I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
37. Memperbaiki hubungan



...SELAMAT MEMBACA...


Matahari begitu cerah dengan cahayanya menyinari luasnya tanah di bumi. Burung-burung berkicau saling bersahutan. Mobil hitam dengan empat roda berhenti di tempat parkir sebuah bangunan bertingkat. Pria itu turun mengenakan setelan jas dan melangkahkan kaki lebarnya.


Hendery memasuki rumah sakit, tatapan tajamnya tidak teralihkan dari jalan. Mata sipitnya memandangi segala penjuru arah. Langkah Hendery terhenti, tepat di depan pria jakun. Hendery mengerutkan alisnya, dia mengintimidasi begitu dalam.


Di depan resepsionis, Hendery membeku karena terkejut. "Hai," sapa pria itu dengan suara serak. Carlon, dia mengukir senyum tipis.


Hendery tidak menjawab, meski banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan. Hendery membuang muka, bersikap acuh terhadap orang itu. "Ada apa?" Kali ini, Hendery semakin menajamkan tatapannya.


"Hanya ingin menyapa," jawab Carlon, lalu melenggang pergi melewati Hendery begitu saja.


Hendery semakin dibuat takut, apa dia melakukan sesuatu kepada Chalodra? Seseorang menepuk pundak Hendery, membuat laki-laki itu berbalik karena terkejut. Bayu, tersenyum lebar menyapa Hendery. "Kamu kenal dia?" tanya Bayu sambil menunjuk punggung Carlon.


Hendery mengangguk. "Dia Papaku," jawab Hendery.


"Oh, syukurlah aku bisa berkonsultasi dengan keluarganya."


Ucapan Bayu membuat Hendery mengerutkan kening. "Maksud kamu?" tanya Hendery.


Bayu menepuk-nepuk pundak Hendery sambil berujar, "Sebagai keluarga, kamu harus terus memberikan support!"


Hendery semakin dibuat bingung. "Beliau terkena serangan jantung," kata Bayu.


Hendery melebarkan matanya. Kenyataan itu membuatnya sulit untuk menerima. Papanya yang jahat, sekarang terkena penyakit mematikan. "Support dia terus, ya!" pinta Bayu. "Oh, iya, aku harus memeriksa keadaan Chalodra sekarang."


Hendery hanya mengangguk singkat. Sebenarnya, ada rasa sedih dan kasihan terhadap kondisi Carlon, sebab pria tua itu hidup sendiri, hanya dengan para anak buahnya. Namun, mungkin ini adalah balasan Tuhan karena kejahatan Carlon. Mau bagaimana pun, Carlon adalah orang tua Hendery.


Mentari pun tahu, orang bahagia dan ia akan bersinar. Chalodra duduk di bangku taman, menikmati sinar matahari untuk kesehatan tubuh. Tentunya, ditemani suami tercinta, Hendery menggenggam erat tangan Chalodra. Selang infus sudah terlepas, hari ini juga sebenarnya sudah diizinkan pulang. Namun, Hendery masih belum meyakini tempat untuk ditinggali.


Egry memang sudah dikurung oleh Taka, tetapi Carlon masih berkeliaran dengan anak buahnya. Rumah pertama, itu terlalu tidak aman, karena Carlon sering kali datang untuk mengunjungi kamar almarhum istrinya. Rumah kedua, jauh dari pemukiman dan terkesan sepi. Rumah Tivani juga sudah diketahui Carlon, begitu juga kediaman Taka.


Hendery bahkan memikirkan hal ini semalaman, karena juga kasihan bila harus membiarkan Chalodra tetap di rumah sakit.


Berbeda dengan Chalodra, dia tidak mempermasalahkan hal itu. Namun, orang yang mirip Hendery, Chalodra masih penasaran. Beberapa hari ini, Chalodra juga sering merasa pusing, mungkin karena terlalu banyak beban pikiran.


"Mas!" Chalodra menaikkan nada bicaranya, pasalnya Hendery tidak menggubrisnya.


Hendery menoleh seketika dengan matanya yang melebar. "Ya? Ada apa, Cha?"


Chalodra mendengus kesal, lalu memalingkan wajahnya. "Padahal aku ada di sini, loh. Aku panggil, Mas sama sekali tidak dengar."


"Ma-Maaf, Cha." Hendery menarik kedua pipi Chalodra, agar istrinya menatapnya. "Kamu mau apa, Sayangku?"


Meski begitu, Chalodra tetap tidak bisa marah. Rasanya Hendery begitu menggemaskan apabila bersikap manis. Pipi Chalodra memanas, seperti berada di hamparan bunga.


Di tengah pepohonan rimbun itu, seorang laki-laki keluar dari mobil. Rambutnya bersinar dan tertata rapi. Bibir tipis itu bergumam, "Matahari bersinar layaknya wajah indah bidadari, yang aku miliki." Senyum tipis kemudian terukir di wajahnya.


Dia berjalan ke sebuah bangunan kecil, di tengah hutan minus menjulang tinggi. Lelaki itu membuka pintu yang digembok, lalu manik matanya melebar begitu melihat kekosongan di dalamnya. "Sialan!" umpatnya.


Taka mengusap wajahnya frustrasi. Dia berteriak hingga suara itu menggema. "Sialan! Egry sialan!"


