I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
47. Taka pencuri



"Bu Chalodra, karena kondisi Anda sudah stabil, jadi sudah bisa pulang," kata dokter itu.


"Beneran, Dok?" Manik Chalodra melebar. Dokter itu mengangguk, membuat Chalodra mencengkram kuat tangan Hendery. "Mas, kita pulang sekarang, ya?" tanyanya.


Hendery mengangguk singkat. Wajar saja Chalodra ingin cepat-cepat pulang, sebab lima hari di rumah sakit, tidak boleh melakukan aktivitas, hanya diperbolehkan bangun untuk ke toilet. Dengan perut yang semakin membesar, berat badan Chalodra bertambah dan semakin berat melakukan sesuatu.


Di bawah terik sinar matahari yang ditutupi awan, Chalodra membawa selang untuk menyirami tanaman. Sedangkan Hendery, dia bersantai duduk di teras sambil memandangi istrinya.


Chalodra terlihat sedikit kesusahan dengan perutnya, yang terus tersangkut karena ranting. Meski begitu, Chalodra tidak merasakan lelah, bahkan dia semakin bersemangat. Namun, sesuatu merambat di tangannya. "Aaaa!" teriak Chalodra.


Hendery bergegas mendekat. "Kenapa, Cha?" tanya Hendery khawatir. Hendery mengikuti tempat yang ditunjuk Chalodra.


Tangan kanan Chalodra, terdapat ulat berwarna hijau di sana, tentu saja Chalodra menjerit ketakutan. Hendery dengan sekali gerakan, menepis ulat itu dengan tangan. "Ih, geli!" pekik Chalodra, lalu memeluk erat tubuh Hendery.


"Lucu ulatnya, tapi kalah lucu sama kamu, Cha," kata Hendery.


"Mas, ih!" Chalodra memukul pelan dada Hendery. "Mas, jalan-jalan, yuk!" ajak Chalodra. Dia mendongak, membuat wajahnya mengemaskan.


"Yuk!" Ini yang Chalodra suka, begitu juga para wanita. Sekali ajak, langsung mau. Namun, sayangnya jarang ada di dunia nyata.


Taka berdiri membelakangi pintu utama, dia tengah merogoh saku hoodie putih, milik kakaknya. Dengan penuh perjuangan, Taka mendapatkan selembar benda berwarna merah. "Buat jajan. Katanya Kak Hendery, kalau mau uang jajan ambil di baju Kakak," gumamnya.


"Taka, sedang apa?" tanya Chalodra, membuat Taka terkejut.


"Tadi aku lihat, baju Kak Hendery ada kotorannya sedikit, jadi aku bersihkan," jawab Taka sambil cengengesan.


Chalodra mengangguk, lalu berjalan mendekati Taka. "Kakak sama Kak Hendery mau jalan-jalan, kamu mau ikut?" tawar Chalodra. Dia bergerak mengambil hoodie Hendery di atas sofa itu.


Pandangan Taka tidak terlepas dari baju itu. "Kalian aja."


"Kalau begitu, Kakak pergi dulu." Chalodra melenggang pergi.


Tubuh Chalodra sudah hilang, saat itu juga Taka menghembuskan napas lega. Dia mengeluarkan selembar uang itu dari saku celananya. "Jajan rujak di toko sebelah, deh," katanya riang.


Taka tidak mencuri, hanya meminta dan akan mengatakannya nanti, apabila uangnya sudah habis. Sebenarnya, Taka mempunyai banyak uang, tetapi dia terlalu hemat dengan uangnya sendiri. Mungkin, ini hanya dilakukannya kepada kakaknya.


Jembatan, menjadi tujuan keduanya. Mereka duduk bersantai menikmati udara sejuk sore hari. Melihat kanan-kiri, orang berlalu lalang. Chalodra berdiri, membiarkan angin sepoi menerpa rambut panjangnya. Bertumpu pada pagar pembatas, Hendery menempelkan tubuhnya dengan Chalodra.


Terlihat kebahagiaan pada wajah cerah Chalodra, dia sudah lama tidak merasakan kedamaian ini bukan? Namun, sepertinya ini tidak lama. "Mas, aku haus," ujar Chalodra.


"Mas belikan air dulu, ya?" Chalodra mengangguk. Hendery melangkahkan kaki pergi ke tempat toko di sudut jalan.


Banyak pasangan yang juga menikmati, candaan tawa mereka terdengar, sangat bahagia tanpa sebuah beban. Chalodra memejamkan matanya, sejuk dan menenangkan.


Di sana, Hendery bertatap mata dengan penjual kaki lima. "Air mineral dua," kata Hendery.


Bapak penjual itu menjawab, "Baik, Mas." Lalu mengambilkan benda yang dimaksud Hendery.


Hendery memasukkan tangan kanannya ke dalam saku hoodie-nya. Manik Hendery melebar. "Tadi pagi, aku masukin uang ke sini," gumamnya pelan.


