
...SELAMAT MEMBACA...
Semangat yang membara dalam diri Chalodra sudah tidak bisa dipadamkan, dia turun dari mobil dengan bibir tertarik lebar. "Mas, cepat!" pinta Chalodra pada Hendery.
Chalodra berlari kecil, disusul oleh Hendery. Chalodra membuka pintu besar itu, lalu melangkah cepat menuju dapur. "Bi Aya!" teriak Chalodra memanggil. Tidak mendapati keberadaan Bi Aya, Chalodra mengerutkan bibirnya. "Bi Aya mana, Mas?" tanya Chalodra pada Hendery.
"Di belakang mungkin. Kamu cek ke sana saja, Cha," jawab Hendery.
"Boleh?" Hendery mengangguk, lalu berpesan, "Tapi jangan jauh-jauh!" Chalodra melenggang melewati Hendery, berlari ke luar rumah.
"Bi Aya," panggil Chalodra sambil celingukan mencari makhluk itu.
"Non Chalodra." Sontak Chalodra berbalik, Bi Aya tersenyum kepadanya. Dengan cepat Chalodra memeluk dengan erat tubuh Bi Aya. "Ih, Non kok baru ke sini?"
"Chalodra kangen sama Bi Aya!"
"Bibi juga, Non. Rasanya sepi gak punya teman." Bi Aya mengendurkan pelukannya, mengusap pipi mulus Chalodra dengan lembut. "Bagaimana kabar kamu?"
"Baik," jawab Chalodra. "Tapi hidup aku masih belum tenang, Bi." Wajah Chalodra berubah lesu, senyum manisnya seketika luntur.
Bi Aya mengusap kepala Chalodra dengan lembut, Chalodra sendiri merasakan sentuhan seorang ibu. "Tuan Hendery pasti akan segera menyelesaikan ini, Non," kata Bi Aya.
"Aku harap bisa secepatnya," sambung Chalodra.
"Sayang! Ini sayurnya ketinggalan." Teriakan itu membuat Chalodra berbalik dengan cepat. Seorang pria berlari sambil menenteng tas belanja. "Eh, ada Non Chalodra?" pekik pria itu terkejut.
"Sayang? Ini suami Bi Aya?" tanya Chalodra, manik matanya membesar dengan alis yang naik sebelah.
"Pacar Bibi ini," ucap Bi Aya dengan malu. "Tio, kamu itu bagaimana?! Jangan teriak-teriak! Ada Tuan Hendery!" tegur Bi Aya.
Chalodra tergelak tawa. "Pak Tio ini satpam di rumah sini 'kan, ya?"
Pak Tio mengangguk dengan gugup. "Maaf ya, Non."
"Tidak masalah. Silakan saja kalau mau berpacaran. Tapi lebih cepat lebih baik," kata Chalodra.
"Hahaha Non Chalodra bisa saja!" sahut Bi Aya. Pipi wanita itu sudah memerah seperti tomat. "Sudah sana! Lanjut kerja!" pinta Bi Aya.
Pak Tio mengangguk dan melenggang meninggalkan keduanya. "Maaf ya, Non," kata Bi Aya. "Sudah makan?"
"Sudah, Bi."
Bi Aya menuntun Chalodra memasuki rumah. Bi Aya sumringah melihat kedatangan Chalodra yang tiba-tiba, sebab semenjak Chalodra pergi, Bi Aya kesepian. Asisten rumah tangga lainnya hanya datang saat waktu membersihkan rumah, tidak full time seperti Bi Aya.
"Non sekarang tinggal di mana?" tanya Bi Aya seraya memotong mangga.
"Di rumah Taka, Bi. Kemarin baru keluar dari rumah sakit, aku abis digigit ular," kata Chalodra.
"Digigit ular?!" pekik Bi Aya, Chalodra mengangguk. "Kok bisa, Non?"
"Aku diculik Egry, Bi. Terus, dia menunjukkan foto laki-laki mirip Mas Hendery bersama anak kecil dan perempuan."
"Ternyata, itu kembaran Mas Hendery dengan keluarganya," lanjut Chalodra, sambil terkekeh ringan. "Aku sampai marah-marah sama Mas Hendery."
"Kembaran? Oh, Mas Amar anaknya sahabat Nyonya."
"Iya, saya tahu semuanya. Nyonya sering curhat sama saya."
Chalodra menganggukkan kepala. "Berarti Bi Aya tahu banyak tentang keluarga ini?"
Bi Aya hanya mengangguk sambil tersenyum. "Mau saya ceritakan semua? Mungkin saja, Non masih belum paham." Bi Aya berjalan mendekati Chalodra, lalu memberikan potongan mangga di atas piring kepada Chalodra.
