I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
17. Diskon



"Bersihkan sampai tidak ada debu yang tersisa!" pintanya pada 10 wanita yang berdiri di depannya.


"Baik, Tuan," jawab mereka bersamaan.


Para maid itu berpencar dan mulai menyentuh barang-barang yang berdebu. Ruangan besar terdiri dari tiga lantai itu terlihat elegan, dengan ukiran di dinding, serta cat putih dipadukan warna gold.


Hendery melangkahkan kakinya menaiki tangga, rahang kokohnya membuatnya terlihat begitu tegas. Tangan besarnya membuka pintu berwarna putih. Sebuah kamar dengan satu tempat tidur berukuran besar berada di tengahnya, Hendery berjalan mendekatinya.


Dengan teliti Hendery mengamati tempat tidur itu. Alisnya saling bertautan, keningnya berkerut. Hendery berdecak sambil menendang ranjang. "Kotor!"


Laki-laki itu beralih dengan pintu di sudut kamar. "Balkon?"


Sebuah balkon yang sama kotornya dengan ruangan lain. Hendery mengukir senyum tipis. Pemandangan dari sini hanya bisa melihat pohon pinus yang rindang.


Hendery membeli rumah besar dan mewah yang terletak di tengah-tengah hutan. Namun, udara sejuk dan asri membuat Hendery menyukainya. Apalagi di sekitar rumah terdapat banyak pohon buah. Jadi, Hendery yakin Chalodra akan menyukainya.


Rencana untuk pindah rumah terlintas di pikiran Hendery karena Carlon sering datang ke rumahnya, membuat Chalodra juga tidak aman.


Hendery mengeluarkan handphone dari saku celananya. Lalu berusaha menghubungi seseorang.


"Belikan televisi, tempat tidur, almari, sofa, alat masak, meja makan sekalian kursinya, dan ...."


Ucapan Hendery terpotong oleh Taka di sebrang sana. Taka menggerutu tidak paham dengan kata-kata kakaknya itu.


"Tunggu! Untuk apa? Apa kamu menyuruhku, Kak?"


"Tentu saja untuk rumah baruku dan aku menyuruhmu membelikannya."


"Uangnya?"


"Aku transfer dan pilih kualitas terbaik."


"Jangan pakai uang pas, dilebihkan sedikit untukku!"


"Kerja!" sentak Hendery lalu menutup telponnya.


Taka mengerutkan bibirnya kesal, berani sekali kakaknya itu membangunkan tidurnya. Namun, jika ditolak, Hendery akan memenggal kepalanya. Taka bergegas untuk mandi. Rencananya untuk tidur seharian sudah batal. "Selalu aku!"


"Masih sama. Tidak bisa hidup tanpa aku," gumamnya sambil memilih pakaian di dalam almari. "Semoga saja ada diskon."


.....


"Bagaimana kabar Chalodra, apa dia baik?" tanya Ratu seraya menyajikan teh pada Hendery.


Laki-laki itu menatap lurus ke depan. Hendery sengaja ke kediaman Ratu untuk memberi kabar bahwa dirinya akan pindahan. Ratu itu ibu mertuanya, Hendery sama menghormatinya seperti ibu sendiri. "Cha Baik," jawab Hendery.


"Apa dia sudah hamil?"


Uhuk


Hendery yang tengah minum tersedak, mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ratu. Sebisa mungkin dia tahan malu yang menjalar di tubuhnya. "Belum."


Ratu mengukir senyum tipis, Chalodra merupakan anak kesayangannya dari yang lain. Chalodra lebih pendiam daripada kakak dan adiknya. "Secepatnya, ya!" Hendery mengangguk singkat. .


Rasanya Hendery sangat ingin menggorok leher wanita di hadapannya itu sekarang. Tapi benar juga, Chalodra masih belum hamil, sepertinya kurang.


"Momi!" Teriakan nyaring itu berasal dari perempuan berpakaian terbuka, yang berlari dari luar. Dia mendudukkan tubuhnya di samping Ratu. Bibirnya terbuka lebar saat melihat kehadiran Hendery. "OMG! Kakak tampan!" pekiknya terpesona dengan ketampanan Hendery.


Hendery memalingkan wajah dengan malas. Dia paling tidak suka melihat perempuan seperti itu, kecuali Chalodra.


Sufia, anak bungsu Ratu yang gila akan lelaki tampan. Bahkan mantan kekasihnya sudah tidak terhitung. "Mom, aku boleh menikah dengannya?" celetuknya asal bertanya.


