
Hendery pergi dengan mobilnya. Dia melaju kencang membelah jalan di tengah malam. Istrinya itu sudah tidur dengan lelap. Sebelum keluar, Hendery memberikan Chalodra kecupan hangat di keningnya.
Tentu saja membuat hati Hendery tidak tenang. Hendak tidur, tetapi tidak bisa dan memutuskan untuk meminum segelas kopi sebelum pergi. Tatapan dinginnya membius seseorang di samping kursi kemudi, orang itu membisu dan membeku.
"Apa pahlawan itu masih belum diketahui?" tanya Hendery.
"Adi dan Bil masih mencarinya, Tuan," jawabnya.
"Apa istrimu sudah sembuh, Nanta?"
Laki-laki itu menggeleng pelan. "Butuh biaya besar untuk perawatannya, Tuan. Jadi, saya masih mengumpulkannya," jawab Nanta.
Hendery melirik laki-laki itu sejenak, lalu menghembuskan napas panjang. "Bawa dia ke dokter terbaik, aku akan mengurus biayanya," ujar Hendery.
Nanta menoleh cepat ke arah Hendery, binar matanya terlihat jelas. "Tuan serius?"
"Kamu sudah membantu banyak segala urusan saya. Sebagai balas atas apa yang kamu kerjakan. Lihatlah! Segelas usaha tidak akan mengkhianati hasil."
"Terima kasih, Tuan Hendery."
Nanta, tangan kanan Hendery sejak dia memulai bisnisnya ini. Laki-laki itu selalu berperan penting dan mampu menyelesaikan apapun tugas yang diberikan Hendery. Dia bertanggung jawab dan tegas atas segala hal. Sedangkan Adi dan Bil, keduanya adalah kaki Hendery.
Hendery menepikan mobilnya, tepat di mana dua minggu lalu kendaraan yang ditumpangi Carlon dan rekannya terjun. Arus sungai itu begitu cepat dan gelombang airnya besar. Air keruh membuat Hendery tidak bisa melihat apapun.
"Apa polisi tidak melakukan penyelidikan?" tanya Hendery.
"Tidak ada pengendara yang melihat, hanya tim kita," jawab Nanta.
Hendery mengambil kotak rokok dan mengambil satu biji, lalu menyalakannya dengan pemantik. Tidak lupa, menawarkannya juga kepada Nanta, ternyata laki-laki itu menolak dengan alasan tidak untuk saat ini.
"Saya mendapat teror. Pengirimnya kemungkinan Leon Charleston," ujar Hendery.
"Dia putra satu-satunya Anggara. Sebelum Tuan Hendery memerintahkan saya untuk mencari identitasnya, saya lebih dulu berteman dengannya, bahkan sudah dekat."
Hendery mengerutkan dahi. "Menurut saya, dia sangat baik dan ramah kepada semua orang. Dia bercerita kepada saya, Papanya sakit kanker hati dan penyebabnya membuat Leon sangat marah," ucap Nanta.
"Chalodra penyebabnya," sambung Hendery.
Nanta sedikit tersenyum dan mengangguk. "Seperti itu katanya."
"Dia mendatangi saya dan mengatakan itu. Padahal, Chalodra sama sekali tidak dekat dengan Anggara," kata Hendery.
"Mungkin saya bisa menjelaskannya kepada Leon jika bertemu."
"Kemungkinan, mobil mereka selamat dan Leon penolong itu, karena ingin bekerja sama dengan Carlon untuk menghancurkan kami," ujar Hendery, penuh keyakinan.
"Tuan terlalu pandai, sehingga bisa menebaknya terlebih dahulu," pekik Nanta. "Sekarang keadaan Nyonya Chalodra sedang tidak aman, lebih baik Tuan Hendery membawanya pergi ke suatu tempat yang jauh, yang tidak bisa mereka temukan. Itu hanya saran saya."
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin, dengan apa yang diperintahkan Tuan Hendery," ucap Nanta.
Chalodra menggeliat, merubah posisi tidurnya menjadi menyamping. Merasakan sesuatu yang janggal, Chalodra perlahan membuka mata. Masih dengan rasa kantuk, Chalodra mencoba bangun dan duduk. "Mas Hendery?" gumamnya.
"Mas, kenapa belum tidur?" tanyanya. Tidak mendapatkan jawaban, Chalodra berdiri dan mencoba melangkah. "Sudah tengah malam loh ini."
Sosok itu berbalik badan, membuat Chalodra kaget dan mundur. "Egry?" Bibir Chalodra bergetar, napasnya tersengal.
