I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
58. Niat terselubung



...SELAMAT MEMBACA! ...


Chalodra lagi-lagi bertingkah seperti anak kecil. Layaknya balita yang meminta mainan. Dia merengek dan menciumi pipi Hendery sebagai bujukan. "Ayo, Mas! Belikan rujak buah!"


"Mas!"


Hendery yang tengah sibuk dengan laptop itu menghela napas gusar. Lalu, dia menutup benda tersebut dan menatap tajam sang istri. "Nanti dulu, ya? Mas harus selesaikan pekerjaan ini," ucap Hendery.


Chalodra kesal, kemudian menyingkirkan tangan Hendery yang menggenggamnya. "Gak perlu!" cecar Chalodra. Dia melipat kedua tangan di depan dada, mengerucutkan bibirnya.


"Cha," panggil Hendery dengan lembut, tetapi Chalodra pura-pura tidak mendengar. Susah sekali memang untuk membujuk istrinya yang manja itu. Hendery menghela napas panjang. "Oke, Mas belikan." Lalu, lelaki tersebut melenggang pergi setelah menepuk kecil kepala Chalodra.


Chalodra tersenyum lebar melihat suaminya pergi untuk dirinya. Menopang dagu, dia mengingat saat pertama menikah. Hendery selalu bertindak jahat kepadanya. Namun, siapa sangka sekarang lelaki itu menjadi sangat tunduk kepada Chalodra.


Hendery rela menerobos siang yang panas ini. Beruntung, tempat penjual rujak tidak terlalu jauh. Meski jalan kaki, dia pun sampai di warung tersebut. Hendery segera memesan dan menyuruh penjual melakukan dengan cepat.


Di bawah terik yang panas, Hendery melipat kedua tangan di depan dada, berdiri di depan warung tersebut lantas mencuri perhatian orang melintas. Hendery hanya cuek, bahkan melemparkan mereka tatapan sinis.


"Pak Hendery?" panggil seseorang dari belakangnya. Seorang wanita berpakaian rapi seperti orang kantor, dia berdiri di samping Hendery, menyapa dengan senyum miring.


"Siapa?" tanya Hendery.


"Saya Sara, sekretaris Pak Taka."


Hendery mengangguk singkat. "Oh."


Sara mengerutkan dahi melihat eskpresi Hendery, seperti dirinya tak terlihat menarik di mata lelaki itu. Hal ini membuat Sara tertantang, terlebih prinsipnya adalah harus menarik di mata semua pria. "Pak Hendery sedang apa?" tanya Sara.


"Menunggu rujak pesanan saya," jawab Hendery, tanpa melihat ke arah Sara.


Wanita bertubuh seksi itu melangkah maju, berdiri di depan Hendery. "Pak Hendery suka rujak juga?" Sara melemparkan pertanyaan hingga membuat Hendery sedikit kesal.


"Untuk istri saya."


Sara sedikit terkejut, baru mengetahui bahwa bosnya itu bisa manis kepada wanita. Sebab, Hendery terkenal garangnya. "Ah, istrinya Pak Hendery beruntung sekali. Saya jadi ...." Sara menggantung kalimatnya, sengaja ingin membuat Hendery penasaran.


Nyatanya, Hendery hanya menanggapi dengan ekspresi datar, bahkan mengalihkan pandangan.


"Pak Hendery, saya boleh mampir ke rumah Bapak, tidak? Saya ingin bertemu istri Bapak," ujar Sara.


"Untuk apa?"


"Hanya ingin menyapa."


Mencurigakan. Namun, melihat eskpresi Sara sepertinya memang benar untuk menyapa. Hendery pun menganggukkan kepala membuat Sara tersenyum lebar.


Jalan berdampingan. Hendery menenteng kantung plastik di tangannya. Wanita di samping membuatnya kesal karena sengaja menempelkan lengannya. Padahal, Hendery beberapa kali menghindar.


Sampai di depan pintu rumah, ternyata Chalodra tengah memotong kuncup merah di teras. Chalodra langsung melemparkan tatapan tajam saat mendapati suaminya datang dengan seorang wanita. Dia segera berdiri menyambut kedatangan mereka.


Chalodra merasakan sesuatu tidak enak. Dia cemburu melihatnya, tetapi ada yang lebih. Melihat gerak tubuh wanita di samping suaminya itu, Chalodra merasakan aura negatif.


Belum Chalodra bertanya, Hendery lebih dahulu menjelaskan karena takut terjadi salah paham. "Cha, ini Sara, sekretaris Taka di kantor," ucap Hendery.


Chalodra mengangguk paham. "Hai," sapa Chalodra, Sara menjawabnya dengan lambaian tangan.