Ratu melotot pada Sufia, apa anaknya ini sudah gila. "Hey! Dia suami Kakakmu!"


"Ah? Kak Chalodra?"


"Ya, aku suami Cha," cetus Hendery. Wajahnya sangat tidak bersahabat.


"Kak, bisa jadikan aku istri keduamu?"


"Sufia!" tegur Ratu. Dia sangat ketakutan melihat wajah menantunya seperti itu.


"Aku hanya bercanda. Lagian, aku sudah punya Egry." Sufia melipat kedua tangannya di depan dada, sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Hati-hati dengan yang namanya Egry! Dia diam-diam mematikan," celetuk Hendery.


"Tentu, yang waktu itu bertemu di mall?"


Benar tebakan Hendery. Sufia melebarkan matanya, dia baru ingat. Saat itu dirinya kepergok menjadi selingkuhan kekasih kakaknya.


"Apa Kak Chalodra masih marah?" tanya Sufia.


"Tidak tahu, sepertinya begitu."


Raut wajah Sufia berubah, dia merasa bersalah dengan kakaknya itu. Dirinya merasa begitu jahat karena telah memacari pacar Chalodra, kakaknya.


.....


Chalodra selalu sendiri dalam kesedihannya, tetapi semua beban terasa hilang saat dirinya menonton kartun. Chalodra tersenyum cekikikan melihat televisi. Dia sama saja seperti anak kecil.


Suara pintu dibuka membuat Chalodra memutar tubuhnya, suaminya sudah datang. Namun anehnya, laki-laki mahal senyum itu malah menarik bibirnya lebar. Chalodra mengerutkan dahi melihat tingkah Hendery.


Hendery berjalan ke almari, melepas jas yang sedari tadi menutupi kemeja putihnya. Hendery berbinar mendekati Chalodra.


"Mas kerasukan setan?" celetuk Chalodra.


"Kamu ini! Suaminya datang bukannya disambut," cetus Hendery kesal.


"Kamu aneh." Chalodra membuang muka, kembali fokus menonton televisi.


"Kalau kita pindah rumah, kamu tidak apa-apa kan, Cha?" Pertanyaan tiba-tiba Hendery, membuat Chalodra melebarkan matanya.


"Pindah ke mana? Tidak apa-apa asal lebih baik dari ini. Kalau di kolong jembatan, aku tidak mau."


"No. Kalau kita pindah rumah, Mas janji kamu bisa keluar masuk kapanpun kamu mau."


Terlihat jelas binar mata Chalodra, dia merasakan tubuhnya seakan terbang ke awan. Chalodra mengangguk cepat. "Ayo!"


"Bukan sekarang, Cha."


"Lalu kapan?"


"Mungkin, bulan depan."


"Lama sekali."


Hendery tersenyum melihat wajah murung Chalodra, dia menepuk pucuk kepala Chalodra dengan lembut. "Kamu tahu, Cha? Rumahnya sangat berdebu dan barang-barang di sana begitu rapuh," jelas Hendery.


"Rapuh, seperti aku yang selalu berada di kamar membosankan ini."


Lagi dan lagi, Hendery iba terhadap wanitanya itu. Dia menarik kepala Chalodra dan menyandarkannya di dada bidangnya. Usapan lembut dirasakan oleh Chalodra. "Maaf kalau Mas egois," ujar Hendery.


"Aku akan sabar menerima. Ini juga demi kebaikan aku kan?"


"Benar, Sayang."


Apa-apaan yang tadi itu? Sayang? Gawat! Jantung Chalodra berdebar hebat. Bibirnya terus saja tidak berhenti mengukirkan senyum. Chalodra semakin merapatkan pelukannya, membenamkan wajahnya dengan nyaman di dada bidang suaminya.


"Apa kita tidak perlu membeli barang-barang yang rapuh itu?" tanya Chalodra.


"Tidak perlu repot. Aku sudah menyuruh Taka," jawab Hendery. "Dia pandai meminta diskon."


.....


Laki-laki itu sedang bertransaksi dengan pemilik toko. "Pak, saya sudah membeli banyak, apa tidak ada diskon?"


Pemilik toko yang merupakan pria tua menggeleng pasti.


"Saya mau diskon! Masa barang sebanyak ini tidak mendapatkan potongan harga."


"Baiklah, diskon lima persen."


"Pelit sekali Anda. Tahu seperti itu, saya beli di toko lain."


"Di toko lain harganya semakin mahal."


"Yang terpenting ada diskon!" Taka mengerutkan bibirnya dengan kesal. Apalagi para wanita di sekitarnya terus memandangi dirinya.