
Suara burung berkicau meramaikan pagi. Hendery menarik dua koper itu, membiarkan istrinya berjalan mendahului. Chalodra berbinar dengan netra yang mengedar, ruangan besar telah menghipnotis dirinya.
Chalodra berbalik, membuat Hendery hampir menabraknya. "Mas, ini beneran?" pekik Chalodra. Mata lebarnya menunjukkan bahwa dirinya terkejut.
Hendery mengangguk sambil meletakkan koper di samping sofa. "Ayo!" ajak Hendery menarik tangan Chalodra.
Langkah besar dan kecil dua pasangan itu menaiki anak tangga. Senyum kecil terukir di bibir keduanya. Mansion besar itu, membuat Chalodra tidak percaya ini bukan mimpi. Dinding yang terbalut cat putih terlihat mewah, dan berkilau karena coretan emas.
Bukan hanya dinding, perabotan yang dibeli Hendery terlihat kinclong dan mahal. Pendingin ruangan juga tersebar di setiap sudutnya. Kini, Hendery membawa Chalodra ke dalam kamar.
Almari besar berpintu tiga itu berada di sebelah utara, disampingnya ada sebuah meja rias berwarna pink. Chalodra memekik pelan, melihat ada pintu menuju balkon di sebelah barat. Tempat tidur besar itu memenuhi ruangan luas ini. Chalodra membanting tubuhnya di kasur hingga memantul.
"Suka?" tanya Hendery, ikut merebahkan tubuhnya di samping Chalodra.
"Banget," jawan Chalodra dengan senyum manisnya.
Melihat Chalodra menyukai ini semua, ada rasa bahagia di jiwanya. Seakan dibawa terbang oleh kebahagiaan Chalodra. Hal yang membanggakan, setelah Chalodra berduka selama beberapa bulan lalu.
Memandangi wajah Chalodra dari samping, merupakan kepuasan tersendiri bagi Hendery.
"Cha, mau lihat kebun?" tawar Hendery seraya merapikan jasnya. Chalodra bangkit, lalu mengangguk cepat.
Terasa begitu damai, dengan pepohonan rindang di sekitar. Rasanya seperti berada di tengah-tengah suasana menyeramkan, tetapi menyenangkan. Sinar matahari melewati celah ranting pohon pinus yang ada.
Chalodra melebarkan matanya, benar-benar surgawi. Tanaman stroberi berbaris rapi di pekarangan rumah. Taman mini itu beralaskan rumput hijau, ada bunga kecil yang tumbuh. Chalodra melangkah kecil.
"Waw! Stroberi!"
"Kamu suka stroberi, Cha?" tanya Hendery mendekati, dia mengalungkan tangan kirinya di pundak Chalodra.
"Suka. Boleh aku petik?" Mata besarnya menyorot sendu pada Hendery. Melihat suaminya mengangguk, Chalodra dengan semangat memetik satu biji stroberi berwarna merah.
Chalodra menyuapi mulutnya, mengigit pucuk buah. Matanya menyipit karena rasa asam melekat pada lidahnya. "Kenapa, Cha?" tanya Hendery.
"Asam."
Hendery terkekeh melihatnya. Dia memetik stroberi berwarna merah, lebih matang dari sebelumnya. "Ini manis," kata Hendery. Chalodra membuka mulut lebar-lebar, membiarkan suaminya menyuapi. Manik Chalodra berbinar, lalu mengangguk. Melihat itu, Hendery memakan sisa stroberi Chalodra.
Chalodra menjelajah, membelai bunga mawar yang bermekaran. Hendery mendekati, lalu berucap, "Cha, Mas mau berenang. Mau ikut?"
Chalodra menggeleng cepat. "Mas pergi saja. Nanti aku menyusul," jawab Chalodra.
Hendery menepuk pucuk kepala Chalodra, lalu melenggang pergi meninggalkan istrinya yang tergila-gila dengan tanaman.
