
Bulan telah berganti, 6 minggu terakhir tidak ada yang menganggu kehidupan kedua suami istri ini. Tentu saja Chalodra menikmatinya. Apalagi suaminya itu juga tidak perlu terlalu khawatir dengan keadaan.
Hendery mengunjungi kantor beberapa hari, Chalodra juga sering mengantarkan makanan. Namun, pernah Hendery tidak benar-benar pergi, tetapi beraksi sebagai seorang mafia. Chalodra begitu gelisah dan memarahi Hendery setiba di rumah.
Kejadian itu, membuat Chalodra marah, menolak berbicara dengan sang suami selama tiga hari. Bahkan, Hendery begadang di ruangannya karena memikirkan Chalodra. Namun, keduanya berbaikan selang beberapa hari. Jika saja Hendery tidak pingsan, mungkin Chalodra masih tetap marah.
Kini Chalodra berkutat di dapur, membantu Bi Aya menyiapkan makan siang. Semenjak pertengkaran, Hendery menyempatkan pulang saat istirahat. Chalodra menumis sayur capcay dengan beberapa potongan jagung. Bi Aya tengah membuat jus wortel, kesukaan Tuannya. Juga untuk Chalodra, tetapi dengan buah jambu.
"Bi, piringnya," ujar Chalodra.
"Iya," jawab Bi Aya, lalu memberikan piring kosong kepada Chalodra.
Dengan telaten, Chalodra memindahkan makanan panas itu ke atas piring. "Sudah selesai semua, Bi? Langsung dibawa ke meja makan, ya," kata Chalodra.
"Baik, Non." Bi Aya membawa dua piring, dibawanya ke meja makan dan ditata dengan rapi. Chalodra juga membantu, menata piring.
"Tinggal jusnya, Non. Bibi ambil sebentar," ujar Bi Aya. Hendak pergi, tetapi dihentikan Chalodra.
"Biar Chalodra yang ambil. Bi Aya siapkan piringnya!" Bi Aya mengangguk, lalu Chalodra melangkah ke dapur.
Lain dari dugaannya, Chalodra ambruk begitu sampai di dalam dapur. Untungnya masih belum membawa gelas, membuatnya selamat dari pecahan kaca.
Hendery datang, membawa kantung plastik berisi bunga. Dia letakkan di atas meja. "Chalodra mana?" tanya Hendery.
"Di dapur, sedang ambil jus," jawab Bi Aya. Dia pun sudah selesai menata piring. "Biar saya panggil. Tuan Hendery duduk saja dulu!" Hendery mengangguk, lalu mendudukkan pantatnya ke kursi.
Bi Aya berjalan pelan, tetapi langkahnya terhenti kala melihat tubuh itu tergeletak di lantai. Bergegas Bi Aya berputar balik dan memanggil tuannya. "Tuan Hendery, Non Chalodra pingsan!" katanya dengan suara keras.
Hendery membulatkan matanya dan langsung berdiri, lalu berlari ke arah dapur. Hendery langsung memangku Chalodra, sambil mengelus wajahnya dengan lembut. Sedangkan Bi Aya juga panik, wanita tua itu terus mengucapkan kata maaf. "Maaf, Tuan, seharusnya saya tidak membiarkan Non Chalodra pergi," kata Bi Aya tentunya dengan air mata yang sudah menetes.
"Tidak apa-apa. Tolong telepon Dokter Bayu!" pinta Hendery, lalu membawa Chalodra pergi ke kamar.
"Baik." Bi Aya dengan tangan gemetarnya menekan nomor telepon dokter itu.
Hendery tidak hanya panik, kenapa Chalodra sering sekali pingsan? Apa karena daya tahan tubuhnya menurun? Mungkin saja dampak dari masa lalu, karena Hendery sering kasar kepada istrinya itu. Tentu saja menjadi pikiran bagi Hendery, juga ada rasa menyesal di dalam lubuk hatinya.
Sambil menunggu kedatangan dokter yang merupakan sahabat sang istri, Hendery menggosok telapak tangan Chalodra bergantian dengan tangannya. Tubuh Chalodra mendingin, keringat pun mulai keluar. Hendery menggigit bibir bawahnya. "Ck, apa perjalanan ke sini harus melewati rawa?" gerutu Hendery.
"Lama sekali dia. Bisa-bisa Chalodra menjadi lebih parah," gumamnya pelan. Hendery membelai pipi sang istri dengan lembut.
Bi Aya memasuki kamar, karena pintu itu terbuka lebar. "Tuan, lebih baik dikasih minyak kayu putih terlebih dahulu," ujar Bi Aya.
"Diminum, Bi?" tanya Hendery, Bi Aya sontak menggeleng kuat. Ternyata pengetahuan tuannya itu tidak luas dan daya ingatnya mudah hilang. Padahal, ketika Chalodra pingsan, Bi Aya selalu memberikan minyak.
