I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
63. Kue



...SELAMAT MEMBACA! ...


Hendery merasa sangat kesal, lantas melemparkan tatapan tajam kepada sang adik, yang menganggu karena kedatangannya. Hendery melipat kedua tangannya di depan dada. "Pasti tidak ada hal penting," celetuknya.


Taka menggaruk tekuk lehernya, kemudian mengangguk dengan kikuk. "Ganggu?"


"Sangat!" Hendery menghela napas panjang. "Masuk!" pintanya.


"Casandra! Kamu nyusul, ya! Aku masuk duluan!" Taka berteriak, kepada Casandra yang masih berada di mobil untuk mengambil barang. Benar-benar bukan pacar romantis.


Taka menyelinap masuk, melewati Hendery begitu saja. Lalu, lelaki itu celingukan di ruang utama. "Kak Chalodra mana?" tanya Taka.


"Di dapur," jawab Hendery.


Taka menganggukkan kepala. Dia duduk di sofa dengan merentangkan tangannya, seperti seorang penguasa membuat Hendery menggeleng.


"Siapa, Mas?" Chalodra datang dari dapur, hendak menghampiri Hendery. Netra miliknya mendapati sang adik ipar duduk di sofa, lantas menyapa dengan senyuman. "Eh, Taka," sapa Chalodra.


"Hai, Kakak Ipar!" balas Taka.


"Casandra tidak ikut?" tanya Chalodra.


"Masih di mobil, ambil barang tertinggal."


Chalodra mengangguk paham, dia menatap sejenak sang suami yang berdiri di sampingnya. "Taka, kamu mau dibuatkan minum---"


"Kopi susu satu gelas," sahut Taka.


Chalodra mengulas senyum tipis. "Mau juga?" tawarnya kepada Hendery.


"Boleh."


Chalodra pun melenggang meninggalkan mereka menuju dapur.


Taka mendongak, menatap sang kakak yang terus melihat ke arahnya dengan tatapan elang. "Ih, apa kalian sedang mesraan? Makanya, Kakak jadi marah karena aku datang?" cecar Taka.


"Iya! Dasar, pengganggu!" Hendery memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Ayo, kita bicara di ruangan aku!" ajak Hendery.


Taka bingung, ada masalah apa lagi? Meski begitu, Taka tetap mengikuti langkah kaki Hendery yang membawanya menuju lantai dua, tepatnya ruangan rahasia Hendery. Walaupun sekarang bukan lagi rahasia untuk Chalodra.


Wanita itu menuangkan air panas dari termos ke cangkir putih, yang sudah berisi kopi bubuk. Chalodra pun mengaduk kopi tersebut, muncul usap tipis dari dalamnya. "Kak Chalodra!" sapa Casandra, berlari ke arahnya dan memeluknya erat.


Chalodra sedikit terkejut, kemudian membalas pelukan itu. "Sudah lama tidak ketemu, ya?" pekik Casandra sembari melepasnya.


Chalodra mengangguk setuju. Mereka jarang bertemu, bahkan jika Hendery dan Taka tidak membuat janji temu, mungkin Chalodra dan Casandra pun tak akan berjumpa. "Kamu juga tidak pernah main ke sini," ucap Chalodra.


Casandra hanya tersenyum miring. "Taka sama Kak Hendery ke mana?" tanya Casandra.


"Loh? Di ruang tamu tidak ada?" Casandra menggelengkan kepala.


"Tadi mereka di sana."


"Mungkin sedang membicarakan hal penting." Casandra berjalan mendekati oven, mengintipnya sedikit. "Sedang buat kue?" tanya Casandra.


"Iya. Tinggal satu lagi," jawab Chalodra. Dia pun meletakkan dua gelas kopi tersebut di meja dapur. Lalu, kembali mengaduk adonan yang tadi ditinggalkannya.


"Ini mau buat apa?" tanya Casandra, berdiri di samping Chalodra.


"Brownis cokelat."


"Enak, tuh!"


Chalodra tidak lagi merasa kesepian yang teramat mendalam. Kini, dia memasak kue ditemani Casandra, meski gadis itu kurang ahli dalam hal dapur. Jujur saja, Chalodra sedikit kesal karena Casandra tadi hampir memasukkan garam, seharusnya gula.


Waktu terus berjalan, kue yang berada lama di dalam oven pun sudah matang. Chalodra mengeluarkan dari dalamnya dengan tangan berselimut sarung tangan. Chalodra dan Casandra bersorak ria karena berhasil tanpa gosong sedikit pun.