"Boleh. Sebenarnya, Chalodra juga masih tidak paham."
Bi Aya duduk di kursi, samping Chalodra. "Jadi, dulu itu Mamanya Tuan Hendery punya sahabat, namanya saya lupa, dia mamanya Mas Amar. Mereka sahabat dekat, hingga Mamanya Mas Amar itu menikah. Ternyata, Tuan Carlon menyukai Mamanya Mas Amar, terpaksa Tuan Carlon menikah dengan Nyonya."
"Hingga suatu saat, Mas Amar dan Tuan Hendery lahir di waktu yang sama. Tuan Carlon masih mempunyai dendam, sampai mau membunuh Mas Amar. Mereka pun pindah ke luar negeri."
"Ada satu rahasia terbongkar. Tuan Carlon ternyata sudah mempunyai anak, dan itu anak dari Mamanya Mas Amar. Jadi, mereka pernah melakukan itu, lalu Mamanya Mas Amar hamil. Dendam itu, karena Mamanya Mas Amar menikah dengan pria lain, padahal dia mempunyai hubungan dengan Tuan Carlon."
Chalodra bergeming, tidak berkedip sekali pun. "Anak itu, siapa?"
"Non Tivani," jawab Bi Aya. "Jadi ceritanya seperti itu."
"Ah, tapi aku masih kurang paham, Bi!"
Bi Aya tergelak tawa, ternyata Chalodra hanya cantik, tetapi mempunyai otak yang dangkal. "Kalau begitu, minta diceritakan Tuan Hendery saja."
"Takut, ah."
"Tapi, Non. Hanya keluarga Tuan Carlon yang tahu."
"Keluarga Mas Amar sampai sekarang tidak tahu penyebab asli dendam itu."
.....
Matahari berdiam diri di tengah, sinar terangnya memancar ke segala arah. Chalodra dengan semangat memilih baju yang akan dikenakan besok. Dia baru saja memastikan akan memakai dress panjang berwarna silver. "Kalau Mas Hendery yang mana, ya?" gumam Chalodra. "Ini!"
Chalodra mengambil jas abu-abu, sweater putih, dan celana silver. Lalu dia letakkan di atas kesur. "Cocok. Pasti keren," kata Chalodra. "Mas Hendery mana, ya?"
Chalodra melangkahkan kaki kecilnya keluar kamar. Tanpa sengaja, Chalodra melewati ruangan itu. Dengan rasa penasaran, dia memegang gagang pintu. "Apa Mas Hendery ada di dalam?" gumamnya. Pelan, Chalodra membuka pintu ruangan itu dan memasukinya.
Awalnya tidak ada keanehan, hanya ada meja di tengah, beberapa berkas menumpuk, dan rak bersisi buku-buku. Namun, sebuah kotak di sudut ruangan membuat Chalodra mengernyitkan dahi. Penasaran, Chalodra membukanya, karena tidak terkunci, kotak hitam itu langsung terbuka.
Chalodra bergeming tidak bisa berkata-kata. Dia kembali menutupnya dan berlari ke kamar. Dengan napas memburu, Chalodra merebahka tubuhnya di atas kasur. "Pistol? Pisau? Cutter?"
"Banyak benget!" geram Chalodra sambil menyembunyikan wajahnya di bantal. Benar-benar mimpi buruk. Namun, ini adalah sebuah kenyataan.
Hendery, Taka, Amar, Casandra, dan Maria serta Anya berdiri di ruang tengah. Mereka tengah menunggu Chalodra, yang katanya masih buang air kecil. "Halo semuanya," sapa Chalodra keluar dari kamar.
Mereka berkumpul di rumah Taka, tentunya untuk pergi bersama ke pernikahan Tivani. "Loh, kok pas banget temanya!" pekik Maria. "Abu-abu, silver, sama putih."
Taka dan Casandra sepakat untuk mengenakan pakaian berwarna silver. Sedangkan Amar dan Maria menggenakan abu-abu. Sama seperti tema yang ditentukan Chalodra. Kebetulan yang luar biasa.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Chalodra.
Hendery mengangguk, lalu menggandeng tangan Chalodra untuk pergi. Selama perjalanan, di mobil mereka berdua tidak ada percakapan, sama sekali.
Pesta Tivani digelar begitu besar, sudah banyak tamu berdatangan. Bertema putih dan outdoor, terlihat begitu luar biasa. Andre sudah berdiri di altar dengan setelan jas putihnya. Tivani berjalan pelan menuju altar. Hari ini, detik ini, Tivani menjadi istri Andre.