
Derta menghela nafas kasar . Tubuh nya sungguh kelelahan. Meningat kegiatan panas mereka beberapa menit yang lalu.
Tubuhnya kesakitan.
Menatap langit-langit kamar. Dengan malas membalikan badan membelakangi suaminya, sekarang hanya perasaan emosi ya g melingkupi nya.
Tidak merespons ketika tangan besar dan hangat memeluk nya dari belakang.
Dirga mencium tengkuk istrinya dan menghirup aroma yang selalu menjadi candu untuknya.
Dia tau istrinya sedang marah sekarang.
“Kau mandilah dulu, nanti kita akan menjemput adikku. “ucapnya lembut sembari mencium rambut indah istrinya.
Derta hanya diam, meraih selimut lebih dalam untuk menggelam kan tubuh polosnya. Bodo amat itu lah yang dipikirkan nya sekarang.
“Kau, jangan membuat ku lebih marah lagi. “seru Dirga kasar. Menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya.
Dengan sekuat tenaga derta mempertahankan selimut yang membungkus tubuh nya.
“Kau mau aku melanjutkan kegiatan tadi, hah. “Dengan kasar menarik kepala istrinya untuk menghadap nya.
Derta Meringis kesakitan, air mata sudah tidak mampu ditampung nya. Mengalir deras dari kedua sudut mata nya. Sakit ini sangat menyakitkan.
Dengan kasar Dirga membalikkan tubuh istrinya, meraup bibir itu kasar. Bibir yang menjadi candu untuk nya. Tidak peduli tangisan istrinya.
Derta merasakan kehabisan oksigen, menepuk dada atletis suaminya. Ciuman kasar membuat nya merasa sangat kesakitan.
Dirga melepas pagutannya, menatap intens mata wanita yang dibwah kunkungannya nya yang bersusah payah meraup oksigen membuat nya tersenyum sinis.
Menyentuh dengan sensual bibir merah cerry wanita itu dengan jari telunjuknya yang membengkak akibat perbuatan nya membuat nya tersenyum sinis.
“A-aku mau mandi. “cicit derta setelah berhasil menetralkan pernafasan nya. Mendorong tubuh suaminya dari atasnya. Tangisan masih mengiringi mata lentik nya.
Dirga tersenyum sinis melepaskan diri dari tubuh istrinya, membaringkan tubuh nya disebelah. Membiarkan istrinya meloloskan diri dari kungkungan nya. Dapat dirasakan pergerakan dari istrinya bangun dari tempat tidur.
******
Dirga menatap istrinya yang sudah berpakaian rapi menunggu nya di tepi tempat tidur.
Dengan handuk sepinggang berjalan menuju istrinya. Mengecup dengan mesra hidung istrinya nya yang masih memerah akibat menangis tadi.
Terlihat sangat menggemaskan.
Derta hanya mematung tidak tau apa yang harus dilakukan. Tubuh nya seolah terkunci atas perlakuan lelaki yang mengecup lembut hidungnya seseorang yang seharusnya dihindari dan dibencinya.
Seharusnya aku terbiasa dengan perilaku nya. Sifatnya yang memang tidak pernah terduga.
Jantung ini apa kau buta mengapa kau berdegup kencang, apa kau tidak tau lelaki di depan tubuh pemilik mu itu jelmaan iblis.
Aku tidak mungkin menyukai pria iblis ini, pria yang yang selalu memperlakukan ku dengan kasar.
Dirga kembali mengecup lama kening istrinya, menangkup wajah wanita didepannya yang menatap nya sayu.
Tidak ada respons s dari istrinya.
Membuat rasa bersalah menggerogoti hatinya.
Menurun kan ego nya.
“Maafkan aku. “ucapnya samar tapi masih bisa di tangkap oleh pendengar wanita didepannya ini.
Mengecup bibir itu lagi dengan lembut.
Sesudah itu melangkah kan kakinya menuju ruang ganti .
******
jangan lupa vote dan like nya guys,,