
...SELAMAT MEMBACA...
"Cha, Mas harus cek kantor sekarang," kata Hendery sambil merapikan kera kemejanya.
"Mau bawa bekal?" tawar Chalodra.
Hendery menggeleng. "Aku sebentar kok."
Chalodra mengukir senyum tipis, lalu beranjak dari atas kasur. Dia berjalan kecil mendekati Hendery. "Kenapa masih belum bisa?" tanya Chalodra seraya membantu suaminya mengikat dasi.
"Sengaja," jawab Hendery. Chalodra mendongak, menatap sinis Hendery. "Daddy tinggal sebentar, ya?" Hendery mengecup sekilas kening Chalodra, tidak lupa mengelus perut buncit istrinya meski sebentar.
"Maaf tidak bisa antar kamu. Kaki aku rasanya berat," ucap Chalodra.
"Masih sakit? Mau ke dokter?"
Chalodra menggelengkan kuat kepalanya. "Aku mau telpon Bi Aya supaya pijitin aku, boleh?"
"Okey."
Hendery melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat baru bangun, dia mendapatkan telpon dari pekerjanya, seseorang telah membuat masalah. Jadi, Hendery harus pergi dan melakukan pekerjaan di kantor. Biasanya, Hendery akan pergi sekali seminggu dan mengerjakan dokumen di rumah, sisanya akan diurus oleh Taka.
Menjadi direktur utama bukan pekerjaan yang hanya bisa bersantai, menyerahkan semuanya kepada CEO. Namun, tanggung jawabnya besar, meski jarang datang, tetapi pekerjaan di rumah mengawasi dengan ketelitian. Jika salah memberi jalan, maka hangus semua jerih payah.
Hendery membuka pintu mobil untuk turun. Beberapa sekuriti menyambut kedatangan Hendery, mereka menunduk sebagai tanda hormat. Hendery melenggang, melewati. Memang seperti itu dirinya, kulkas berjalan. "Mau kemana kamu?" tanya Hendery dingin kepada tiga pegawai yang berjalan keluar.
"Saya dipecat, Pak," jawab salah seorang, dia wanita tinggi dan cantik.
"Siapa yang pecat kamu, Sila?" tanya Hendery lagi.
Sila tidak berani mengangkat pandangannya, bertatapan dengan Hendery sama saja cari mati, terlalu tajam. "Pak Carlon."
Rahang Hendery mengeras, otot-ototnya menonjol kebiruan. Kedua tangan Hendery sudah mengepal kuat, orang itu selalu saja membuat masalah. "Kembali bekerja! Fokus! Jangan gubris semuanya," pinta Hendery lantang.
"Ba-Baik, Pak," jawab Sila. Dia menarik kedua temannya, kembali masuk ke dalam gedung.
"Aku malu mengakuinya sebagai orang tua," gumam Hendery.
Langkah besar Hendery melewati semua karyaman yang menunduk padanya. Dia berjalan menuju lift di sebuah gedung pencakar langit itu. Hendery paling disegani di sini, tidak ada yang berani melawan. Sekali pun ada, akan Hendery basmi.
Bergegas Hendery menuju ruangannya, di lantai lima. Tidak perlu lama, Hendery membuka pintu kaca itu dan tersentak kaget pria yang duduk di bangku itu. "Apa hak Anda atas perusahaan ini?" kata Hendery dingin.
Taka berwajah datar duduk di sofa. Setelah melihat Hendery,Taka berjalan mendekati Hendery, dia terlihat senang akan kedatangan kakaknya. Ya, Taka sedikit takut dengan Carlon.
Carlon berdiri dari duduknya, dia mengulas senyum miring. "Ini perusahaan mendiang Ibu mertua saya," kata Carlon.
Hendery tentu saja membalasnya dengan senyum kecut. "Apa Anda sudah lupa? Semuanya sudah menjadi milik saya."
"Henraya company," lanjut Hendery. "Yang artinya, Hendery Raya."
Raya, nenek dari Ibu Hendery. Dia pemilik perusahaan ini, sebelum mewasiatkan pada Hendery. Namun, Carlon tidak setuju dan masih mengincarnya. Nek Raya mempercayakannya kepada Hendery, sebeb jiwa muda Hendery sudah bertanggung jawab. Hingga Nek Raya meninggal saat Hendery berusia satu tahun. Surat wasiat itu diberikan pada Hendery saat berusia 20 tahun, oleh tangan kanan Nek Raya.