Dari kecil, Chalodra menyukai tanaman. Apalagi bunga anggrek, tetapi sekarang jarang ditemui. Namun, ada satu yang Chalodra takuti, salak. Kuku Chalodra pernah patah karena mengupas buah itu. Yang tidak pernah dilupakannya tentang salak adalah ketika dirinya melihat hantu, bergelayut di pohon salak.
Chalodra memejamkan mata, menghirup semerbak wangi bunga mawar. Suara dari arah lain membuat Chalodra terkejut.
Byur
"Mas Hendery?"
Chalodra melangkahkan kaki, ke belakang mansion. Jarak dari kebun ke kolam renang tidak terlalu jauh, Chalodra melihat Hendery berenang.
Hendery memunculkan kepalanya, lalu tersenyum pada Chalodra. Pria itu naik ke atas permukaan, membuat Chalodra menganga. Telanjang dada dan celana pendek sepaha. Perut sixpack milik Hendery menghipnotis Chalodra.
Tanpa sadar, Chalodra bergumam menghitung berapa banyak kotak itu. "Enam?" Chalodra mendongak. Jelas di depan matanya.
Hendery mengerti, dia tersenyum tipis sambil memandangi perutnya. "Baru lihat?" Suara berat Hendery membuyarkan lamunan Chalodra.
"Mas? Aku ambilkan handuk dulu, ya?" Chalodra gugup, dia hendak berdiri, tetapi Hendery mencekal tangannya.
Dengan sekali tarikan, tubuh Chalodra berada di dalam dekapan Hendery. "Mau berenang bersama, Cha?"
Manik Chalodra melebar, jantungnya berdebar. Rasanya sesak di dalam cahaya terang. Chalodra menggeleng cepat. Sebenarnya tidak mau menolak, tetapi Chalodra harus. "Aku sedang datang bulan, Mas," jawan Chalodra lirih.
Perempuan bernama Chalodra itu terlihat kecewa, begitu juga dengan Hendery. "A-aku mau mandi!" pekik Chalodra mendorong tubuh Hendery, lalu berlari cepat ke dalam.
.....
Malam dingin ini, dihabiskan di rooftop. Bukan ruangan terbuka biasa, banyak hiasan di setiap sudut. Karangan bunga segar, juga lampu kerlap-kerlip. Sepasang suami-istri itu tengah duduk di sofa, memandang bulan yang sendiri.
"Kamu jahat, Cha," ucap Hendery.
Chalodra mendongakkan kepalanya yang bersandar di dada Hendery. "Aku?"
"Kamu jahat. Bintangnya kamu ambil semua, bulannya jadi sendiri."
"Mas!" Chalodra mengerutkan bibirnya, meski kata-kata manis itu menggetarkan hatinya. "Mas, kamu juga jahat."
"Kamu mencuri hatiku," sambung Chalodra.
Tidak mendapatkan jawaban, Chalodra mendongak. Wajah Hendery tidak bereaksi. Chalodra menghela napas berat. Memang, Chalodra tidak bisa melakukannya dengan baik.
"Bohong."
Chalodra mendongak dan mengerutkan keningnya. "Maksud Mas?"
"Kamu bohong, Cha." Suara berat dan serak itu, terdengar menyakitkan. "Kamu tidak mungkin jatuh hati dengan Mas, karena Mas selalu kasar sama kamu." Mata Hendery berkaca-kaca menyorot manik Chalodra dengan dalam.
Chalodra menggeleng pelan. "Aku bohong kalau aku bilang suka sama hal itu."
"Aku memang benci dengan kamu, Mas. Tapi, itu untuk kamu yabg yang dulu."
"Sekarang, kita mulai lagi, ya?" Chalodra membelai rahang kokoh Hendery.
"Memulai semuanya?" Chalodra mengangguk. "Ini pernikahan tanpa cinta, yang menumbuhkan banyak rasa," kata Hendery.
"Mas, hujan!" pekik Chalodra loncat dari sofa.
Hendery langsung menarik tangan Chalodra, masuk ke dalam rumah. Tanpa gerimis, hujan deras turun begitu saja dengan suara petir menyambar. Semakin menakutkan dari biasanya. Apalagi pohon pinus tinggi menyelimuti.
...Biasakan like!...