I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
53. Taka cinta kuning



Pada akhirnya, Leon tetap mengantar sang papa pergi ke rumah putrinya. Jikalau Anggara tidak memaksa ingin pergi sendiri, mungkin Leon tidak akan menuruti.


Mereka sudah berada di depan pintu, Anggara memencet tombol bel. Hendery yang membuka pintu, dia dibuat terkejut dengan sosok di belakang Anggara. Hendery dan Leon saling menatap tajam. "Papa mau bertemu Chalodra, boleh?" tanya Anggara.


Hendery mengangguk dan mempersilahkan Anggara masuk. Sementara itu, dia menghentikan Leon. "Saya juga mau bicara sama kamu," kata Leon, tajam. Lalu Leon menyingkirkan tangan Hendery dari pundaknya.


Kedua laki-laki itu duduk di sofa, lalu Hendery memerintahkan Bi Aya untuk membuatkan minum.


Bayu baru saja pulang. Dan sesuai perintah Bayu, Chalodra memeriksanya.


"Chalodra ada 'kan?" tanya Anggara.


"Ada. Sebentar, saya panggilkan." Hendak Hendery berdiri, Chalodra berteriak menuruni tangga.


"Mas! Mas Hendery! Aku hamil, Mas!" teriaknya sambil mengangkat sebuah alat tes ke atas. Saat sampai di hadapan sang suami, Chalodra menyodorkan benda itu.


Lihatlah! Betapa memerahnya wajah Hendery saat ini. Istrinya itu benar-benar tidak bisa mengendalikan emosi. "Cha, kamu lihat ada siapa di sini?"


Chalodra sontak gelagapan, kala melihat orang lain duduk di sofa. "Eh, Papa, halo!" sapa Chalodra dengan gugup.


"Sini, Cha!" pinta Anggara, dengan senyum tipisnya.


Chalodra memberikan benda itu kepada suaminya yang masih malu. Chalodra duduk di samping sang papa.


"Lihat! Dia Kakak tiri kamu," kata Anggara.


Chalodra ingin menyapa, tetapi Leon sama sekali tidak menatapnya. Bahkan laki-laki itu melihat ke arah jendela. "Dia memang seperti itu," ujar Anggara.


"Mama?"


Anggara tersentak kaget, dia baru ingat, belum menceritakan apapun kepada sang putri. Bahkan untuk bertemu saja, mereka jarang. "Mama kamu, dia meninggal saat kamu berusia satu tahun," kata Anggara.


Chalodra mengangguk paham, sebisa mungkin menahan air matanya, meski sesuatu menggores hati kecilnya. Hendery mendekat, dia duduk di samping Leon. "Dia ini, anak ke berapa?" tanya Hendery.


"Leon anak kedua, dari istri pertama Papa," jawab Anggara. "Kamu hamil?"


Chalodra mengangguk dengan tersipu malu. "Setelah dua bulan kehilangan, akhirnya diberikan kepercayaan lagi."


"Semoga kamu selalu sehat, Chalodra." Anggara mengelus pucuk kepala putrinya dengan lembut. "Hendery, apa istri kamu tahu tentang perbuatan anak saya?" tanyanya.


Hendery tersentak kaget, lantas menggelengkan kepala cepat. "Tolong, tidak dibahas di sini!" Bisa-bisa identitas mafianya terungkap.


"Oh, baiklah."


"Memangnya ada masalah apa dengan Kakak Leon dan Mas Hendery?" Chalodra bergantian menatap Hendery dan Anggara.


"Bukan apa-apa, Cha," seru Hendery.


"Mas punya rahasia?"


"Bukan seperti itu! Aku tidak tahu kalau kamu istri orang. Aku lihat kamu di rumah sakit, aku suka sama kamu. Tapi suatu waktu aku tahu kamu istri dia dan saudara aku. Mangkanya aku berniat buat jahat ke suami kamu," celetuk Leon.


Hendery melebarkan matanya, ternyata Leon itu aneh. Sedangkan Anggara tergelak tawa. Chalodra menoleh ke arah Anggara dan melihat pria itu mengangguk.


"Siang ini pemakaman Papa Carlon, kalian mau ikut?" tanya Hendery.


"Papa Carlon? Kamu tidak kasih tahu aku, Mas!" gerutu Chalodra. "Papa Carlon sakit?"


"Iya, serangan jantung." Ketiga laki-laki itu saling melemparkan tatapan penuh arti.


"Kasihan," ucap Chalodra, penuh prihatin.


"Kamu kasihan? Setelah apa yang dia buat sama kamu?" pekik Hendery.


