I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
6. Perempuan lain?!



Begitu terkejutnya Chalodra ketika mendapati seorang perempuan duduk di tempat tidurnya. Baru membuka pintu, dia disuguhkan pemandangan yang aneh. Chalodra segera menghampirinya.


"Kamu siapa?" tanya Chalodra membuat perempuan itu menoleh.


Perempuan itu berdiri lalu menghampiri Chalodra yang hanya terbalut handuk. "Jadi kamu istrinya Hen?" Chalodra mengangguk dengan pertanyaannya. "Pakai baju dulu, aja," tuturnya. Segera Chalodra mengambil baju dari almari kembali masuk ke kamar mandi.


Chalodra mematung sembari memilin jemarinya. Perempuan asing itu menatap tajam Chalodra yang menunduk. Pikiran Chalodra sudah melayang jauh.


'Apa dia pacar Hendery?' Batin Chalodra.


Suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh bersamaan. Chalodra langsung berdiri dari duduknya untuk menghampiri Hendery. Raut wajah Chalodra ketakutan, bagaimana tidak takut melihat perempuan itu berpakaian layaknya penjahat?!


Hendery tersenyum tipis melihat tubuh Chalodra yang sedikit bergetar. "Dasar, penakut," gumam Hendery. Chalodra berdiri di belakang tubuh besar suaminya sambil mencengkram kain pakaian Hendery.


"Apa dia sudah pergi?" tanya perempuan itu.


"Sudah. Dia menyusahkan, banyak mau," jawab Hendery. Dia beralih pada istrinya. "Cha, dia Tivani, kakak perempuan saya."


Chalodra membelalakkan matanya. "Bukan pacar?" Hendery menggeleng cepat.


"Jadi, kamu pikir aku pacarnya Hendery?" Melihat Chalodra yang mengangguk, Tivani tergelak tawa renyah.


Berawal takut dan akhirnya Chalodra berbincang banyak hal bersama Tivani. Hendery sibuk sendiri dengan laptopnya. Meski kakak perempuan Hendery itu terlihat jahat, tetapi dia sangat asik dan mudah tertawa.


"Hendery," panggil Tivani. Hendery mendongak menatap kakaknya itu sambil mengangkat sebelah alisnya. "Aku mau ajak Cha ke luar, boleh?"


Hendery menggeleng. Chalodra tersenyum getir ketika Tivani menatapnya sedih. "Apa aku bilang?" kata Chalodra menggoda Tivani Zahlo yang murung itu.


Chalodra sudah bilang pada Tivani, bahwa Hendery tidak akan pernah mengizinkan Chalodra ke luar rumah, sekalipun dekat. Tivani mengerucutkan bibirnya, dia memandangi Chalodra bingung. "Tapi kamu kok betah? Bahkan setelah kamu menikah, kamu gak pernah pergi ke luar."


"Pernah, dua kali. Ke luar kamar, waktu pernikahan dan saat aku ketemu Taka," jelas Chalodra.


"Artinya selama ini kamu cuman di kamar?!" Manik Tivani melebar. Chalodra hanya mengangguk riang. Tivani menggelengkan kepala dengan perlakuan adiknya terhadap istrinya.


"Hen, kamu kok tega, sih?! Istri kamu bisa terkena depresi. Apalagi Cha itu masih muda." Panjang lebar Tivani menuturkan, tetapi Hendery menanggapinya dengan anggukan.


Mereka bertiga tengah berdiri di ambang pintu. Wajah datar Hendery tidak bisa berbohong bahwa dia tidak peduli dengan tutur kata Tivani. Hendery bersendekap dada mendengarkan Tivani.


"Biarkan dia ke luar kamar. Beraktivitas layaknya seorang istri. Nanti mentalnya terganggu dan kamu sendiri yang menyesal."


"Cha gak perlu bersih-bersih. Tapi izinkan dia ke luar kamar, kasihan juga dikurung terus," ujar Tivani.


"Aku gak pernah biarkan Chalodra pergi ke luar sebelum situasinya aman," balas Hendery dingin. Chalodra menyunggingkan senyum melihat Tivani yang sudah kuwalahan.


"Terserah." Pada akhirnya, Hendery akan tetap mengurung Chalodra di dalam kamar.


"Dan Kakak jangan panggil dia 'Cha'! Itu panggilan khusus aku buat dia," kata Hendery sebelum Tivani berpamitan pergi.