"Saya tidak akan pernah berhenti untuk mendapatkannya," ucap Carlon penuh penekanan.
"Jika Anda tidak mati terlebih dahulu," balas Hendery tidak kalas sinis.
Emosi Carlon mulai terpengaruhi oleh Hendery. Dia mengepalkan kedua tangannya, bibir bagian dalamnya digigit, dan matanya melebar menatap Hendery. "Now?"
"No. Saya tidak mau membuat keributan di tempat kerja. Lebih baik Anda pulang, jika tidak ingin penyakit jantung Anda kambuh!"
Setelah beradu otot dan Carlon kalah, pria tua itu melarikan diri. Beberapa berkas di atas meja dibuat jatuh oleh aksi keduanya. Hendery sama sekali tidak melawan, tetapi dia menangkis. Namun, pukulan Carlon meleset hingga anggota tubuhnya terbentur dinding.
Kini Hendery mendudukkan tubuhnya di kursi tertinggi tahtanya, di gedung besar ini. Dia melihat berkas-berkas yang selama ini sudah ditangani Taka. "Good job," katanya.
Taka datang membawa secangkir kopi di atas nampan, tentunya untuk Hendery. "Kak, ada info terbaru mengenai Egry," ujar Taka membuat Hendery penasaran. Masalah Hendery dengan Egry, pastinya belum selesai.
"Dia tinggal tidak jauh. Berjarak lima rumah dari rumahku," katanya. Hendery hanya mengerutkan keningnya. "Aku melihatnya kemarin malam, dia membeli minuman."
"Dan sepertinya tidak tahu rumahku," sambung Taka.
Hendery mengangguk-angguk lalu menarik ujung bibirnya. "Kita serang?"
Taka menggelengkan kepala dengan cepat. "Dengan keadaan Kak Chalodra yang sedang hamil? Bagaimana kalau dia menyerang balik?"
Ucapan Taka ada benarnya, ini ada hubungannya dengan Chalodra. "Kita cari waktu yang tepat."
"Kita susun rencana yang keren dulu, Kak!"
Awan di langit terus berjalan. Terkadang, ia menutupi matahari hingga mendung, tetapi ia juga pernah enggang menutup tirainya. Angin berhembus saling bertabrakan. Di sebuah rumah yang luas, gadis kaos hitam ukuran panjang selutut itu menggerutu, "Awas."
Dia menggigit bibir bawahnya, ada rasa takut di dalam hati kecilnya. "Berani-beraninya dia selingkuh," ucapnya dengan sedikit terisak.
Seorang wanita kuncir kuda mengelus pundak gadis itu. "Kamu harus tegur dia," ujarnya, lalu gadis itu mengangguk.
Pintu besar terbuka, dua laki-laki berjalan masuk membuat gadis itu beranjak. "Dasar buaya!" pekiknya.
"Apa, San?" tanyanya bingung.
Gadis itu, Casandra menarik kera baju Taka dengan sedikit mengangkatnya. "Kamu selingkuh!" Sedangkan salah satu di antara laki-laki itu berjalan mundur, menghampiri wanita tadi.
Chalodra dan Hendery akan menengahi bila ada adu fisik, jika adu mulut tidak apa.
"Kamu bicara apa, San?" tanya Taka. Dia bergidik ngeri dengan Casandra. Taka mencoba melepaskan cengkeraman tangan Casandra, tetapi gadis itu seperti monster.
"Kemarin malam, aku mau ke rumah kamu tapi aku lihat kamu jalan sama perempuan lain." Casandra sudah melotot, artinya gadis itu benar-benar marah.
"Kemarin malam?"
"Dasar buaya!" Casandra semakin menguatkan cengkeramannya, hingga membuat Taka tercekik.
"Tunggu, San! Itu Alina kok."
"Alina? Bohong!"
"Beneran."
"Iya, itu Alina. Kemarin Alina berak di celana, mangkanya Taka aku suruh antar di pulang," ujar Hendery.
Alina merupakan tetangga sebelah rumah Taka. Gadis 15 tahun yang disabilitas keterbatasan. Hampir semua tetangganya menjauh dan tidak mau mengobrol, bahkan untuk tegur sapa saja. Namun, ada Taka yang tidak memilih-milih dalam pergaulan, dia lebih sering menghabiskan waktu dengan Alina, yang sudah seperti adiknya sendiri. Padahal, keluarga Alina sangat baik kepada siapapun.
...Hayoo likenya mana...
...Komen juga kak...
...Gas terus bestie...