalan.


Hendery menghela napas gusar, lalu tersenyum tipis. Sebenarnya, ingin sekali mengigit pipi Chalodra saat ini juga. "Tidak harus berteriak seperti itu, Cha." Hendery memutar setir untuk menyebrang.


Manik Chalodra berbinar melihat kue-kue yang dikeluarkan dirinya dari dalam paper bag. Chalodra tersenyum girang meletakkan potongan kue di atas piring. "Sayang sekali tidak ada kue awan," gumam Chalodra.


Manisnya kue, terasa lebih manis apabila dinikmati sambil melihat wajah Chalodra, dan itu hanya bisa dilakukan Hendery seorang. "Manis, Mas?" tanya Chalodra.


Hendery mengangguk. "Manis sekali," jawab Hendery menatap lekat wajah istrinya.


Mereka berdua duduk lesehan di lantai balkon. Terlihat langit senja dari atas. Kebetulan, Hendery masih belum mengisinya dengan banyak tanaman, hanya ada satu pot berisi mawar.


Chalodra mengukir senyum hingga matanya menyipit, menyuapi kue suaminya, dan dirinya sendiri. "Meski bukan kue awan, tetap membuat aku terbang," kata Chalodra.


"Meski kue ini manis, Chalodra istriku lebih manis," sambung Hendery. "Cha, makannya kok belepotan?"


Manik Chalodra membesar, lalu berujar, "Aku ambil tisu dulu, ya?" Chalodra hendak berdiri, tetapi tangan besar Hendery mencengkram tangan Chalodra.


Hendery mendekatkan wajahnya ke pipi Chalodra, lalu mencium hingga cream kue itu hilang. "Manis," kata Hendery.


Pipi Chalodra memanas, benar-benar tisu dengan kualitas tinggi.