I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
69. Hendery sudah rindu



Hendery merasakan sesuatu tidak enak dalam dirinya. Khawatir akan keadaan. Dia duduk di sofa, yang terdapat di sudut ruangan. Kamar hotel gelap menjadi miliknya seorang, sedangkan rekannya berada di kamar sebelah. Hendery mengeluarkan ponsel dari dalam saku untuk menghubungi kekasihnya.


Lama menunggu panggilannya diangkat, Hendery menaikkan kakinya ke atas meja. Namun, tak kunjung diterima, Hendery mematikannya. "Ke mana Chalodra ini?" Hendery menggerutu. Lalu, dia mencoba menghubungi lagi.


Hingga akhirnya, Chalodra menerima panggilan dari Hendery membuatnya menghela napas lega. "Cha, kenapa lama angkat telponnya?" tanya Hendery. "Mas rindu, tahu!"


Chalodra di sana tidur di atas kasur, terpaksa bangun karena dering ponselnya. "Masa baru bertemu tadi pagi sudah rindu," balas Chalodra. "Aku sedang tidur, Mas."


"Tumben. Biasanya belum tidur, kamu lelah?"


"Aku tidak enak badan, Mas."


Hendery melebarkan mata, menurunkan kaki dari meja dan berdiri dari duduknya. "Sakit?!"


"Sepertinya flu, sampai kepala aku pusing," ungkap Chalodra.


"Mas akan pulang sekarang, Cha." Hendery berjalan mengambil jas di atas kasur, tetapi ucapan Chalodra menghentikannya. Hendery hilang akal karena Chalodra.


"Jangan gegabah! Kamu di sama sedang kerja. Cepat selesaikan dan pulang!" tutur Chalodra. "Aku di sini tidak sendiri, ada Bi Aya jaga aku, kok."


"Cha, tapi kamu sakit."


"Cuma sedih, besok juga sembuh." Chalodra menghela napas panjang, menatap layar ponsel yang masih menyala. "Mas tenang saja! Aku di sini baik, kok. Mas selesaikan saja dulu pekerjaannya," ujar Chalodra.


"Cha." Hendery mendudukkan tubuhnya di atas kasur, menunduk dalam. "Mas akan segera pulang. Kamu harus minum obat!"


"Iya, Mas. Mas juga jangan lupa makan dan jaga kesehatan di sana!"


"Pasti."


"Sudah. Aku mau tidur lagi," cecar Chalodra.


"Ah, baiklah kalau begitu. Padahal, Mas kangen banget sama kamu, Cha."


"Aku juga. Makanya cepat selesaikan pekerjaannya!"


"Siap, Bu Bos!"


Setelah menyelesaikan panggilan bersama sang istri, Hendery beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Padahal baru sampai, tetapi dirinya sudah rindu dengan Chalodra.


Air dari shower mengguyur tubuh Hendery. Rambutnya basah dan ditempeli busa sampo. Terasa begitu segar. Lalu, dia keluar dengan pinggang terbalut handuk.


Hendery menyisir rambutnya yang basah. Lalu, dia memakai kaos dan celana pendek selutut untuk menemaninya tidur. Ruangan itu sepi tanpa kehadiran Chalodra, begitu berbeda. Hendery merasa sangat kesepian, padahal sebelumnya ia pernah tinggal sendirian.


Hendery merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar. Dia membisu, memikirkan banyak hal yang terlintas di dalam kepalanya. Hendery meraih ponsel di samping bantal dan mengatur alarm. Lalu, matanya mulai tertutup.


Berbeda dengan Chalodra, dia selalu merubah posisi tidurnya. Dia merasakan mual dan pusing, untung saja bayi di perutnya tidak rewel. Chalodra gelisah, entah karena apa. Sedangkan Bi Aya duduk di sofa kamar dan berdiam diri memandangi Chalodra.


"Bi Aya," panggil Chalodra, menoleh pada Bi Aya dan wanita itu langsung mendekat. "Aku tidak bisa tidur."


Mendengar keluhan Chalodra, Bi Aya lantas menghela napas berat karena bingung harus berbuat apa. "Non, apa mau sesuatu, biar Bibi buatkan?" tawar Bi Aya.


Chalodra memalingkan wajahnya sejenak. "Bisa elusin kepala aku selama tidur?" Bi Aya membulatkan matanya, hatinya tersentuh mendengarnya. "Kalau tidak mau, tidak apa-apa kok, Bi," lanjut Chalodra.


"I-iya, Bibi temani tidur."


Chalodra menarik kedua sudut bibirnya. Dia bergeser pada tempat tidur Hendery biasanya. "Sini, Bi!" pintanya, menepuk kasur.


