Household

Household
"Semua nya menjadi miliknya"



“ maaf kek, apa yang dikatakan Dirga itu benar”jawab derta menahan tangis.


“mulai, sekarang..... kau boleh menanggap kakek adalah keluarga mu juga.


“ Kamu Dirga cucu laknat, harus memperlakukan dia layaknya istrimu”perintah kakek yang hanya dibalas makhluk yang ternyata bernama Dirga dengan muka kesal.


“ Baik kek, terimakasih”jawab derta tulus.


Heran gue, ngapa kakek baik gini.


Harus punya cucu laknat macam pria didepanku.


Batin derta sambil melirik sekilas kearah pria brengsek yang memang berada di depannya.


Cihhh........ semua wanita sama saja. Melakukan sesuatu semua demi uang.


“Apa kau merasa senang, kakek menerima mu dengan mudah, hah? Teriak Dirga emosi mengepalkan tangannya disetir mobil.


Karena mereka memang sudah keluar dari rumah kakek.


“ apa kau bertanya, seolah mengatakan aku tidak pantas bersanding denganmu??


“Baikah tuan, saya akui saya orang hina, tidak layak bersanding dengan anda yang agung”ujar derta menahan tangis.


“ apa kau begitu cengeng?? Siapa yang meminta mu dengan berani meneriaki ku ,hah??


“apa kau mau melihat kehancuran perusahaan kecil ayah jelek mu itu? Hah!!!


“ Maaf tuan, Dirga” derta memohon dengan mengatup kan tangan didepan dada dengan sedih.


“siapa yang menyuruh mu berani memanggil namaku? Apa kau merasa dirimu layak, hah??


“ maaf tuan”


“sekarang kau harus memanggil ku tuan yang terhormat” ujar Dirga dengan seringai lebar.


Cih... bukan nya dari tadi saya memanggil anda tuan. Hanya kurangnya saya tidak menambah kalimat “terhormat”nya.


Apa perlu juga saya memanggil anda Tuhan.


Omel derta dalam hati.


Perjalanan tanpa tujuan akhirnya diiring jeheningan.


“ maaf tuan yang terhormat, saya harus kembali kerumah saya”akhir nya derta buka suara memecahkan keheningan yang melingkupi mereka. Dan bergidik ngeri memanggil pria gila itu dengan sebutan yang sangat menjijikan itu.


Lirikan mata pria kearah derta seolah menanyakan alamat rumahnya.


“Jalan bla-bla........... “ derta menjelaskan.yang seolah peka dengan lirikan pria yang bernama Dirga.


“Terima kasih tuan yang terhormat, karena sudah mengantarkan saya sampai ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat” ucap derta menunduk hormat kearah pria yang menatap nya sekilas dan melenceng pergi dengan sombongnya.


“huh.. dasar pria sombong” ucap derta dengan emosi yang ditahan.


ahhh... aku sangat lelah dan ingin tidur sepuasnya.


seharian bersama pria brengsek itu terasa setahun, apa lagi dengan tingkah g*lanya yang ingin membuat ku ditelan bumi saat ini.


huh...... dasar pria tidak tau menghormati dan mensyukuri apa yang dia punya.


mengapa aku memikirkan nya? ahh... aku pasti sudah gila memikirkannya.


dengan cepat derta membuka knop pintu rumahnya,... tunggu mengapa ini terkunci.


Aaaaa.... aku bahkan tidak mempunyai pembantu dan teman dirumah. kesal derta dengan frustasi. aku engak enak merepotkan sohyun sama jerry lagi. hiks, hiks, hiks derta menangis dengan diam.


"Apa kau begitu cengeng?


jlebb... suara itu..


" maaf tuan yang terhormat, saya tidak menangis. hanya saja mata saya kemasukan debu"jawab sohyun dengan cepat menghapus air mata yang tetgrnang dimatanya.


" tokk.....Apa kau bodoh, mana ada debu Malam-malam begini"ujar Dirga dengan menjentik jarinya dikening gadis di depannya.


"sakit b*d*h, apa kau mengeluarkan semua tenaga mu mu untuk menjentik keningku"omel derta dalam hati menahan sakit yang menjalar dikeningnya.


" maaf tuan yang terhormat, gerangan apa tuan kembali kesini?


"apa aku tidak boleh melihat rumah yang kubeli? jawab Dirga dengan seringai lebar.


hah,,,, Maksud tuan apa ya? saya tidak pernah menjual rumah ini? ucap derta dengan tidak mengerti.


" apa bibi mu akan mengatakan itu? setelah menjual mu dia bahkan menawarkan rumah yang jelek ini"


jlebb........ apa aku tidak salah dengar?


bibi mengapa kau begitu tega, bukan kah bibi bilang akan selalu membantu dan melindungi.


"Tuhan, apa aku tidak layak menerima kebahagian.semua yang kumiliki engkau ambil semua dari ku. hiks, hiks, hiks derta t


idak kuasa menahan tangis.


" hanya rumah, perusahaan yang aku miliki untuk kenangan ayah dan bunda. kenangan itu bahkan semua di bawah kendali pria br*ngs*k didepanku ini.


"hemmm........sepertinya aku ingin melihat isi rumah yang kubeli" ujar Dirga dengan santainya.


"apa kau mau mati kedinginan diluar gadis b*d*h?


dengan santainya dirga membuka pintu dengan kunci yang ada ditangannya.


" dimana kamarmu? tanya Dirga kepada gadis yang mengekor nya dari belakang.


"Dilantai 2 tuan" jawab derta dengan malas.


"tunjukan kamarmu" ujar Dirga dengan keras.


saya tidak tuli tuan b*d*h, tidak perlu anda berteriak, sampai urat leher mu keluar.


"Baik tuan" jawab derta dengan menahan emosi. dan menaiki tangga duluan untuk menunjukan kamar tercintanya.


Jangan lupa like, vote and come guys