"Ini rujak kamu. Mas mau lanjut kerja," ucap Hendery menyodorkan kantung plastik kepada Chalodra. Lalu, dia melenggang pergi memasuki rumah.


"Kalian ketemu di warung, ya?" tanya Chalodra.


"Iya, kebetulan," jawab Sara. Dia tersenyum miring. "Atau memang karena ditakdirkan bertemu."


Chalodra mengulas senyum tipis. "Mau masuk?" tawarnya. "Kalau mau, kita makan rujak bersama. Bayi aku lagi pengen banget."


"Aku sedang hamil."


Sara sontak terkejut, tetapi ini membuatnya semakin tertantang. Merusak dan mengambil milik orang lain, hal menyenangkan baginya. Dia menyerah karena tak kunjung mendapatkan sang adik---Taka. Kali ini, Sara berniat untuk Hendery dan Chalodra.


"Kita makan di dekat kolam renang, yuk!" ajak Chalodra.


"Boleh," jawab Sara. Dia mengikuti langkah kaki Chalodra, yang membawanya pergi.


"Kamu suka rujak?" tanya Chalodra, ketika mendapati Sara melahap buah itu dengan lahap.


Sara mengangguk singkat. "Makanan wajib."


Mereka tengah duduk di kursi tepi kolam renang. Menikmati pemandangan sederhana. Dinginnya air kolam dan panasnya terik matahari. Chalodra mengulas senyum tipis, bukankah sudah lama dia tidak mengobrol dengan seorang teman?


"Kamu ... sering-sering datang ke sini, ya," ucap Chalodra. "Aku sering kesepian kalau Mas Hendery pergi."


Sara sedikit tersentak mendengarnya. Rupanya, wanita di depannya tidak seberuntung dirinya yang mempunyai banyak teman dan perkumpulan. Hendery pasti mengekang nya agar selalu di dalam rumah. "Boleh saja. Mungkin, kalau sedang libur kerja," balas Sara.


Meskipun merasa curiga akan Sara, tetapi Chalodra senang ada yang berkunjung seperti ini. Selain keluarga, Chalodra tidak punya teman. Ah, hidupnya tak sebebas dulu. Padahal, sebelum menikah, ia bisa pulang ke rumah pagi hari hanya untuk bermain ke tempat teman. Akan tetapi, semuanya berbeda setelah pernikahan.


Oh, ya, bahkan tidak ada satu pun teman Chalodra yang mencari keberadaannya. Chalodra bukan unggulan, dia hanya ikut-ikutan.


"Boleh numpang ke kamar mandi?" tanya Sara.


"Boleh. Ayo, aku antar!"


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri. Tolong, tunjukkan arahnya saja."


"Ah, oke. Dari sini, lurus, ada dapur dan belok kanan, di sudut ruangan."


Sara mengangguk singkat. Beranjak dari duduknya dan melenggang pergi.


Chalodra kembali menyantap rujaknya. Menggelengkan kepala karena rasanya yang nikmat. Bumbu manis dan sedap berpadu dalam mulutnya, lezat. Sepertinya, bayi di dalam perut ikut tersenyum.


Bagai musuh dalam selimut. Setelah pergi dari kamar mandi, Sara mendapati Hendery tengah mengambil minum di meja makan. Sara memandanginya dari jauh, menikmati ukiran Tuhan yang indah. "Tampan."


"Kali ini tidak aku lepaskan," gumam Sara. "Maaf, Nyonya Hendery, akan saya rebut posisi Anda." Sara tersenyum miring, mirip seorang iblis. Lalu, dia melangkah pergi untuk kembali ke Chalodra dengan gaya berjalannya yang memesona.


Pria manapun mungkin akan terpikat akan paras dan tampilan mahal Sara. Dia seperti seorang konglomerat. Rambut hitam panjang, hidung mancung, bibir tebal yang terkesan seksi, tubuhnya tinggi dan langsung, juga wajah tirusnya itu benar-benar memesona.


"Hai, sudah selesai?"


Sara mengangguk singkat dan duduk di kursi. "Rumahnya indah. Maaf, lihat-lihat tanpa permisi," ujar Sara.


"Iya, tidak apa-apa."


"Aku harus pulang, ada keperluan."


"Ah, buru-buru sekali kamu. Naik apa memang?"


"Aku tadi bawa mobil kantor. Ada di dekat warung rujak."


"Oh, baiklah. Hati-hati! Terima kasih sudah mampir."


Sara berdiri dari duduknya. "Lain kali aku mampir. Tapi, hanya saat ada Pak Hendery saja." Lalu, dia melenggang pergi dan melambaikan tangan.


Chalodra dibuat mematung dengan ucapannya.


...🐰...