I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
72. Duka Chalodra



Usia kandungan Chalodra semakin bertambah, membuat perutnya terlihat lebih buncit. Wanita itu memakai kardigan sebagai pelapis kaos, serta rok selutut berwarna putih. Rantai tas selempang berada di pundak Chalodra. Lalu, dia berjalan menuruni tangga untuk menghampiri sang suami. "Mas!" panggilnya.


Hendery yang tengah memakai jam tangan segera menoleh, mendapati istrinya tersenyum lebar. "Sudah siap?" tanya Hendery, dibalas anggukan oleh Chalodra.


Hendery mengulurkan tangan, segera diraih oleh Chalodra. Lalu, sepasang insan itu melangkahkan kaki ke luar rumah. Mereka akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilan Chalodra, yang menginjak bulan ke 8.


Chalodra memandang jalanan melalui jendela mobil, sedangkan Hendery fokus dengan stir bundar itu. Chalodra senang bisa melihat bagaimana nanti bayinya bergerak saat di-USG. Wanita tersebut mengelus perutnya yang terlihat menonjol.


"Mas, kira-kira bayinya laki-laki atau perempuan?" Chalodra menatap sang suami, yang sejenak menoleh ke arahnya.


Hendery mengangkat pundaknya, berarti tidak tahu. "Aku maunya laki-laki dulu saja, supaya bisa menjaga adik-adiknya nanti," ujar Chalodra.


"Memangnya, kamu mau buatkan dia adik berapa?" celetuk Hendery.


Chalodra mengerutkan dahi, mencoba mencari jawaban akan pertanyaan yang dilontarkan sang suami. Chalodra tidak tahu, bahwa Hendery sedang tersenyum miring. "Mas mau berapa?" tanya Chalodra.


Jawaban tersebut lantas membuat Hendery menahan tawanya. "Tak terbatas?"


"Ih, mana bisa!"


Chalodra menarik tangan Hendery untuk duduk di kursi kayu, tepatnya di taman. Mereka telah selesai melakukan checkup. Hasilnya begitu memuaskan bagi Chalodra. Kelamin janin laki-laki terlihat di sana, artinya Chalodra akan melahirkan seorang putra.


Chalodra mengupas bungkus permen lollipop yang dibelikan Hendery. Sebenarnya, Chalodra memaksa hingga menangis untuk bisa mendapatkannya. "Mas, mau?" tawar Chalodra.


Hendery menggelengkan kepala, kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku. "Dimakan satu dulu, Cha! Satunya untuk di rumah saja," tutur Hendery.


"Iya," jawab Chalodra, menjadi kesal karena peringatan Hendery.


Siang tidak begitu panas, langit mendung karena banyaknya awan menggumpal. Tidak terlihat satu orang pun melintasi taman, kemungkinan hanya Chalodra dan Hendery yang mengisi tempat itu.


Hendery memejamkan sejenak matanya, kemudian menatap Chalodra dengan serius. "Cha, kamu tetap di sini! Mas ada panggilan," ujar Hendery.


"Panggilan apa? Lama tidak?"


"Mau pipis," ucap Hendery membuat Chalodra mengangguk pelan. "Tunggu di sini! Jangan ke mana-mana!"


"Iya. Jangan lama-lama!"


Hendery melenggang pergi meninggalkan tempat, segera mencari toilet terdekat.


Chalodra menikmati permen yang terasa manis itu, bibirnya senantiasa tersenyum. Mendadak, seperti ada seseorang membekap mulutnya dengan kain dan membuat Chalodra pusing. Tidak kuat akan pusingnya, Chalodra pingsan dan menjatuhkan permen dari tangannya.


Seorang pria berpakaian tertutup menggendong tubuh Chalodra menjauhi tempat itu, sementara Chalodra tidak sadarkan diri.


Pria tersebut memasukkan Chalodra ke dalam mobilnya, menatap sejenak wajah menenangkan Chalodra. "Maaf, Cha," katanya.


Rencana yang sudah lama dibuat, akhirnya dilaksanakan hari ini. Egry tersenyum puas melihat Chalodra tidur di pelukannya tadi. Sejauh matanya memandang, benar hanya Chalodra yang terlihat.


Hendery menghela napas panjang saat keluar dari toilet. Menyeramkan sekali, toilet di dekat pohon beringin, sedangkan kondisinya memang terlihat terbengkalai. Dari pada buang air sembarangan, lebih baik memasuki tempat seram tersebut. Namun, dia Hendery, tanpa rasa takut pada apa pun, apalagi hal semacam ini.


Hendery mengerutkan dahi karena dari kejauhan tidak mendapati Chalodra di kursi tadi. Dia berlari, celingukan mencari sang istri. "Cha!" Hendery berteriak, tetapi tak ada jawaban.


Hendery melihat permen lollipop, persis seperti milik Chalodra tergeletak di tanah yang ditumbuhi rumput. Lelaki itu mengambilnya. "Cha?" Satu biji lagi masih terbungkus berada di kursi.


Hendery mengitari taman untuk mencari keberadaan Chalodra, tetapi nihil. Dia mengusap kasar wajahnya. "Cha, kamu di mana, sih?!"