"Sebentar, saya ambilkan," katanya. Bi Aya berlari ke kamarnya untuk mengambil minyak dan kembali dengan cepat. "Ini, Tuan. Dioleskan di hidungnya."
Hendery mengerutkan dahi, tetap mengikuti instruksi Bi Aya. "Apa tidak panas?" tanya Hendery setelah mengaplikasikan minyak di bawah hidung Chalodra.
"Sedikit," jawab Bi Aya.
Tidak lama, kepala Chalodra bergerak dan perlahan matanya terbuka. Hendery panik dan langsung mengelus kepala Chalodra. "Cha?"
Chalodra membuka mata, mengedarkan pandangannya yang awalnya pudar. "Mas? Aku pingsan lagi, ya?" tanyanya. Hendery mengangguk.
"Hidung kamu panas gak, Cha?" tanya Hendery. Chalodra mengangguk. "Itu tadi di suruh Bibi ngasih minyak kayu putih."
"Gak apa-apa," kata Chalodra. Dia bangun, mencoba untuk duduk dengan dibantu Hendery.
"Permisi!" Suara seseorang itu menggema, dia langsung berdiri di samping Hendery.
"Maaf, tadi ban mobil saya kempes dan harus cari ojek," jawabnya.
"Ya sudah, tolong periksa Chalodra!" pinta Hendery. Dia berdiri dari duduknya, membiarkan Bayu mengantikan tempatnya.
Bayu mengeluarkan alat pemeriksanya. "Permisi ya, Cha," katanya. Bayu mulai memeriksa, dari dada lalu perut. "Cha, kamu sudah tahu?"
Chalodra membulatkan matanya. "Apa, Bay?"
Bayu tersenyum tipis. "Kamu hamil," kata Bayu. "Kalau tidak percaya, bisa kamu tes sendiri kok."
.....
"Leon, Papa dengar dari anak buah Papa, kamu melakukan hal yang tidak-tidak kepada saudari kamu." Pria jakun mendudukkan tubuhnya di atas sofa, dia baru saja meminum obat rutinnya.
Terlibat seorang laki-laki memainkan laptop. Dia tidak menjawab sepatah kata pun.
Anggara, dia menghela napas berat lalu berjalan mendekati sang putra, duduk di sofa. "Kamu pasti belum tahu semuanya," katanya. Suara berat yang keluar dari bibirnya, membuatnya jelas sedang tidak sehat.
"Mama dari Chalodra, dia pernah menyelamatkan kamu."
"Kamu kehilangan banyak darah, karena Mama kamu punya riwayat darah rendah, akhirnya Mama Chalodra teman Mama kamu itu yang melakukannya."
"Chalodra ditinggal Mamanya saat berusia dua tahun, dia anak terkahir Papa. Karena hidupnya dalam bahaya, Papa menitipkannya ke Ratu."
"Leon tahu," balasnya.
"Sekadar dia saudari tiri kamu? Waktu itu kamu masih berusia 8 tahun."
"Papa tahu, Leon, kamu sayang sama Papa," ucap pria itu mulai lirih. "Papa juga sayang sama kamu. Kamu anak laki-laki Papa satu-satunya."
"Papa juga sayang saudari kamu yang lain."
"Papa mohon, jangan benci Chalodra dan Asah, kakaknya."
"Leon gak akan berhenti. Leon mau buat kehidupan dia gak tenang. Karena dia, Papa banyak pikiran, banyak gerak, dan sekarang ... Papa terkena kanker," seru Leon. Dia menatap tajam Anggara.
"Leon, kalau kamu sayang sama Papa, kamu mau 'kan turutin permintaan terakhir Papa?"
Leon tersentak kaget, lantas menggeleng kuat.
"Leon, Papa kayak gini bukan karena adik kamu. Tapi karena seseorang yang gak biarin mereka bahagia, karena itu Papa ikut bertindak jadi antagonis mereka."
"Karena seseorang. Benar 'kan? Kalau orang itu tidak menganggu adik kamu, Papa tidak akan seperti ini."
"Seseorang, yang sekarang bekerja sama dengan kamu," ucap Anggara.
Leon terdiam sejenak, benar juga. Chalodra adiknya, anak papanya. Dan permintaan terakhir dari papanya. Leon menghembuskan napas panjang. "Kalau itu yang Papa mau," ucapnya. Meski begitu, dia paling lemah jika bersangkutan dengan yang namanya keluarga.
"Papa bangga sama kamu, Nak."
Leon mengukir senyum tipis, sudah lama tidak mendengar panggilan itu dari papanya. Leon dengan cepat memeluk erat Anggara.
"Sekarang, kamu mau 'kan, antar Papa ke rumah Chalodra?"
"Kalau itu Leon tolak!"