I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
64. Suami Chalodra yang aneh



...Apa kabar nih? ...


...Kangen gak? ...


...Pasti enggak😔...


...HAPPY READING! ...


...🐰...


Chalodra menghampiri Hendery yang sedang merokok di balkon, wanita itu memeluk suaminya dari belakang. "Mas Hendery," panggilnya dengan suara manja.


Hendery sontak mengelus kepala Chalodra. "Ada apa?" tanyanya.


"Mau pinjam laptop, boleh?" Chalodra mengedipkan matanya, berusaha merayu agar mendapat izin.


"Buat apa?"


"Mau nonton anime." Lalu, Hendery mengangguk membuat Chalodra memekik senang. Perempuan itu langsung berlari memasuki kamar dan membawa pergi laptop di atas nakas ke ruang tengah.


Hendery menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang masih seperti anak kecil. Melanjutkan kegiatan merokoknya sembari menikmati langit malam, Hendery tidak membiasakan diri untuk menghisap rokok saat berada di dekat istrinya.


Chalodra mengulas senyum tipis, membuka laptop dan segera mencari anime yang sudah lama tidak ditonton. Dia bersorak riang saat menemukan tontonan. Ditemani secangkir teh dan biskuit cokelat, Chalodra menyandarkan punggungnya di sofa, duduk lesehan dengan laptop di atas meja.


Bi Aya masih belum pulang, akhir-akhir ini kenalannya mempunyai hajatan dan mengundangnya. Jadi, Chalodra sering berduaan di rumah dengan Hendery.


"Ah, ini sudah lama, aku jadi lupa alur sebelumnya," gerutu Chalodra. Dia memajukan bibirnya karena kesal. Chalodra memeluk kedua kakinya yang dilipat dan menopang dagunya.


Melihat Chalodra serius dengan filmnya, Hendery memandangi dengan senyum nakal dari belakangnya. Lalu, lelaki itu mendekat dan langsung memeluk tubuh Chalodra dari samping. "Mas!" tegur Chalodra, berusaha menjauhkan Hendery. Namun, tenaganya begitu kecil.


Chalodra pun menghela napas berat dan memutuskan menonton filmnya, tanpa memperdulikan Hendery. Namun, sudah dibiarkan tapi Hendery ngelunjak. Pria tersebut menyusupkan wajahnya di leher istrinya hingga menciumnya. Chalodra kesal karena tidak bisa fokus disebabkan oleh ulah Hendery. "MAS!" bentaknya.


Hendery sontak mengangkat kepalanya, menatap tajam Chalodra. Melihatnya, Chalodra menyesal karena berani. "Jangan seperti ini! Aku tidak fokus nontonnya," gerutu Chalodra.


"Maaf, maaf," ucap Hendery sembari menjauhkan tubuhnya. Lalu, Chalodra kembali dengan laptop di depannya. Karena ulah Hendery, Chalodra melewatkan beberapa menit scene-nya.


Hendery melirik Chalodra yang ternyata tidak peduli dengan dirinya. Hendery melipat kedua tangannya di depan dada, memajukan bibirnya. "Cha, film kamu itu asik banget, ya?" celetuk Hendery.


Chalodra mengangguk cepat. "Seru sekali!"


Hendery berdecak kesal. Lalu, dia melenggang pergi keluar rumah. Chalodra hanya melihat, tidak berniat mengejar suaminya itu. "Marah?" gumam Chalodra, bukan masalah besar baginya, nanti juga Hendery sendiri yang kembali.


Hendery menghirup udara malam yang segar di teras, dia mendudukkan pantatnya di lantai. Ponsel di sakunya berdering, Hendery segera mengeceknya. Sebuah panggilan dari Roi. "Ada apa?" tanya Hendery.


"Saya sudah menemukan kediaman Egry."


Hendery melebarkan matanya, sedikit terkejut dengan kerja cepat pekerjanya itu. "Baik, kalau begitu kamu hanya perlu mengawasinya. Lalu, hubungi saya kalau ada hal mencurigakan!" ujar Hendery.


"Baik, akan saya laksanakan."


"Bagus." Hendery pun mematikan panggilan tersebut. Menarik napas dengan dalam, kemudian menghembuskan pelan. Hendery menarik sudut bibirnya, menjadi sebuah kepuasan karena mengetahui tepat kediaman sang musuh.


[Besok, saya akan temui kamu dan tunjukkan rumahnya.]


Hendery mengirimkan pesan tersebut kepada Roi. "Awas saja kamu macam-macam dengan Cha, Egry. Saya tidak segan untuk habisi kamu di tempat," ucap Hendery pelan.


Chalodra meneguk segelas tehnya, dia berniat untuk menutup laptop dan pergi tidur. Namun, tanpa terduga, Hendery datang dan menggendongnya. "Mas! Turunin!" pinta Chalodra, sedikit memberontak.


