
Hendery melipat kedua tangannya di depan dada, berdiri di balkon untuk melihat ke arah rumah tetangganya. Namun, di sana terlihat sepi, hanya cahaya lampu remang yang dapat dilihat Hendery. Lalu, dia masuk dan membanting tubuhnya di kasur.
Buket bunga cantik yang sudah dibeli Hendery, tergeletak di lantai. Bungkusnya sedikit kusut karena Hendery diremas olehnya.
Hendery menutupi wajahnya dengan kedua tangan, meredamkan rasa kesal yang membara dalam dirinya. "Cha, kamu buat Mas kesal," gumam Hendery. "Mas sudah selesaikan pekerjaannya dengan cepat, loh."
Tiada guna hanya menggerutu, tetapi Hendery tidak bisa melakukan keinginannya. Datang ke rumah Bunga dan memaksa Chalodra untuk pulang. Namun, Hendery tak tega. Pada akhirnya, lelaki itu memutuskan pergi ke kamar mandi membersihkan badan.
Rumah Pras dan Bunga tidak terlalu besar, tetapi terlihat elegan dan rapi. Chalodra mengedarkan pandangannya sembari menghabiskan makanan di piring. "Rumahnya bersih, ya?" ucap Chalodra.
"Papa Bunga hobi membersihkan, loh," sahut Bunga.
"Papa kamu memang rajin dari dulu," ucap Chalodra pada Pras, sedangkan pria itu hanya mengulas senyum malu-malu.
Pras membawa piring kotor ke tempat cuci piring di dapur, kemudian disusul oleh Chalodra. "Biar aku bantu cuci," ujar Chalodra.
"Tidak usah. Kamu bisa pulang, kok," jawab Pras.
"Aku mau bantu, tidak bisa hanya ikut makan saja."
Pras mengulas senyum tipis, kemudian mengangguk singkat. "Bunga mana?" tanya Pras.
"Menonton televisi," jawab Chalodra. "Kamu lap piring saja! Biar aku yang cuci." Chalodra memposisikan dirinya menghadap wastafel untuk mencuci piring.
Mereka bekerja sama dengan baik. Bunga mencuci piring yang terdiri dari beberapa biji, kemudian dilap dengan kain oleh Pras.
"Suami kamu tidak marah, Cha?"
"Mas Hendery sedang ke luar kota, besok pagi baru pulang."
"Suami kamu itu baik, ya?" celetuk Pras, lantas menarik Chalodra untuk membahasnya semakin jauh. "Setahu aku, kamu sulit didapatkan."
"Iya, Mas Hendery sangat baik, berbeda dari dulu."
"Dulu? Dulu kapan?"
"Waktu pertama kali menikah." Pras terlihat berpikir, memutar bola matanya. "Sudah! Tidak perlu dibahas!" kata Chalodra.
Mereka pun kembali bergulat dengan piring-piring itu. Lalu, Bunga berlari menghampiri sang papa dan memeluk kaki panjangnya. "Pa, Bunga ngantuk," ucapnya dengan suara pelan.
Mata gadis kecil itu sudah sayu, dia pun menguap berulang kali. Pras menatap Chalodra. "Kamu pulang saja, Cha!" ujar Pras.
"Aku mau tidur sama Kakak!" pekik Bunga.
Pras dan Chalodra saling menatap. Lalu, Pras berjongkok di depan Bunga. "Ini sudah malam, Kak Chalodra harus pulang. Bunga tidur sama Papa, ya?" ucap Pras.
Bunga menggelengkan kuat kepalanya. "Mau sama Kak Chalodra!"
Pras mendongak, menatap Chalodra yang menganggukkan kepala.
Di kediaman Hendery, Bi Aya mondar-mandir di dapur kala melihat Hendery berdiri tegak di depan pintu, menunggu kedatangan sang istri. Bi Aya mengigit kuku jemari tangannya. "Non Chalodra ini kenapa belum pulang, sih?!" gumam wanita itu.
Bunga menarik tangan Chalodra, membawanya ke kamar. Lalu, gadis itu tidur dengan posisi miring menghadap Chalodra. Chalodra pun menepuk pelan punggung Bunga. "Tidur, ya," tutur Chalodra.
Bunga mulai memejamkan matanya hingga dia larut dalam mimpinya. Chalodra mengintip, rupanya gadis itu benar-benar sudah tidur. Chalodra pun memutuskan untuk beranjak karena hari sudah larut malam.
Chalodra keluar kamar, mendapati Pras tengah merapikan mainan Bunga di ruang tengah. "Bunga sudah tidur?" tanya Pras.
Chalodra mengangguk. "Aku harus pulang. Terima kasih atas makan malamnya," ucap Chalodra.
"Maaf, merepotkan kamu karena harus menemani Bunga tidur dulu."
"Iya, hati-hati!"
Chalodra pun melangkahkan kaki meninggalkan kediaman Pras. Dia berjalan cepat untuk sampai ke rumahnya. "Sudah pukul 10," gumam Chalodra melihat jam di pergelangan tangan.