Laki-laki di depannya itu tersenyum miring. Baju yang tidak layak, kaos putih sobek dan lusuh dipenuhi lumpur. Wajahnya begitu kusam dan tatapan matanya sendu. "Suami kamu ... sudah membunuh aku, Cha," katanya. "Kamu mau ikut?"
Sontak Chalodra membulatkan mata dan segera menutup pintu itu, lalu menguncinya. Napas Chalodra memburu, dia segera berlari keluar kamar. "Bi Aya!" teriak Chalodra. Dengan cepat dia menuruni tangga, menuju lantai bawah.
Chalodra menggedor pintu kamar Bi Aya, yang kebetulan tidak pulang hari ini. Dengan kuat Chalodra mengetuknya, hingga terbuka dan keluarlah wanita itu. Chalodra langsung memeluk erat Bi Aya, membuatnya bertanya-tanya.
Bi Aya membawa Chalodra masuk ke dalam kamarnya, Chalodra bercerita perlahan setelah meminum segelas air. Air matanya masih deras membasahi pipi, takut dengan apa yang dilihatnya tadi. "Apa Egry sudah meninggal, Bi?" tanya Chalodra.
Bi Aya yang tidak tahu apa-apa hanya mengangkat pundak. Wanita itu mengelus kepala Chalodra dengan lembut, menenangkan Chalodra. "Mas Hendery juga belum pulang," gumam Chalodra.
"Egry mengatakan itu, apa benar Mas Hendery membunuhnya? Apa pekerjaan Mas Hendery sebenarnya, Bi?!"
Bi Aya menggeleng. "Bi Aya tidak tahu," jawabnya.
Bi Aya meninggalkan Chalodra di kamarnya dan pergi keluar untuk menelepon majikannya. Hingga pukul dua, Hendery tidak pulang semakin membuat Chalodra khawatir. "Sebaiknya segera pulang, Nyonya Chalodra masih belum tenang," kata Bi Aya.
"Saya akan pulang." Itu jawaban Hendery.
Bi Aya mengukir senyum tipis kepada Chalodra. Tatapan mata Chalodra terlihat sendu dan penuh ketakutan. "Tuan Hendery akan segera pulang," ujar Bi Aya.
Bi Aya menuntun Chalodra agar membaringkan tubuhnya, sambil Bi Aya menepuk pelan lengan Chalodra. Perlahan, Chalodra memejamkan matanya membuat Bi Aya mengukir senyum tipis.
"Kasihan," gumam Bi Aya pelan.
Ketika perjalanan pulang, Hendery mendapatkan panggilan dari Nanta, setelah mengantarkan laki-laki itu pulang. "Mayat Tuan Carlon sudah kami temukan."
"Bawa ke rumahnya dan katakan kepada bawahannya, kami akan mengebumikannya besok," ucap Hendery.
Terdengar cukup melegakan bagi dirinya. Meski upaya membunuh sang istri tidak henti-henti, Carlon masih menjadi sosok papa bagi Hendery. Tanpa Carlon juga, Hendery tidak akan menjadi sebesar ini.
Hendery sampai di depan rumahnya, sejenak mendongak ke teras kamarnya. "Kemungkinan itu hantu Egry," ucapnya.
Hendery tidak disambut oleh siapapun, langsung saja pergi ke kamar Bi Aya, setelah mendengar keseluruhan cerita pembantunya itu. Hendery mengetuk pintu terlebih dahulu. Bi Aya keluar dan mengukir senyum tipis, lalu Hendery masuk.
Kantung mata Chalodra memerah, membuat Hendery mengerti, istrinya telah menangis begitu lama. Hendery membelai wajah cantik Chalodra. "Terima kasih, Bi," kata Hendery.
"Sama-sama, Tuan."
Hendery bergerak perlahan, mengendong Chalodra menuju kamar. Lalu membaringkan tubuh Chalodra secara lembut, agar tidak terbangun. Hendery menghembuskan napas panjang, lalu melangkah menuju teras.
"Jika benar itu hantu, Egry pasti sudah meninggal," ucapnya. "Chalodra pasti ketakutan."
Hendery mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Nanta, cari tahu keberadaan Egry, kalau memang tidak ada, berati dia benar-benar sudah meninggal."
"Siap, Bos!"
Hendery tidak tahu kebenarannya. Dia kembali menutup pintunya dengan erat, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Setelah itu, Hendery membaringkan tubuhnya di samping Chalodra dan memeluknya erat.
...LIKE WOYY! ...