"Ini, Mas," kata Bapak penjual.


"Sebentar ya, Pak." Dengan gusar, Hendery merogoh semua kantung celananya. Dia ingat betul memasukkan uang ke saku bajunya, uang yang tersisa setelah membeli mangga untuk Chalodra. "Pak, saya tinggal sebentar!" ujar Hendery lalu berlari pergi.


Bapak penjual menggelengkan kepala.


"Tidak semua orang tampan itu kaya," gumamnya.


Hendery berlari pelan, pergi ke tempat Chalodra. "Cha, kamu bawa uang?" tanya Hendery.


Chalodra mengangguk. "Uang Mas sisa beli mangga tadi pagi, hilang," ucap Hendery.


Chalodra mengerutkan dahi, lalu menarik kedua sudut bibirnya. Chalodra membuka tas selempang kecilnya, mengeluarkan uang senilai 20 ribu dan diberikannya kepada Hendery. "Tunggu sebentar ya, Cha!" Hendery berlari lagi.


.....


Sambil mengemudi, Chalodra menceritakan apa yang dia lihat tadi. Namun, Chalodra menambahkan kata 'tapi belum pasti'.


Hendery hanya bisa menggelengkan kepala, adiknya terlalu durhaka kepadanya.


Di tengah perjalanan, ponsel Hendery berdering lalu dia mengangkatnya. "Apa, Lang?"


"Carlon sudah kami tangkap, Bos."


"Sekarang sudah ada di gudang."


Hendery tidak bisa banyak bicara, hanya mengangguk pelan dan mematikan telepon.


"Siapa, Mas?" tanya Chalodra.


"Manager aku, katanya besok ada meeting dan aku harus datang," jawab Hendery.


"Em, Mas mau datang?"


"Iya, Cha. Besok aku tinggal, ya?"


"Iya, Mas."


Menjelang malam, Hendery memarkirkan mobil di depan rumah. Keduanya berjalan sambil bergandeng tangan. Bulan sabit menerangi, tetapi awan hitam meredupkan. Hendery membuka pintu, Taka yang duduk di sofa tengah menonton televisi menyambut.


Taka membulatkan matanya, melihat tatapan tajam Hendery.


Hendery mengusap lembut kepala Chalodra. "Cha, kamu ke kamar dulu saja!" ucap Hendery, Chalodra mengangguk dan pergi.


Hendery menatap Taka dengan sinis, dia berjalan mendekat. "Dari mana Kak?" tanya Taka.


"Dari jembatan mawar. Kakak mau tanya sesuatu sama kamu," kata Hendery. Dia mendudukkan pantatnya di samping Taka.


Taka masih tidak beralih dari layar televisi, dia takut untuk berkontak mata dengan kakaknya itu. "Tanya aja!"


"Kamu ... ambil uang di baju ini?" Nada bicara Hendery terdengar menusuk, membuat Taka bergidik ngeri.


Lama, Taka tidak menjawabnya. "Kak, maaf, aku pakai buat beli rujak di Tante Ima." Taka menunduk, jantungnya berdebar.


"Kenapa tidak bilang?! Kakak beli minuman, tapi uangnya gak ada, Kakak malu!"


"Ya maaf."


"Sebagai ganti, cuci mobil!"


"Dibawa ke tempat cuci mobil, uangnya?"


"Gak ada! Kamu yang cuci. Cuci di depan! Gak ada penolak."


Hendery melangkah pergi, sedangkan Taka menghembuskan napas gusar. Taka mengerutkan bibirnya, lalu bangkit dari duduknya. Mau bagaimana lagi, Taka harus mengerjakannya daripada dimarahi kakaknya.


Di dalam bangunan yang sempit, pria jakun itu memberontak dari cengkraman besi yang melingkar di kedua tangannya. Di bagian leher, terdapat balok kotak agar dia tidak bisa menoleh kanan-kiri. Kedua kakinya diikat rantai menjalar. "Sialan kalian!"


Suaranya menggema, ruangan gelap dan atap terbuat dari seng, membuatnya kepanasan. Carlon memekik kesakitan, apalagi ada jas di tubuhnya, membuat kulitnya terbakar. Tidak ada yang memperdulikannya, semua anak buah Hendery berada di luar.


Malam hari terasa sunyi, setelah kelelahan berusaha melepaskan semua yang ada di tubuhnya, tetapi nihil, Carlon diam dengan napas memburu. "Pak Carlon!" Suara itu membuatnya membuka mata. Carlon mendongak, satu seng terbuka, memperlihatkan wajah Egry.


Egry turun dan bergerak cepat membuka besi di tangan Carlon. "Cepat!" pinta Carlon.


"HEY!" Egry membulatkan matanya dja reflek mengangkat tangan.


"Bodoh! Dasar lemot!" gerutu Carlon.


...Hai, Reyna kembali☺Jangan lupa terus support ya...