"Memangnya, aku tadi lama, ya? Sampai kamu pergi, Cha."


Hendery memutuskan beranjak dari taman itu, kemudian melajukan mobilnya.


Hendery panik, lebih panik dari pada saat istrinya mengamuk. Dia membuka pintu rumah, tetapi tidak ada siapa pun. "CHALODRA!" teriak Hendery hingga suaranya menggema.


Bi Aya berlari kecil mendekati Hendery dengan wajah penuh tanya. "Non Chalodra belum pulang. Bukannya tadi sama Tuan?"


Hendery mematung, membulatkan matanya. "Saya tinggal ke toilet, tapi saat kembali Chalodra tidak ada," ungkap Hendery. Bi Aya sama terkejutnya hingga menutup mulut dengan tangan.


Hendery menggelengkan kepala. "Tasnya juga tertinggal." Hendery menunjukkan tas yang tadi dikenakan oleh Chalodra, kini berada di tangannya.


"Lalu, Non Chalodra ke mana?"


"Perasaan saya tidak enak," gumam Hendery. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku untuk menghubungi Roi. "Roi, ke rumah Egry sekarang!" Tanpa menjelaskan sesuatu, Hendery melenggang pergi.


Bi Aya mengikuti langkah Hendery, tetapi berhenti saat mendapati Bunga dan Pras hendak mengetuk pintu.


"Kakak Chalodra ada?" tanya Bunga.


Hendery menatap Pras, tentunya tanpa ekspresi. Pras mengerutkan dahi. "Ada apa?" tanyanya.


"Kamu bisa ikut saya ke rumah Egry?" seru Hendery.


Pras membelalakkan mata. "K-kamu ... Chalodra cerita sama kamu?" Hendery mengangguk cepat.


"Bisa ikut sebentar? Bunga biar sama Bi Aya."


Pras mengangguk. "Baik." Dia menatap Bunga, mengelus kepala sang putri. "Papa tinggal sebentar, ya?" ucapnya.


"Kakak Chalodra ke mana? Aku mau main," ucap Bunga.


"Kakak Chalodra hilang. Kamu tunggu di rumah! Papa kamu biar bantu Om mencari," sahut Hendery.


Hendery menatap Pras sejenak, kemudian melangkah mendahului dan diikuti oleh Pras.


Rupanya, mobil Roi sudah terparkir sedikit jauh dari kediaman Egry. Laki-laki itu keluar saat mendapati mobil Hendery malah berhenti tepat di depan rumah itu. Roi segera menghampiri dan melihat atasannya menahan amarah. "Ada masalah apa?" tanya Roi.


"Kita periksa rumah ini dulu. Saya jelaskan nanti," ujar Hendery, kemudian melangkah mendekati rumah yang terlihat sepi itu.


Roi mengerutkan dahi karena tidak paham ada masalah apa, sehingga membuat atasannya itu terlihat sangat marah.


Hendery mengetuk pintu itu, tetapi tidak ada jawaban. Sedangkan di jendela, Egry berdiri dengan membawa tongkat baseball. "Sudah datang, ya?" gumamnya. Lalu, dia pergi ke dalam.


Hendery naik pitam, pintu rumah Egry dibuka oleh tangan besarnya, rupanya tidak dikunci. Hendery melangkah cepat menjelajahi rumah itu. Namun, tidak dilihat seorang pun di sini.


"Coba di ruangan itu." Pras menunjuk ruangan dengan pintu tertutup, sepertinya kamar pemilik rumah.


Hendery pun melangkah mendekati, kemudian membuka pintunya. Detak jantung Hendery seakan berhenti melihat istrinya tergeletak di lantai, bersimbah darah dan merintih kesakitan.


Bukan hanya Hendery, Pras dan Roi membuka lebar matanya. Hendery segera mendekat, memangku sang istri. "Cha," panggil Hendery.


Mata Chalodra sayu, kedua tangannya memegangi perutnya. "M-mas, sakit," lirih Chalodra.


"Selamat datang!" Suara itu lantas mengalihkan pandangan mereka. Egry datang membawa tongkat baseball, keluar dari dalam ruangan kecil. "Apa kabar?" ujarnya.


Egry kaget saat melihat Pras hadir. "Kau?"


"Bajingan!" hardik Pras. "Hendery, bawa istri kamu ke rumah sakit. Kotoran ini biar aku yang bereskan." Pras berkata dengan lantas, memasang wajah serius.


Hendery mematung sejenak melihat pria itu. Lalu, dia memutuskan pergi dengan menggendong Chalodra yang merintih kesakitan.


"Kamu, ikut saja dengan Hendery!" pinta Pras kepada Roi.


"Tapi, Anda---"


"Percaya saja! Biar aku yang atasi." Pras mengulas senyum miring, kemudian menatap Egry dengan sangat tajam seakan telah menemuka mangsa, yang selama ini dicari.


...Apa yang terjadi dengan Chalodra selanjutnya? ...


...Apa Pras akan menghabisi Egry? Atau ada sesuatu yang lain? ...