I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
32. Bertamu



Pohon pinus yang menjulang tinggi mengelilingi Taka dan Casandra, ketika mereka keluar dari mobil. Casandra tidak berhenti memandangi sekitar. "Aman?" teriak Casandra. Dia berjalan ke depan mobil. "Hutan seperti ini, apa tidak ada binatang buas?" tanya Casandra heran. Mungkin, setiap orang melihat rumah di tengah-tengah hutan ini, pasti akan merasa bingung.


"Ini hutan buatan, jadi aman-aman saja," jawab Taka.


Casandra mengedarkan pandangannya sembari menunggu Taka yang sedang mengabari Hendery, bahwa dirinya sudah sampai. Dua sosok di samping rumah membuat Casandra mengerutkan dahi. Tembok tinggi yang menghalangi rumah, berusaha mereka panjat. "Taka sialan, itu siapa?" Casandra menepuk pundak Taka, lalu menunjuk ke suatu arah.


Taka mengernyitkan dahi. Dua orang bertubuh tinggi kelabakan saat menyadari keberadaan Taka dan Casandra. "SIAPA KALIAN?!" Teriakan Taka yang melengking, membuat mereka lari.


"Cepat kejar! Sialan lo!" gerutu Casandra.


Taka melangkahkan kaki lebar, mengejar dua orang itu. Namun, jarak yang jauh, membuat Taka kehilangan jejak. Hanya ada bekas ban mobil di tanah subuh itu. Taka melenggang, kembali menghampiri Casandra.


Casandra berdiri dengan penuh tanya, di depan gerbang rumah Hendery. "Bagaimana?" tanya Casandra, Taka menggeleng. "Bego!" Casandra melangkah, meninggalkan Taka.


Dua sepasang kekasih itu memang sedang tidak akur, karena sebuah kebiasaan mereka untuk bertengkar. Sebenarnya, yang salah adalah Casandra, tetapi Taka tidak mau mengalah.


Tadi, sebelum berangkat, Taka menjemput Casandra di rumahnya. Namun, Taka yang sedang bergegas harus menunggu Casandra mandi karena baru bangun tidur. Padahal, mereka sudah membuat janji tapi Casandra membantah.


Di dalam rumah yang luas, Chalodra menyuguhkan jus jeruk untuk kedua tamunya. Para asisten, diliburkan oleh Hendery, tetapi gaji akan sama seperti biasa.


Kepribadian Casandra sangat terlihat dari penampilannya. Kini, kedua kaki gadis itu diangkat di atas sofa, sambil menikmati minuman seperti tidak sedang bertamu. "Dia bodoh, tidak bisa menangkap dua orang itu," celetuk Casandra.


Taka menghela napas berat mendengar cemooh kekasihnya, sudah menjadi hal yang biasa. Saat sudah tiba, Taka menceritakan kejadian sebelum masuk tadi. Hendery bereaksi tidak biasa, itu artinya keberadaannya sudah diketahui.


"Mereka laki-laki. Kabur dengan mobil saat aku mengejar," ujar Taka.


"Kamu memang tidak hebat dalam hal seperti itu. Kerjaan kamu hanya menonton kartun," sahut Casandra.


"Hey, mereka ada dua! Lagian, aku tidak menonton kartun. Itu anime, you know?"


Casandra mencebikkan bibirnya kesal. "Kartun anak-anak."


"Kalian ini benar-benar pacaran?" tanya Chalodra, sebelah alisnya terangkat dengan mata besarnya itu.


"Apa kamu tahu? Aku memutuskan dia dulu!" sarkas Casandra. "Lalu, dia meminta balikan." Dengan santainya, Casandra seakan merendahkan Taka.


"Apa? Kita berdua saling tidak bisa melupakan. Karena aku kasihan melihat kamu yang selalu galau, aku mengajakmu kembali," sahut Taka, tidak terima. Casandra berdecak sebal, dia berdiri dari duduknya.


Casandra menarik tangan Chalodra, hingga Chalodra tertarik hingga berdiri. "Jangan kasar dengan istri saya!" bentak Hendery.


Casandra memutar bola matanya malas. "Maaf," katanya. Lalu menarik tangan Chalodra.


"Kamu ajak ke mana istri saya?" tanya Hendery dengan suara yang lantang.


"Aku ajak masak. Apa kalian tidak lapar?" ketus Casandra.


"Ya, Sayang. Masak yang banyak!" sambung Taka.


"Kamu pikir aku pembantu?!" Casandra melotot tajam ke arah Taka, membuat laki-laki itu menunduk. "Ayo, Cha!" ajak Casandra.


