Household

Household
#Mencoba tegas#



💜Happy reading guyss💜💜


“Mengapa kau sangat lama, hah? Apa kau melahirkan? Tanya suara marah dan menatap tajam kearah istrinya.


Aku bahkan tidak sampai 10 menit, kau sudah mengatakan aku sangat lama, hah? Menatap geram kearah suaminya.


Melahirkan? Apa maksud mu? Apa kau buta tidak melihat perut ku ini masih rata.


Hamil? Emang apa yang aku harapkan? jika aku memberi mu anak kau akan memisah kanku dengannya kan?


Aku yakin itu pasti terjadi, jadi aku mempersiapkan diriku. Mengambil keputusan ku sendiri.


Berjalan gusar ke arah suaminya, mengingat masalah yang terjadi.


“Pijat kakiku”


Wahh,, bukan kah anda mempunyai sangat banyak uang tuan? Anda bisa saja membeli tukang pijat pribadi yang profesional? Mengapa menyusahkan ku lagi?


“Ah, seperti nya kau tidak mau bukan?Ujar Dirga dengan senyum miring. Menatap istrinya hanya berdiri mematung menatap nya.


“Tentu saja aku mau, aku hanya mau menyimpan hand-ah maksud ku jepit rambut”ucap nya canggung memperlihatkan kan jepit rambut nya.


Merasa sangat ngeri melihat tatapan membunuh suaminya.


“kemarikan handphone mu”dengan tangan mengadah siap meminta handphone.


Bagaimana dia bisa tau? Hu, sungguh menyebalkan. Aku sudah sangat bersusah payah untuk menyentuh nya.


Derta hanya pasrah memberikan handphone nya, lagi pula tidak ada yang pentingkan. Ujarnya menghibur diri.


“pijat yang benar”perintah Dirga dengan suara memenuhi.


Dengan malas derta menaik tempat tidur dan memijit kaki suaminya berbaring berselonjor.


Bagaimana ini? Apa aku harus bertanya? Tapi suasa hati nya seperti nya sedang suasana buruk.


Tapi bagaimana pun juga aku tidak boleh membiarkan.


“Sayang,.. Apa aku boleh bertanya? Menatap suaminya yang fokus sekali menatap nya.


Hemmmm.....


Wah.. Apa mulut mu sekarang sedang dilem. Pelit sekali. Kau berbicara.


Karena merasa itu adalah kode bahwa dia diperbolehkan untuk berbicara. Dengan membetani kan diri bertanya.


“Sayang, apa kau yang menjatuhkan kan perusa-han...


“sahabat ******* mu itu, hah”Dirga memotong pembicaraan istrinya dengan murka.


Merasa geram karena merasa istrinya lebih memedulikan Sahabat nya.


Ketimbang dirinya yang sedang sakit. Pikirnya.


Disaat sakit begini, anda masih punya tenaga meneriaki ku, aku kan Cuma bertanya apa salah?


Aku sungguh muak dengan pernikahan ini.


“Apa yang kau pikirkan wanita ******? Teriak nya mengisi langit langit kamar.


Akh,, hati ku sangat sakit mendengar kalimat itu.


“Aku pikir ibu yang melahirkan ku, tidak pernah mengatakan kalimat itu kepada ku. Dia siapa? Dia tidak berhak mengatakan hal itu.


Bahkan aku memberikan kehormatan ku kepadanya, dia masih mengatakan aku ******. Dengan pikiran Berkecamuk berhenti memijit kaki suaminya.


“Apa kau ingin menjadi pahlawan, hahahha”tawanya mengisi langit-langit kamar.


Derta yang sudah menahan kesabaran dengan berani menjawab.


“Aku bukan sok menjadi pahlawan, masalah ini semua karena aku, aku menghancurkan masa depan sahabat ku. Saya hanya meminta tolong kepada Anda, bukan di pilih menjadi wanita ****** yang hanya menghangatkan ranjang anda”teriak nya tidak kuasa menahan tangis.


“Berhenti melibatkan kan mereka, disini aku yang salah”ujar nya lemah.


“Apa yang kau bicarakan, hah? Apa kau lupa siapa yang menjual diri kepadaku, hah?


Dengan air mata mengalir deras.


*Do you Love the rain.


Does make you dance.


When you're drunk with your friends at a party.


What’s your favorite song


Does itu make you smile.


Do you think of.


When you close your eyes tell me


What are you dreaming*.


Lagu favorit nya mengalun lembut dari handphone digengaman suaminya.


Tanda ada telpon masuk.


Dirga menatap istrinya dingin, memajukan telpon meminta istrinya mengangkat panggilan yang masuk.


Tapi dia tetap memegang handphone istrinya. Dan suara nya di besarkan.


Derta hanya pasrah. Mengikiti perintah suaminya. Mengangkat panggilan di handphonenya.


“Halo, sapanya kaku kepada sahabat nya.


“Lo, Baik-baik saja kan der? Tanya suara khawatir disebrang sana.


“gue baik-baik saja”jawabnya takut. Aku mohon jangan ungkap kan kekhawatiran mu sekarang jer, saat nya sungguh tidak tepat.


Lihatlah, tatapannya seakan siap mencabik ku.


“Permintaan sohyun, aku minta jangan terlalu dipikirkan. Kami tidak bisa memaksa mu. Sehat selalu, bye”telpon tertutup.


Dengan menyisakan air mata yang turun kian menderu. Mendengar suara sahabat nya. Yang bahkan sangat mementingkan dirinya.


Lihat lah apa yang dilakukan mereka untuk mu derta, lihatlah. Mereka bahkan mementingkan kepentingan mu diatas kepentingan mereka.


Tapi kau sendiri sumber dari masalah. Rasa bersalah menyeruak di hatinya.


Prang,,,,, suara lemparan keras mengalihkan perhatiannya.


Menampakan pecahan handphone berkedip pelan dan mati total.


Kenangan, perjuangan semuanya mengingat semua.


Membuat rasa sakit perlahan menguap kembali.


“Berhenti melibatkan orang terdekatku dengan masalah kita”tegas nya dengan memberanikan diri menatap maniak mata suaminya.


Jika anda ingin bermain-main, maaf saya bukan lawan yang layak buat anda.


Dengan sangat saya meminta mundur dari kontrak yang kita sepakati.


Juga, perusahaan ayah bunda saya serah kan kepada Anda. Saya tidak punya hal menakjubkan untuk memberi anda penawaran. Tapi saya mohon hanya itu yang masa punya sekarang, tolong lepaskan orang terdekat saya.


Saya akan menjauh dari kehidupan anda saya janji, atau bahkan anda tidak mengijinkan kan saya untuk hidup, saya dengan ikhlas anda mengambil nyawa saya”ujar putus asa.


saya harus tegas. itulah yang dipikirkan nya.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Huwa😭😭😭akhirnya bisa update lagi, walau hanya episode, tapi panjang loh😁


Terimaksih buat masih setia. Ngikutin ceritanya.


Author akhir 2 ini sangat sibuk dengan tugas sebagai pelajar😁


Always give me Your all support💜💜💜