Taka menggerutu sepanjang jalan. Ternyata, lubang kotak itu tidak tertutup, mungkin Casandra kurang rapat saat menutupnya. Namun, Taka hanya bisa mengumpat, tak mampu bibir ini menyalahkan gadis itu.


Taka membanting pintu mobilnya, membuat beberapa pejalan menatap ken arahnya. Bagaimana tidak? Mobil Taka mewah, tetapi laki-laki itu menutupnya dengan keras. Dia menarik napas dalam, lalu dihembuskannya sebelum menghadapi reaksi kakaknya, saat tahu Egry telah kabur.


Tak berdeham, menetralkan suaranya saat melihat Hendery membelakangi pintu. Hendery berdiri di samping brankar Chalodra, sambil mengelus kepala Chalodra. Jantung Taka berdebar, tubuhnya bergetar hebat. Memberanikan diri, Taka berjalan mendekat.


Ketika Chalodra menyadari kedatangan Taka, dia tersenyum lebar. Taka agak takut melihat ekspresi datar wajah Hendery. Tidak bisa dibayangkan, saat Hendery memarahi Taka. Taka hanya bisa mengukir senyum tipis.


"Bicara!"


Jawab Hendery saja sudah membuat bulu kuduk Taka berdiri, ngeri sekali jika harus menatap mata Hendery. "Tapi, Kakak jangan marah!"


Chalodra hanya diam sambil menyuapi mulutnya dengan anggur. Hendery berjalan mendekati Taka. Kini, mereka berdua berada di depan pintu, membelakangi Chalodra.


"Egry kabur," gumam Taka.


Tetap saja, wajah Hendery tidak berekspresi. "Kenapa bisa?"


"Lubangnya tidak aku tutup dengan benar." Taka hanya menunduk, pasti wajah Hendery menakutkan, itu yang dibayangkan olehTaka.


"Ya sudah, biarkan." Hendery melenggang, kembali mendekati Chalodra.


Sontak Taka mendongak, tetapi sudah tidak melihat tubuh besar Hendery berada di depannya. "Kak?" Taka dengan cepat mendekati Hendery. "Kakak tidak marah?" Hendery menggelengkan kepala.


"Ada apa?" tanya Chalodra, penasaran melihat kehebohan Taka.


"Permisi!"


Serentak, atensi teralih pada seorang dokter muda. "Chalodra sudah bisa pulang besok," katanya.


Chalodra mengukir senyum lebar, sangat senang karena akan pulang. Chalodra sendiri, tidak nyaman bila harus terus berada di rumah sakit, rasanya bosan dan selalu kantuk. "Makasih, Bayu," ucap Chalodra.


"Terima kasih sudah merawat istri saya," sambung Hendery.


Bayu tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat, lalu dia mengangguk. "Sudah tugas aku, sebagai seorang dokter," jawab Bayu.


.....


Terangnya langit, kini berubah menjadi gelap. Matahari telah pulang, bintang-bintang berjejer dengan jarak yang jauh. Sedangkan bulan, ia sendiri diam membisu. Sepertinya, bulan melihat kemesraan Hendery dan Chalodra.


Dua pasangan itu, tengah memandangi langit yang indah malam ini. Di sebuah bangku kayu, di tengah hamparan bunga, Hendery merangkul pundak Chalodra, dan membiarkan wanitanya bersandar pada bahu lebarnya. Mereka terlihat menikmati, merasakan kesejukan, serta memperdalam cinta.


"Mas, aku boleh tanya?" ucap Chalodra.


"Tanya apa, Sayang?"


Chalodra lagi-lagi merinding, bukannya tidak nyaman, hanya saja terasa tidak berat untuk diterima. "Tujuan awal kamu menikahi aku, apa hanya sebatas menolong?"


"Awalnya, tetapi seiring berjalannya waktu, Mas mencintai kamu, Cha."


Chalodra tidak melihat, senyum tipis dan tulus Hendery, tatapan matanya yang hangat, Chalodra melewatkan semuanya, karena lebih nyaman bersandar di bahu lebar suaminya. "Tugas yang diberikan Papa Carlon, bagaimana?" tanya Chalodra, lagi.


"Dari awal, Mas sebenarnya tidak mau. Hati Mas menolak melakukan itu."


"Sekarang?"


"Sekarang, Mas tidak peduli meski melawan Papa. Papa tidak pernah ada, saat aku kesulitan, dia tidak peduli. Jadi, Mas tidak akan melakukan tugas itu," kata Hendery.


"Tapi, kita jadi harus mengalami gangguan ini semua, Mas. Apa lebih baik, kalau Mas melakukan tugas itu?" ucap Chalodra, dengan suara pelan dan lembut.


"Tidak, Cha! Itu sama saja, kamu mau membuat Mas mati. Kamu mati, Mas juga akan mati. Meski bukan fisik Mas, tetapi jiwa Mas yang mati." Suara serak dan berat Hendery, membuat pelupuk matanya digenangi air mata. "Memangnya, kamu tidak mencintai Mas?"


"Mas!" Chalodra terbangun, tubuhnya terangkat hingga terduduk dari tidurnya. Mimpi indah, tetapi membuat Chalodra berpikir keras.


...Yey! Reyna gak capek ngingetin ya, buat like setiap episode yang kamu baca. Favoritnya dong supaya gak ketinggalan episode terbaru. Follow juga kalau bisa❤...