"Mas, kamu jangan gitu! Dia Papa kamu."


Hendery berdiri di teras bersama Leon. "Maaf atas semuanya," ucap Leon. "Karena dendam, saya hampir buat keluarga kamu celaka."


"Bukan masalah, yang terpenting sekarang kamu sudah tidak lagi ingin berbuat jahat," balas Hendery.


"Satu yang harus kamu tahu." Hendery langsung menatap Leon. "Penyebab mobil kita terjatuh, adalah Egry." Hendery semakin dibuat bingung, dahinya berkerut.


"Dia ingin membalaskan dendamnya sendiri, dengan menyakiti kamu juga."


"Kami berdua selamat, karena tidak pingsan. Sedangkan Carlon, dia tidak bisa selamat karena sudah pingsan."


"Sebelumnya, maaf karena tidak menyelamatkan Carlon, Papa Anda."


Ucapan Leon membuat emosi Hendery meluap. Marah kepada Leon, tentu saja karena dia terlibat. Namun, Hendery hanya membenci Egry.


Pemakaman Carlon diselimuti warna hitam. Tidak banyak keluarga yang datang, hanya lebih banyak para anak buah Carlon. Hendery sudah bernegosiasi dengan mereka, untuk menyudahi semua perintah Carlon dan berkerja bersamanya. Kebanyakan setuju, sekurangnya memilih berhenti.


"Papa jahat." Itu suara berat Taka, dia sesenggukan sambil memeluk batu nisan sang papa.


Tivani meletakkan karangan bunga di atas tanahnya, lalu memeluk pundak Taka. Tidak lama bertemu dengan Carlon, pria jakun itu sudah pergi untuk selamanya. Meski tidak menjadi orang tua yang baik, Carlon beruntung memiliki anak sebaik mereka.


"Setelah mendengar cerita Hendery, kita tentunya gak bisa maafin. Tapi, kita tetap mengirimkan doa untuk Papa," kata Tivani.


"Papa bahagia di sana, ya?" lirih Taka.


"Ayo, sudah mau hujan," ujar Andre. Lalu mereka melangkah pergi meninggalkan gundukan tanah itu.


Hendery masih diam, berjongkok di sana. "Pa, maaf belum jadi anak yang baik."


"Mas?"


"Cha, kamu sudah memaafkan semua kesalahan Papa 'kan?"


Chalodra mengangguk kuat.


.....


"Casandra! Kembalikan!" teriak Taka. Dia mengejar sang kekasih yang berlari menuruni tangga.


"Aku mau buang. Celana sobek gini kok dipakai," gerutu Casandra.


"CASANDRA! ANJING KAMU!"


Casandra membulatkan matanya, untuk pertama kali Taka semarah ini. Hanya perkara celana pendek berwarna kuning dan robek depan belakang itu?


"Kamu kenapa, sih?! Kamu bisa beli yang baru!" tegur Casandra.


Taka tidak bergeming, menatap tempat sampah di dapur itu. Air mata mulai bercucuran membuat Casandra panik. "Nangis? Itu daleman dari siapa?! Kamu sampai segitunya! Dari mantan pacar kamu?! Kamu bisa beli yang baru, Taka!"


"IYA! AKU BISA BELI YANG BARU, TAPI TIDAK DENGAN RASA NYAMAN YANG SAMA!"


"Nyaman dari mana? Itu depan bolong, belakang bolong, banyak warnanya udah pudar juga!"


"Ada masalah apa kalian?" tanya Hendery. Dia menuangkan air ke dalam gelas.


"Ini, Kak. Celana pendeknya udah banyak robek, aku buang malah marah-marah," ujar Casandra.


"Celana pendek warna kuning?"


"Iya."


"Itu dicuci satu bulan sekali."


Casandra semakin dibuat kaget, pasangannya sejorok itu? "Bener?" tanyanya pada Taka.


Taka mengangguk pelan. Kedua tangannya masih mengepal kuat.


"Kalau kamu jarak seperti ini, lebih baik kita gak usah nikah!" celetuk Casandra. Sengaja, hanya untuk menggertak laki-laki itu agar tidak marah kepadanya.


Sesuai dugaan, Taka menarik tangan Casandra dan menggenggamnya erat. "Kamu bercanda?"


"Cuman masalah ini, kamu gak mau nikah sama aku?"


"San, kamu bercanda aja 'kan?" Manik Taka mulai berair, dengan gemasnya dia menggoyangkan tubuhnya untuk membujuk Casandra. "Sayang!"