I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
34. Mimpi buruk



Chalodra tersentak kaget. Dia baru membuka mata dan beranjak turun dari tempat tidur. Ular panjang itu mengangkat kepalanya, bersiap ntuk mematuk Chalodra.


Chalodra sontak kembali naik ke atas ranjang. Ular berada di sebelah kiri, menatap Chalodra seperti musuh. Chalodra merinding seketika, air matanya menetes begitu saja. "MAS HENDERY!" teriak Chalodra dengan suara melengking. Namun, tubuhnya kembali kaku kala mengingat, dia bersama orang lain.


Chalodra menundukkan kepalanya, menarik napas panjang dengan jantung berdebar. "EGRY!" teriak Chalodra, lantang. "Siapapun! Tolong, di sini ada ular!"


Seakan-akan manusia di dunia ini lenyap, tidak ada siapapun yang menjawab. Malam begitu menyeramkan, dengan suara petir beserta sambarannya. Chalodra sendiri, ketakutan di dalam kamar.


Chalodra memberanikan diri untuk turun dari kasur, berniat mendekati pintu. Langkah kecilnya membuat ular itu semakin waspada. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul 10 tepat, sepertinya semua orang sudah tidur.


Angin kencang menerpa tirai jendela, membuat langit malam terlihat sambaran petir. Menyeramkan. Apalagi, di luar terdapat pohon-pohon besar dan tinggi. Perlu diingat, Chalodra berada di rumahnya sendiri, yang sedang disekap oleh Egry.


Chalodra menggedor pintu dengan tangan mungilnya, sambil beberapa kali menoleh untuk memastikan keberadaan ular itu. Berulang kali, tetapi tidak ada tanggapan. Chalodra mengingat sesuatu. "Di atas almari, ada kunci cadangan," seru Chalodra.


Gerakan cepat, Chalodra menarik meja, dibawanya mendekati almari. Chalodra menaikinya, lalu meraba atas almari dengan tangan kanannya. Pandangannya tidak bisa beralih, dari tempat ular itu berada. Ia masih menjulurkan lidah dan mengeluarkan desis menakutkan.


Manik Chalodra membesar, Chalodra mendapatkannya. Dengan segera dia turun dan kembali ke pintu. Chalodra berusaha memasukkan kuncinya, tetapi gerakannya terhenti begitu saja.


DOR


Suara keras menggelegar itu membuat napas Chalodra tercekat. Bukan petir, tetapi mirip peluru yang keluar. "Apa ada pertengkaran di luar?" tanya Chalodra, pada dirinya sendiri. "Tapi, kalau aku tidak keluar, ular itu akan mematuk."


Chalodra mengangguk yakin, dia kembali membuka pintu yang terkunci itu. Berhasil. Chalodra mengulas senyum lebar, lalu mencoba untuk mengintip ke luar. Aneh, tidak ada siapapun. Chalodra menoleh, mengecek ular itu. "Eh, tidak ada. Ke mana ularnya?" tanya Chalodra bingung.


Chalodra bergerak dengan hati-hati untuk berjalan keluar dari kamar. Namun, nyeri tiba-tiba menjalar di kakinya. Pergerakan Chalodra terhenti, dia melihat kakinya.


Chalodra merintih kesakitan. Kakinya tidak bisa bertumpu, lantas Chalodra ambruk ke lantai. Ular itu, dia menancapkan giginya dan melilit kaki kiri Chalodra, tepat di atas mata kaki. Chalodra tidak bisa bergerak, pengelihatannya semakin kabur.


Chalodra tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga dia berakhir, terbaring di lantai.


"CHALODRA!" pekik laki-laki itu, saat melihat ular melilit kaki Chalodra.


Detik waktu terus berjalan, berputar sesuai takdir. Dunia ini, milik Tuhan. Tidak ada yang berhak lebih. Tanpa percakapan, di dalam ruangan terang itu, para pekerja melakukan tugasnya. Seorang dokter, membalut kaki mulus dan ramping milik seorang perempuan. Dia menggeleng prihatin melihatnya.


Kehidupan terus berjalan, ia tidak peduli dengan apa yang engkau lakukan. Ia hanya melalui dan enggan untuk kembali. Pasir berterbangan tertiup angin, layaknya dibawa pergi. Laki-laki gagah, berdiri membelakangi pintu. "Aku masih membutuhkannya," katanya dengan suara pelan. Tatapan matanya layaknya danau yang dipenuhi air.


Di dalam sana, ada kekasih hatinya terbaring lemah. Chalodra membuka matanya, melihat orang berseragam putih mengelilinginya. "Aku ke sini dengan siapa?" tanyanya, menatap hambar seorang perawat.


Dokter yang mendengarnya itu mendekat, lalu tersenyum. "Hendery," ucapnya.


Chalodra tersenyum lega, telah terlepas dari penjara pria jahat layaknya iblis itu. Kini, dia telah kembali di pelukan suaminya. Namun, mata Chalodra kembali terpejam, terpaku dengan semua jawaban.