"Ini kalau dihias sepertinya bagus," ujar Chalodra.


"Setuju! Aku pernah ikut kelas seni, sepertinya bakat itu masih ada." Casandra menatap Chalodra dengan penuh harap. "Jadi, aku boleh hias?" tanyanya.


Chalodra sedikit ragu akan hasilnya karena baru sentuhan pertama, hiasan itu terlihat sudah tidak rapi. Namun, Chalodra hanya bisa mengamatinya.


Casandra bergerak seperti profesional, meratakan krim putih tersebut dengan pisau tipis. "Ada stroberi?" tanya Casandra.


Chalodra mengangguk dan mengambilnya dari almari es. Gadis itu memotong stroberi menjadi dua dan meletakkannya di tengah kue yang sudah diolesi krim. "Sudah!" pekik Casandra.


Chalodra membelalakkan matanya, melihat kue yang awalnya berwarna cokelat rapi menjadi putih berantakan. "Iya, bagus," ucap Chalodra, tentunya bohong karena bila jujur pasti membuat Casandra sedih.


Tidak lama, Hendery dan Taka jalan berdampingan menuju dapur dan menyapa. "Kuenya sudah jadi, Cha?" tanya Hendery, Chalodra pun mengangguk singkat. "Mana?"


"Ini! Kue hasil hiasan Casandra!" pekik gadis itu dengan sangat amat percaya diri, menyodorkan kue tersebut kepada Taka dan Hendery.


Dua lelaki itu membulatkan lebar matanya. Hendery memalingkan wajah, mencoba tidak berekspresi. Namun, Taka tidak segan menunjukkan tanggapannya yang natural. "Gila!" hardik Taka.


"Apaan, sih?!" gerutu Casandra.


"Kamu pikir itu bagus?" Casandra mengangguk. "Bagus dari mana? Ugly cake itu namanya!" seru Taka. Dia mengusap kasar wajahnya karena frustrasi.


Ucapan jujur Taka sontak mengundang emosi Casandra. "Tampilan itu tidak penting! Yang penting rasanya enak!" ujar Casandra.


"Benar! Ayo, kita coba bersama," ajak Chalodra. "Itu kopi kalian. Sekalian di bawa!"


Chalodra pun melangkah mendahului mereka, membiarkan Casandra membawakan kuenya.


"Enak," ungkap Taka setelah menyuapi mulutnya dengan sepotong kue tadi.


"Apa aku bilang?!" sahut Casandra.


Di ruang tamu, televisi menyala menjadi tontonan mereka seraya menikmati kue brownis cokelat. Hendery meneguk kopinya, kemudian menarik Chalodra agar lebih dekat dengannya. "Jangan terlalu banyak makan kuenya!" tutur Hendery.


Chalodra mengangguk. Lalu, dia menyuapi Hendery sepotong kue di tangannya.


"Sebenarnya, aku ke sini juga mau minta saran tema pernikahan," ujar Taka. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Lalu, ditunjukkan layar dengan gambar suasana kepada Hendery. "1, 2, atau 3?"


Tema satu merupakan outdoor dengan pemandangan pantai. Beberapa bunga di sekitar dan altar di tengah tempat duduk untuk tamu.


Tema kedua, outdoor yang bertempat di halaman rumah, tepatnya rumah Taka sendiri.


Tema tiga, merupakan indoor yang akan digelar di sebuah gedung dominan warna gold.


Hendery pun menunjukkannya kepada Chalodra. "Menurut aku, lebih bagus dan menarik tema kedua," ujar Chalodra.


"Setuju. Tetangga kamu juga bisa datang, karena lokasinya dekat," sambung Hendery.


"Kak Hendery ikut-ikut Kak Chalodra, aja! Jujur, deh, bagus yang mana?!" celetuk Taka.


"Kamu mau yang mana?! Kalau tidak setuju pendapat orang, lebih baik tidak perlu tanya!" sarkas Hendery.


"Ya ... bercanda! Jangan marah!" Ikut merasa kesal, Casandra mendaratkan pukulan keras di paha Taka hingga lelaki itu meringis. Sedangkan Hendery, dia mendengus kesal membuat Chalodra mengelus dada Hendery untuk menenangkan.


Memang, adik Hendery itu benar-benar sulit untuk sekali saja tidak membuat orang lain kesal.


...Komen ekspresi kamu untuk episode! ...


...Jangan lupa komen! ...


...Like wajib! ...


...Follow juga dong! ...


...Ehehehe...


...Salam hangat...


...🐰...