I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
25. Ditutup



...SELAMAT MEMBACA...


"Bos, kabar terbaru."


"Sasaran pergi ke luar negri pagi tadi. Sepertinya dia mengetahui sedang dipantau, jadi dia melarikan diri saat merasa ada kesempatan."


"Sudahi semua. Keluarga korban mencabut tuntutannya," kata Hendery.


Setelah itu, dia kembali masuk ke dalam ruangan dengan disambut senyum manis Chalodra. Hendery mendudukkan pantatnya di sofa kecil, bersebelahan dengan Kevin. "Anda benar-benar memaafkan?" tanya Hendery, berbisik pada pria itu.


"Saya tidak akan pernah memaafkan siapapun itu pelakunya. Meski Ratu ingin menyudahi penyelidikan ini, tetapi saya tidak."


"Suatu hari bila tertangkap pelakunya, saya akan membunuhnya. Persis seperti apa yang dia lakukan pada anak saya," sambungnya.


"Saya akan bantu menyelidiki. Saat ini Egry menjadi tersangka."


Beberapa jam yang lalu, Abra dan Brata datang. Sama seperti informasi yang dimiliki Hendery, dua laki-laki itu mengatakan Egry melarikan diri ke luar negri. Merasa hal ini akan sia-sia karena Ratu mengenal betul kelicikan Egry, Ratu memutuskan untuk menyudahi.


"Ini demi kenyamanan Sufia," kata Ratu.


"Kamu memang memaafkannya, tetapi suatu hari saya akan membunuhnya," lanjut Kevin.


Kevin termasuk orang pendendam, karena dulunya dia sering dibully semasa SMP. Kevin juga mantan rentenir, saat mengalami kebangkrutan. Setelah mendapatkan modal, Kevin membuka usaha tas dan sekarang menjadi terkenal.


.....


Banyak orang berjualan makanan sehat di sini. Chalodra baru saja memesan nasi untuk makan malam. Matahari sedang bersembunyi, membuat langit berwarna jingga.


"Cha, aku angkat telpon sebentar, ya?" Hendery berdiri dari duduknya. Setelah mendapat anggukan dari Chalodra, Hendery melenggang pergi ke luar kantin.


Chalodra masih menunggu pesanannya datang. Terlihat sepi karena hari menjelang malam. Terdengar sayup kicauan burung di atas atap. Beberapa orang melalui kantin, tidak berminat untuk mampir. Chalodra mendesah pelan, rasanya melelahkan.


Tidak lama, pesanan Chalodra datang. "Terima kasih," kata Chalodra memberikan uang tunai pada penjual itu.


Chalodra melangkahkan keluar. Dia mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Hendery. Namun, laki-laki tidak menampakkan diri. Chalodra berdecak pelan. "Pasti lupa kalau aku masih di sini," gumam Chalodra.


Chalodra memutuskan untuk pergi saja, kembali ke ruang inap ibunya.


Koridor itu sepi, lampu redup menemani perjalanan Chalodra. Menaiki lift sendiri, terasa menakutkan. Setelah ini, Chalodra akan memarahi Hendery habis-habisan, menyebalkan. Chalodra berpapasan hanya dengan dua orang, sampai akhirnya di lantai tiga.


Ratu menginap di kelas VIP. Terlihat orang di depan pintu sana. Dinding kaca itu membuat keadaan di dalam terlihat dari luar, tirai itu sedikit terbuka. Chalodra mengerutkan dahi. "HEY!" teriak Chalodra memanggil, tetapi orang itu berlari kabur.


Chalodra takut. Orang berpakaian serba hitam itu menghilang di balik tembok. Chalodra mengerutkan dahi, bibir dalamnya dia gigit kuat-kuat. Tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri dan tengkuk lehernya meremang.


"Cha." Chalodra tersentak kaget, sontak berbalik. Hendery berdiri di hadapannya, dengan senyum tipis. "Kenapa Mas ditinggal?"


"Mas yang tinggalin aku!" Chalodra mengerucutkan bibirnya. Kesal sekali. "Aku takut tahu!"


Chalodra mengangguk pelan. "Mas, tadi ada orang ngintip dari luar." Matanya membesar, menjelaskan bahwa dirinya bersungguh-sungguh.


"Siapa?"


"Tidak tahu. Dari postur tubuhnya laki-laki, pakaiannya serba hitam. Waktu aku teriaki, dia kabur."


"Mungkin hantu."


"Mas!" Chalodra merengek. Kenapa suaminya itu malah menakutinya? "Aku marah!" Chalodra berdecak, menghentakkan kakinya ke lantai. Lalu dia masuk ke dalam, tidak menggubris Hendery.


.....


Sejak tadi, Chalodra tidak bisa diam. Dia bolak-balik ke kamar mandi yang berada di dalam ruangan. Silvia pulang saat sore tadi, untuk istirahat sejenak. Malam ini, giliran Chalodra dan Hendery yang jaga.


Rasa kantuk itu sangat menganggu. Hendery mengerutkan dahi, melihat Chalodra seperti itu. Ratu sudah terlelap dalam tidurnya lima menit lalu. Chalodra mendudukkan tubuhnya di sofa. "Kamu kenapa?" tanya Hendery.


Laki-laki itu meletakkan ponselnya di samping, mengelus rambut Chalodra dengan lembut. Chalodra mengerucutkan bibir. "Ngantuk tapi tidak bisa tidur," katanya.


"Kenapa? Ada yang menggangu pikiran kamu?"


Chalodra mengangguk pelan. Keduanya melemparkan tatapan yang sangat dalam. Tampan. Chalodra tidak bisa menolak pemandangan indah di depannya itu. "Gara-gara orang tadi. Aku masih kepikiran, Mas. Kalau itu Papa kamu, bagaimana?"


Cantik, meski matanya membengkak. Ini yang membuat Hendery tergila-gila dengan Chalodra. Bibirnya ketika mengerucut. Hendery tersenyum tipis, lalu menarik kepala Chalodra ke dalam dadanya. "Kamu tenang saja. Besok Mas akan cari tahu."


"Mungkin, orang itu mencari kamar seseorang dan mengecek kamar Ibu Ratu," sambungnya.


Chalodra menghela napas berat. Dia mengeratkan pelukan itu, hangat. Bibirnya masih mengerucut, membuat Hendery sedikit kesal. "Cha, bibirnya mau Mas cium?"


Dengan gerakan cepat, Chalodra mengatupkan bibirnya kuat. Dia mendongak, mata bulatnya hampir tidak terlihat karena pelupuk yang membesar. "Tidur! Serem lihat mata kamu seperti itu," celetuk Hendery.


Memang, kemarin malam Chalodra menangis tiada henti, disambung saat pemakaman Sufia. Ditambah lagi Ratu dibawa ke rumah sakit, membuat hati kecil Chalodra sesak.


"Mas, kita tidak jadi pindahan, ya?"


"Tunggu keadaannya normal ya, Cha!"


Jemari kecil Chalodra bergerak menggambar bulatan di dada bidang Hendery. Terasa keras, tetapi nyaman. "Janji, ya? Kalau kita pindah, aku boleh keluar kamar."


Lagi dan lagi, suara lembut itu terasa menyayat hati keras seorang Hendery. Rasanya sesak, bahkan ada rasa bersalah pada istri kecilnya itu. "Mas janji."


...BUDAYAKAN LIKE! KARENA ITU SANGAT BERARTI. ...


...JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR! ...