Saat itu, pengelihatan Chalodra menjadi gelap. Lalu, cahaya muncul menampilkan sesuatu, seperti gambar. Chalodra terlihat berdiri di tengah tangga, menyaksikan dua lelaki saling bertatapan tajam. Chalodra tidak mampu berucap, mulutnya terkunci, begitu juga dengan tubuhnya.


Hendery, dia menduduki tubuh Egry yang babak belur. Terdapat pistol di tangan kanan Hendery, menempel pada dahi Egry. Hendery tersenyum miring, lalu melepaskan peluru hingga menembus kepala Egry.


Jantung Chalodra seakan berhenti berdetak. Matanya sontak terbuka lebar. Ruangan putih. Apa dirinya sudah meninggal? Chalodra menatap kosong ke atas. "Cha, semuanya akan baik-baik saja," ujar seseorang tepat di telinga Chalodra.


Chalodra menoleh, tidak ada siapapun. Hanya dirinya sendiri, di atas brankar dan ternyata di rumah sakit. Anehnya, Chalodra melihat keluarga bahagia di luar sana. "Mas Hendery?" gumam Chalodra.


Sangat jelas di pengelihatan Chalodra. Hendery menggendong anak perempuan berusia dua tahun, lalu seorang wanita cantik berdiri di sampingnya. Bukan, dia tidak terlihat seperti Chalodra.


"Cha, Mas di sini." Chalodra jelas mendengarnya, dia menoleh ke arah kanan. Benar, Hendery berdiri di depan pintu kamar mandi, tersenyum lebar ke arahnya. "Tapi, cukup di sini saja," sambung Hendery.


Senyum lebar Hendery mengikis, dia menodong pistol membuat Chalodra mati kutu.


DOR


Itu hanya sebuah mimpi, membuat mata Chalodra melebar. Napasnya memburu, Hendery yang berada di samping Chalodra, menatap khawatir istrinya. "Ada apa, Cha?" tanya Hendery dengan suara bergetar.


Chalodra menatap Hendery linglung, layaknya orang kehilangan arah. Chalodra tidak mampu berucap. "Ini bukan mimpi, kan?" gumam Chalodra melihat kosong ke depan.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Hendery, tangan besarnya mengelus lembut kepala Chalodra. Tidak mendapatkan jawaban, Hendery menarik pelan tubuh Chalodra ke dalam pelukannya. Namun, di luar dugaan Hendery, Chalodra justru mendorong dada Hendery dengan kuat.


Hendery tersentak kaget, dia menghembuskan napas panjang. Hendery mencoba untuk memaklumi, dengan keadaan Chalodra saat ini. "Kamu mimpi apa, Cha?" tanya Hendery.


Masih dengan tatapan kosongnya, Chalodra tidak memandang Hendery sedikit pun. "Di rumah itu, kamu menembak Egry ... dan aku," ujar Chalodra. "Saat aku sadar di rumah sakit, aku melihat kamu bersama seseorang. Tapi, tiba-tiba kamu muncul dan menembak ke arahku," lanjut Chalodra.


Hendery menghembuskan napas panjang, tangan besarnya meraih tangan kecil Chalodra. Namun, lagi-lagi Chalodra menepisnya. "Aku mau sendiri, Mas," kata Chalodra.


Ada rasa takut di dalam diri Chalodra, dadanya terasa sesak menahan air mata. Entah, Chalodra memikirkan foto yang ditunjukkan Egry saat itu. Benar-benar nyata, bukan sebuah rekayasa.


"Kalau begitu, Mas keluar, ya? Nanti Mas panggilkan teman kamu yang dokter itu," ujar Hendery, nadanya berbeda dari biasanya, terdengar seperti orang kecewa. Dia melenggang pergi, meninggalkan Chalodra.


Chalodra membuyarkan lamunannya. "Astaga, kamu berbuat apa, Chalodra?!" serunya. "Mas Hendery pasti kecewa."


Pintu terbuka, terlihat Bayu dengan seragam dokternya memasuki ruangan. "Hai," sapa Bayu. Laki-laki itu mengeluarkan stetoskop dari kantung bajunya, lalu menyuruh Chalodra berbaring. "Bagaimana? Apa lukanya terasa perih?" tanya Bayu.


"Tidak. Hanya saat digerakkan, rasanya nyeri," jawab.


"Untungnya, racun ular itu tidak menyebar dengan cepat. Suami kamu mengikatnya dengan kain, agar tidak menyebar dengan cepat. Lalu, pada saat aku tanya, ternyata di juga sempat menyesap gigitan ular itu. Sehingga, beberapa mili dikeluarkan," jelas Bayu.


Manik mata Chalodra membesar. "Menyesap? Dengan mulut?" Bayu hanya mengangguk.


"Oh, ya, kemarin aku melihat suami kamu mengantar anak kecil untuk imunisasi. Umurnya sekitar dua tahun, dengan wanita, tetapi waktu aku lihat itu bukan kamu."


"Apa itu Kakaknya?" tanya Bayu.


Chalodra mematung. Foto itu dan mimpi Chalodra, berkaitan. Apa benar, Hendery mempunyai hubungan dengan wanita lain.