Chalodra sontak membuatkan mata melihat sosok Hendery tidur di sofa. "Mas Hendery?" Terlihat Bi Aya berlari kecil mendekatinya.
Wanita itu membisikkan sesuatu kepada Chalodra, yang membuat Chalodra meneguk ludah. "Tuan sudah sampai jam 8 tadi. Dia terlihat marah saat Bibi kasih tahu kalau Non di rumah sebelah," bisik Bi Aya.
Bi Aya pun melenggang pergi dengan langkah yang hati-hati. Takut ketahuan tuannya.
Chalodra mencengkram rok yang dikenakan olehnya, memandang sang suami yang tiduran di sofa dengan posisi tidak nyaman. "Pasti marah." Chalodra memberanikan diri, mendekati Hendery.
Chalodra menghembuskan napas panjang, kemudian menundukkan tubuhnya dan mengecup kening Hendery. Lelaki itu sontak membuka mata dan menatap tajam Chalodra. "M-mas?" Chalodra kembali menegakkan tubuhnya, mengulas senyum lebar.
Hendery memalingkan wajah, bangun dari tidurnya dan duduk tanpa menatap Chalodra. Tangan kekar itu menyisir rambut hitamnya ke belakang. Dia menghela napas panjang dari mulut.
Tanpa sepatah kata, Hendery melenggang pergi melewati Chalodra begitu saja. Lelaki itu menaiki tangga dan masuk ke kamar. Chalodra mengigit bibir, merasakan kekhawatiran untuk dirinya sendiri.
"Mampus kamu, Cha!" gerutu Chalodra.
Chalodra berdecak kesal, kemudian menyusul Hendery ke kamar.
Saat membuka pintu kamar, tatapan tajam Hendery menyorot Chalodra membuat wanita itu bergerak kaku. Lalu, Chalodra pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki.
Di dalam kamar mandi, Chalodra menatap dirinya di kaca. Dia merintih pelan karena ketakutan menguasai. "Aduh, masa aku harus di kamar mandi terus?" gerutu Chalodra.
Setelah selesai dari kamar mandi, Hendery masih berada di tempat yang sama, tidak bergerak sedikit pun dari tempat tidur.
Chalodra memutuskan untuk mendekat, duduk di samping suaminya dan menggenggam tangan kekar itu. "Mas," panggil Chalodra, tetapi Hendery tidak menoleh. "Mas, maaf!" Dia merengek, tetapi Hendery tak menggubris.
Benda indah ditemukan oleh netra Chalodra, dia beranjak untuk mengambil benda itu dari lantai. "Mas, buat aku?" Masih tidak ada jawaban, Chalodra kembali duduk di samping Hendery. "Buat aku, kan?" tanya Chalodra.
Hendery tak tahan untuk tidak memarahi Chalodra. Dia menatap tajam hingga membuat sang istri mematung. "Enak makan malamnya?" celetuk Hendery.
Chalodra terdiam, mengigit bibirnya dengan kuat. "Jangan digigit!" ujar Hendery, menyentuh dagu Chalodra. "Bagaimana? Makan malamnya enak atau tidak?"
"M-mas, maaf. Aku tidak bisa menolak undangan Bunga," ungkap Chalodra. Dia tidak berani menatap manik Hendery yang mengintimidasi. "Kamu bilang pulang besok pagi."
"Aku sengaja mau buat kejutan," ucap Hendery. "Bunga itu aku beli untuk kamu. Aku mau ajak kamu dinner di restoran. Aku mau kasih kamu kejutan yang romantis. Tapi, malah aku yang dapat kejutannya." Hendery melepaskan genggaman tangannya, memalingkan wajah ke arah lain.
Chalodra masih tidak berani mengangkat kepala, air matanya tiba-tiba menetes. "Maaf, Mas," kata Chalodra.
"Mas tahu kamu kasihan dengan Bunga, tapi tolong jangan berlebihan, Cha!"
"Mas mau tanya, kamu yakin tadi itu hanya makan malam?" seru Hendery.
Chalodra sontak menatap Hendery. "Mas tuduh aku melakukan hal lain?"
"Mas hanya tanya, kamu hanya perlu menjawab."
"Setalah makan malam, aku bantu cuci piring. Setelah itu, Bunga minta aku menemaninya tidur. Setelahnya lagi, aku pamit untuk pulang," jelas Chalodra. Terdengar suaranya penuh emosi.
Hendery menghela napas panjang mendengarnya. "Mas hanya kecewa, Cha," ungkapnya. "Mas menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari rencana sebelumnya, agar bisa pulang dan bertemu kamu."
"Tapi, saat pulang, yang Mas dapatkan malah hal seperti ini."
Chalodra terdiam, apa dirinya terlalu lancang karena keluar di malam hari? Apalagi saat ini masih ada Egry yang mengintai.
"Jangan lupakan Egry yang masih incar kamu, Cha!" ucap Hendery.