Suasana membeku sejak kepergian kakak perempuan Hendery. Chalodra menjahit bajunya yang bolong karena tersangkut di kamar mandi. Hendery hanya bermain game di ponselnya.


Suara tembakan terdengar dari ponsel Hendery. Sesekali Chalodra melirik ke arah Hendery yang duduk di sofa. Sepertinya, Hendery sangat hebat dalam permainan menembak, mungkin bukan hanya dengan pistol mainan.


Chalodra berdiri dengan kesal, lalu duduk di kursi meja rias untuk mengikat rambutnya.


Hendery melenggang menghampiri Chalodra. Dia berdiri di samping Chalodra dengan bersandar di meja rias. "Aku ingatin kamu, jangan pergi ke luar."


"Kalau kamu dengar sesuatu atau apapun yang menganggu kamu, jangan sekalipun buka pintu!" Tidak mendapat jawaban dari istrinya, Hendery berjongkok lalu mendongak. Tangan kekarnya menggenggam Chalodra dengan erat. "Paham, Cha?"


Chalodra buyar dalam lamunannya, segera dia mengangguk meski banyak pertanyaan yang terlintas di benaknya. "Aku janji."


Mendapatkan jawaban Chalodra, Hendery terlihat senang. Sebelum pergi, Hendery membelai lembut wajah mulus Chalodra dan meninggalkan kecupan di bibirnya.


Chalodra membeku menatap punggung Hendery yang memudar di balik pintu. Lelaki itu sudah mengunci pintu dengan rapat. Tidak pernah Chalodra berhenti, apa alasan ini semua.


Langkahnya yang lunglai mendekat ke tempat tidur. Direbahkan tubuhnya di kasur besar sembari menatap langit-langit yang kosong. Tanpa disadari, tubuhnya bergetar dengan perasaan yang tidak karuan. Chalodra Agatha sudah dibuat jatuh cinta oleh Hendery yang menakutkan itu.


Jauh dari kamar, di mana Chalodra tidur. Ada pria baya yang menghisap rokoknya, sedangkan satu tangannya yang lain memegang botol bir. Hendery menatapnya tidak suka.


Carlon memutar botol bir itu dengan senyum yang terkuras sombong. Kakinya di angkat, diletakkan di atas meja. Memang, dia sedang duduk di sofa mahal milik Hendery. Jika bukan Ayahnya, Hendery sudah melepaskan peluru ke kepala orang tua itu.


"Lalu, bagaimana?" Suara berat Carlon memulai pembicaraan.


"Aku belum menemukan keberadaannya," jawab Hendery.


Dua orang itu berbicara dengan sangat formal, lain seperti anak dan orang tua pada umumnya. Selain dingin, Hendery dikenal suka sembrono dalam berucap.


"Aku mendapat informasi. Anggara membuang putri bungsunya sejak lahir. Apa kau sudah tahu namanya?" Hendery menggelengkan kepala. "Chalodra Agatha."


"Dia bukan anak kandung dari istri kedua, melainkan anak dari seorang pelacur."


"Dengar-dengar, dia tinggal di Singapura," celetuk Hendery. Dia tidak mau Ayahnya mengetahui kenyataan, bahwa targetnya adalah istrinya sendiri.


"Sudah sejauh itu kamu cari tahu?" Dengan binar matanya, Carlon menatap Hendery bangga. "Langsung saja."


"Belakangan ini aku sibuk urus berlian. Mungkin lain kali," ujar Hendery.


"Yang penting kamu melakukannya."


Hendery memalingkan wajahnya. Dia mendongak sejenak untuk menetralkan kepanikannya. Dia tidak akan pernah mau membunuh istrinya sendiri, apalagi hanya karena dendam seorang Ayah yang buruk.


Lamat-lamat Carlon memandangi Hendery. Botol bir itu diletakkan di meja. "Kapan kamu menikah?"


Hendery terkejut dengan pertanyaan itu. "Sudah ada. Tapi aku tidak akan memperkenalkannya pada Anda. Dia cantik, nanti Anda akan mengambilnya."


"Hahaha, kamu benar. Aku sangat suka dengan wanita cantik. Apa dia menghiburmu di ranjang?" Sangat tidak bermanfaat pertanyaan seorang Ayah itu.


"Kami belum. Aku akan menjaganya sampai kapan pun," balas Hendery. "Dia yang terhebat dari semua yang aku kenal. Perlu diingat, aku tidak akan memperkenalkannya pada siapapun."


Carlon mengangguk-angguk. Dia tersenyum miring melihat keseriusan anaknya.