Bi Aya naik. "Permisi, ya."


Chalodra membaringkan tubuhnya dengan semangat. Tangan Bi Aya menyentuh dahi Chalodra yang hangat. Lalu, dia mengelusnya pelan dan sesekali menepuknya.


Chalodra menatap dalam wajah menenangkan Bi Aya. Chalodra mencoba memejamkan matanya.


Akhirnya, Chalodra lelap dalam tidurnya. Bi Aya pun menyusul karena kantuk menguasai.


Pagi yang segar, Bi Aya meregangkan badannya. Dia menatap sejenak Chalodra yang masih tidur lelap. Ponsel Chalodra di atas nakas berdering, wanita itu memutuskan untuk mengangkatnya. "Halo, Tuan," panggil Bi Aya.


"Maaf, saya lancang buka handphone Non Chalodra. Non Chalodra masih tidur, saya tidak tega membangunkan."


"Semalam, Chalodra tidur pukul berapa?"


"Jam satu baru tertidur, saya temani juga."


"Suhu tubuhnya bagaimana?"


Bi Aya melirik ke arah Chalodra, bergerak menyentuh sedikit kening Chalodra. "Sudah tidak panas."


"Buatkan Chalodra sarapan, kasih obat yang biasanya, dan tolong antar Chalodra ke dokter, Bi!"


"Baik, nanti akan saya sampaikan."


Hendery pun mematikan panggilan itu secara sepihak, sebab dia harus pergi ke suatu tempat.


Bi Aya meletakkan kembali ponsel Chalodra, kemudian pergi keluar untuk memasak sarapan.


Hendery berdecak kesal karena pekerjaannya tidak kunjung selesai, disebabkan oleh ada pihak lain yang ingin mengambil kawasan tempat berlian itu berada. Lelaki itu menyesap putung rokoknya di taman hotel, ditemani rekan bisnisnya. "Mereka akan dihabiskan oleh anak buah kita. Jadi, kamu tenang saja!" ujar rekan Hendery.


Hendery membuang rokoknya ke tanah, menginjaknya agar mati. "Aku bukan hanya kesal karena itu," ucap Hendery.


"Lalu, ada masalah lain?"


"Istriku sedang sakit, pekerjaan jadi tertunda karena sekelompok orang sialan itu."


Rehwa---Reh, lelaki berjenggot itu membulatkan mata seakan terkejut. "Hey, aku tidak menyangka kalau kamu begitu ... bucin."


"Aku juga pria." Hendery melipat kedua tangannya di depan dada.


"Memang, meski mafia dianggap kejam, tetapi hati masih berfungsi. Aku sendiri rindu dengan istriku," ungkap Reh.


"Maaf?" Hendery menatap lelaki itu, seperti ada yang salah.


"Mendiang istriku. Apa kamu lupa kalau aku pernah menikah?" pekik Reh. "Sampai sekarang, tidak ada yang bisa menggantikannya."


Hendery menganggukkan kepala. "Istri kamu itu seperti apa?" tanya Reh.


"Sifatnya mirip anak kecil. Dia sedang hamil, usianya enam bulan."


"Ck, kalau sudah hamil, itu bukan anak kecil lagi!" seloroh Reh.


"Aku ingin cepat pulang," ujar Hendery.


"Kalau begitu, mari kita selesaikan hari ini!" Reh berdiri dari duduknya, mengulurkan tangan untuk Hendery.


Chalodra bangun dari tidurnya, melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 8.15 pagi. Dia berjalan membuka gorden dan membuat sinar matahari masuk. Lalu, Chalodra pergi keluar kamar.


Chalodra celingukan mencari Bi Aya, rupanya wanita itu tengah menyiapkan sarapan untuknya. "Bi Aya," panggil Chalodra.


"Loh? Kenapa turun? Bibi mau naik, loh."


Chalodra mendudukkan pantatnya di kursi, badannya terasa berat dan malas untuk bergerak. "Bubur, ya?" Bi Aya mengangguk.


"Dimakan! Setelah itu minum obat."


"Maaf, tadi pagi Bi Aya lancang buka ponsel Non saat Non masih tidur karena Tuan Hendery menelpon," ujar Bi Aya.


"Mas Hendery telpon? Bilang apa?"


"Non disuruh sarapan dan minum obat. Setelah itu saya disuruh antar Non periksa ke rumah sakit."


Chalodra pun menganggukkan kepala. Bi Aya sudah memasak bubur untuknya, jadi tidak sopan bila menolak. Chalodra pun mencoba memakannya meski terasa hambar di mulut dan perutnya sulit menerima.


...🐰...