
“Pokoknya, aku mau pindah tinggal dengan bunda. “serunya lagi menaiki tangga.
Dirga hanya menatap datar adiknya, sekertaris hen kau tunggu lah ganjarannya berani sekali kau membuat ku menjadi kambing hitam.
*******
Adengan masa remaja nya seakan berputar dengan sendirinya di memori otak Vanya. Matanya menatap sengit kearah sekertaris hen.
Derta hanya menatap dengan diam interaksi antara adik ipar nya dengan sekertaris hen.
Sekertaris hen menatap sebentar kemudian mengalihkan pandangan nya kearah tangga yang sedang diturunin oleh tuan Dirga. Datar seolah tidak peduli itulah ekspresi yang ditunjukkan oleh sekertaris hen.
Membuat Vanya menggeram kesal.
Dirga yang tidak mengetahui suasana yang ganjal. Hanya berjalan dengan senyum sedikit diterbitkan melihat istrinya melihat kearah nya.
Berjalan kemudian mendudukkan bokongnya kearah kursi disamping istrinya.
Sekertaris hen mengekor dari belakangnya. Sekertaris hen tau adik tuan nya tidak akan berani memarahinya jika sedang bersama tuanya.
Membuat nya sedikit tenang. Sedikit malas menatap tatapan membunuh dari adik tuan nya.
Vanya menatap jengah, dasar tidak tau malu, sialan. Serunya dalam hati. Dirinya tidak berani marah jika sudah didepan kakak nya. Karena ujung dari kejadian tetap dia yang dimarahin balik.
Sekertaris hen mendudukkan bokongnya dikursi antara tuan Dirga dan adik tuannya, tepat nya diri nya duduk disamping bocah yang selalu menanggapnya musuh.
Hanya karena kejadian konyol beberapa belasan tahun yang lalu.
Cihhh,, anak kecil memang pendendam sekali cibir nya dalam hati.
Aktivitas makan dimeja bulat itu hanya diisi suara denting an sendok yang saling beradu dengan piring. Keempat nya hanya diam menikmati makanan itu.
Sampai kemudian.........
Sekertaris hen melotot kan mata nya. Sementara Dirga memutar pandangan kearah istrinya dengan tidak suka sembari menahan tangan istrinya yang sedang menangkat sendok.
Vanya menangkat pandangan nya melihat kakak ipar nya.
Yang benar saja,meminta makanan yang dimakan manusia gila itu. Membuat nya merasa geli sekaligus aneh.
“Kau jangan aneh-aneh ambil lah yang masih utuh. “serunya menunjukkan kearah daging ayam yang belum disentuh.
“Tidak, aku ingin makan punya dia. “seru derta menunjukkan dengan kearah piring sekertaris hen.
“kau ini jangan aneh-aneh. “serunya lagi.
“Aku selesai. “Vanya memotong perdebatan Antara kakak dan teman nya itu. Berdiri dan meletakkan piring kotor nya di wastafel.
Kemudian berdiri menuju kamar nya tanpa memandang orang yang menatap nya aneh.
Dirinya tidak peduli kejadian apa yang terjadi selanjutnya.
Derta sendiri hanya menatap kosong kearah adik ipar nya.
“Kau makan punya ku saja. “Dirga mengalihkan pandangan istrinya dengan memberi ayam milik nya.
“Tidak aku tidak mau. “serunya derta membantah Seraya berusaha mengapai ayam milik sekertaris hen.
Sekertaris hen hanya menatap cengo, apa istimewa nya ayam milik nya? Padahal istrinya Tuan nya makan ayam dengan rasa yang sama dengan miliknya.
Pandangan nya beralih kearah piring miliknya dan menatap ayam miliknya yang menjadi rebutan.
“Tuan biarkan saja, saya akan memberikan ayam nya dengan ikhlas. “ucap sekertaris hen berusaha Menengah perdebatan antara pasangan suami istri itu. Menyodorkan piring nya. Derta menatap nya dengan pandangan berbinar senang.
“Kau mau mati ya. “ujar Dirga tajam menatap kearah sekertaris hen.