Hendery menghela napas panjang, sambil menggelengkan kepala. "Bagaimana kamu bisa menyukainya, Taka?" Tentu, itu adalah pertanyaan penting yang harus diajukan.


"Dulu, saat SMA aku mengenalnya pendiam. Jadi, aku menyukainya dan kita berpacaran. Saat sudah dua bulan, dia menjadi rival balap mobil aku waktu itu."


"Kami bergabung di club yang sama dan memutuskan untuk mengulang semuanya." Taka mengulas senyum bangga, dia bersandar di pinggiran sofa.


"Dan kamu berhenti sekolah, padahal harus tinggal kelas," sambung Hendery. "Beruntung, Kakak kamu mempunyai perusahaan dan kamu tidak perlu susah mencari pekerjaan."


"Bahkan, aku tidak kerja pun dapat uang," lanjut Taka.


"Ya, akan aku tambah gaji bulan ini. Tapi, ada syaratnya."


"Yang benar? Apa syaratnya?" Taka berbinar mendengar apapun yang berkaitan dengan uang.


Hendery menarik senyum miring. Sebenarnya, tujuannya mengundang Taka ke rumahnya adalah untuk membicarakan peristiwa, yang terjadi di rumah Ratu.


Dua perempuan itu sedang bergulat dengan alat masak. Tidak disangka, Casandra dengan penampilan laki-laki itu bisa memasak. "Dulu, aku ikut ekstra memasak, bahkan pernah ikut lomba," ujar Casandra.


Chalodra melebarkan manik cokelatnya. "Oh, ya? Lalu, juara?"


Casandra menggelengkan kepala, Chalodra tergelak tawa. Dibalik penampilannya, Casandra ternyata periang dan murah senyum. Gadis itu memotong bawang daun dengan sangat cepat. Sedangkan Chalodra, dia membersihkan daging ayam.


Pyar


Sebuah benda berat memecahkan kaca, yang dulunya dinding. Ingat kebakaran waktu itu, Hendery sudah menggantinya dengan kaca, sendiri.


Suara gaduh membuat Hendery dan Taka bergegas menuju dapur. Meja dengan sayur-sayuran itu berantakan, karena sebuah batu besar. Hendery berlari, mengecek kacanya yang pecah, sedangkan Chalodra masih mematung di wastafel.


Casandra meringis, tangan kanannya menyentuh pipinya yang tergores batu itu. Lantas, darah menetes dari permukaan pipi mulus Casandra membuat bercak merah menodai wajahnya. Taka terbelalak, melihat luka kekasihnya. "Are you oke?" tanya Taka dengan khawatir.


"Anda punya mata? Ada darah di pipi saya!" bentak Casandra.


Hendery menggeleng pelan melihatnya, prihatin dengan nasib adiknya. Hendery beralih pada Chalodra, yang diam meneguk ludah. "Kamu tidak kenapa-kenapa kan, Cha?" tanya Hendery. Chalodra menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk.


"Apa yang terjadi?" tanya Taka. Raut wajahnya terlihat gelisah dengan keadaan Casandra.


"Setidaknya, obati luka saya terlebih dahulu, Tuan," kata Casandra.


Taka membulatkan matanya. "Sandra, kamu bilang apa tadi?"


Casandra berdecak kesal. "Obati luka saya!"


Taka mengukir senyum lebar khasnya, lalu mendekatkan wajahnya pada pipi Casandra. Bibir lembut Taka, mendarat di luka Casandra, membuat hati gadis itu bergetar hebat.


Bukan ciuman, Taka menyesap darah pada luka Casandra, hingga kulit pipi Casandra, ikut tertarik. Manik Casandra melebar, bahkan dua pasangan lain mematung melihatnya. "JOROK!" bentak Casandra mendorong tubuh Taka.


Tubuh Taka terjatuh di lantai, karena dorongan Casandra sangat kuat. Laki-laki itu tersenyum puas melihat wajah kekasihnya merona. "Sandra Sayang, panggil Taka apa tadi?"


"Pedofil!" bentak Casandra, lalu melenggang pergi dari dapur.


Taka bangkit untuk mengejar Casandra yang melarikan diri. Casandra berlari ke ruang tengah, sambil memegang pipinya yang memanas, rasanya luka itu sangat manis.


Hendery menggelengkan kepala pelan melihatnya. "Tamu yang pantas untuk dicincang," gumam Hendery.


...Jangan lupa LIKE🥺...