"Tidur, ya? Sudah malam," tutur Hendery.


"Iya, aku juga mau naik ke atas." Chalodra menatap sejenak wajah sang suami, rahang kokoh itu selalu saja menyita perhatiannya. "Tapi, turunin aku!" pinta Chalodra.


Chalodra hanya membisu membiarkan suaminya menggendongnya ke kamar. Lelaki itu membanting Chalodra ke kasur hingga istrinya memekik. Chalodra memelototi Hendery. "Tidur!" perintah Hendery.


"I-iya." Chalodra menjadi gugup setelah melihat suaminya bertingkah aneh seperti itu. Apa telah terjadi sesuatu saat di luar?


Chalodra berhenti berpikir, menarik selimut, dan mencoba menutup mata. Namun, tangan besar Hendery mendarat di perutnya. Lelaki itu memeluk dan menyusupkan wajahnya di ceruk leher Chalodra. "Mas?"


"Tidur, Cha!"


"Mas kenapa?"


Hening, Hendery tidak menanggapi, hanya menghembuskan napas berat dari hidungnya. "Ada masalah?" tanya Chalodra lagi. Kali ini, Hendery menatap Chalodra. "Cerita!"


Hendery mengangkat wajahnya, sedikit menjauhkan tubuhnya dari Chalodra. Dia menggenggam tangan sang istri, mengecupnya singkat. "Aku khawatir sama kamu," ungkap Hendery.


"Aku? Kenapa? Aku baik-baik, aja."


Hendery menggelengkan kepala. "Sekarang kamu memang baik-baik saja. Tapi ... Mas harap juga kedepannya baik-baik seperti ini," katanya.


"Maksudnya?" tanya Chalodra, kikuk karena tidak mengerti bahasa Hendery.


"Lupakan!" Hendery kembali pada posisi sebelumnya, mencari posisi nyaman dalam tubuh Chalodra. "Tidur, Cha!"


"Iya."


Hendery sudah menutup matanya, sedangkan Chalodra masih berusaha. Tidur dengan posisi terlentang dan lampu yang menyala terang ke arahnya, membuat Chalodra semakin susuh memejamkan mata sepenuhnya.


Sesuatu aneh menyerang. Sedikit sakit, tetapi ada rasa geli dari dalamnya. Chalodra mencengkram tangan Hendery yang menggenggamnya. "Mas!" panggil Chalodra.


"Tidur, Cha!" pinta Hendery.


"Mas, bangun, deh!" Hendery pun membuka mata, lantas menatap Chalodra.


Chalodra menempelkan tangan Hendery di perutnya. Hendery melebarkan matanya, saling melemparkan tatapan aneh dengan Chalodra. "Cha?"


Chalodra menganggukkan kepala disertai senyum lebar di bibirnya. "Lucu, kan?" ucap Chalodra.


Hendery bangun dari tidurnya, matanya berbinar memandangi perut sang istri. "Tidak sakit kan, Cha?" tanya Hendery, Chalodra menggeleng pelan.


Hendery berseri, jantungnya berdebar. Dia memajukan wajahnya untuk mencium perut Chalodra. Satu kecupan hingga membuat Chalodra tersipu dengan perasaan senang. "Lucu," ujar Hendery.


Hendery pun mencium perut Chalodra lebih lama dari sebelumnya. Chalodra pun mengelus rambut tebal di kepala Hendery. "Baby-nya doang, aku tidak dicium juga, nih?" celetuk Chalodra.


"Kamu cemburu, Cha?"


"Tidak. Siapa bilang aku cemburu?"


"Ya sudah. Sini, sini! Mas cium." Hendery memajukan wajahnya dengan bibir monyong. Chalodra sontak menyingkirkan wajah Hendery. "Katanya mau?!" gerutu Hendery.


Chalodra menggelengkan kepala. "Aku mau tidur," ucap Chalodra. Dia menarik selimut dan tidur dengan posisi memunggungi Hendery.


"Oh, mau dipeluk dari belakang?" Hendery merebahkan tubuhnya, kemudian melingkarkan tangan kanannya di tubuh Chalodra. "Seperti ini?" tanya Hendery.


"Diam, Mas! Aku mau tidur," cecar Chalodra.


Tidak masalah akan pelukan Hendery dari belakang, tetapi lelaki itu terus menghisap leher Chalodra. "Kamu wangi, Cha," kata Hendery. Seketika bulu kuduk Chalodra berdiri, meremang karena ulah suaminya.


"Mas, geli!" tegur Chalodra saat Hendery mengigit kecil lengan Chalodra. "Aku mau tidur!" Chalodra pun menepis tangan suaminya dari tubuh kecilnya itu. Menatap tajam Hendery hingga dia tidak berani lagi.


...🐰...