Household

Household
"Mereka yang ku sebut Sahabat"



Kring..kring......kringgg...


Bunyi bersahutan dari jam beker imut itu tidak membuat wanita cantik itu terbangun dari mimpi indahnya.


Seakan tidur adalah surga yang luar biasa.


Menarik lebih tinggi selimutnya menggelungnya sampai leher dan melanjutkan mimpi indahnya.


Sampai dengan alarm itu berhenti berbunyi.


*********


Sementara didapur.


Wanita cantik berumur 40 an, merasa sangat kesal melihat anak gadisnya belum tampak batang hidungnya.


Mondar mandir dengan mulut tidak berhenti mengomel.


Membuat suaminya yang sedang menyeprut kopi manisnya hanya menghela nafas.


Sudah biasa jika melihat istrinya seperti ini. Jika menyangkut anak gadis mereka yang belum bangun tidur.


“Pa, lihatlah putri mu mengapa sangat susah bangun sendiri”adu nya kepada suaminya dengan cemberut.


Wanita yang menjadi 1 anak itu,. Memang membuat peraturan tidak akan membangun kan putri mereka dari tidur paginya.


Jadi, putri mereka harus bertanggungjawab dengan dirinya sendiri.


“Pa, lihatlah putrimu, mengapa sangat tidak bertanggung jawab”adunya lagi dengan tampang tidak kalah cemberut.


“Sayang bukannya kamu yang buat peraturan itu, tidak akan membangun kan nya dan biarkan dia bangun sendiri biar dia lebih bertanggung jawab dengan dirinya”ujarnya seolah meningatkan kembali Peraturan yang di buat istrinya untuk anak semata wayang mereka.


Kembali menenguk kopi manis buatan istrinya. Dengan ekspresi datar.


“Tapi kan dia harus kuliah, pah”ujar nya membela diri.


“hemmmm”


Akh, mengapa aku sangat mencintai pria dingin itu. Menatap kearah suaminya.


Dengan kesal menghentakkan kaki nya menaiki tangga menuju kamar putri kesayangan mereka. Berusaha mengalahkan egonya.


Lihatlah istriku, mengapa sangat mengemaskan.” Matanya dengan cepat menatap istri yang dengan kesal menaiki tangga. (Ingat umur) author berkomentar.


Menghela nafas dengan pelan. Dan dengan pelan memutar knop kamar putrinya.


Walapun sedang kesal tapi jika berhadapan dengan putrinya. Dia akan sangat lembut. (Bunda berani dibelakang doang 😁)


Menatap putrinya yang dengan asik menarik selimut bergelung kembali mencari posisi ternyaman untuk tidurnya.


Ahh,, dia tetap putri kecilku.


Berjalan pelan membangun kan putrinya.


“Sayang bangun”menarik selimut putrinya. Kembali Mengerut kesal melihat putri nya malahan menarik kembali selimutnya untuk melanjutkan tidurnya.


“Sayang kamu tidak ingat ini hari apa”? Tanya nya mencoba sabar.


Pertanyaan sukses membuat perhentian gerakan selimut. Memperlihatkan wajah cantik putrinya.


“Bunda”ujar nya serak dengan suara khas bangun tidur.


Melihat bunda hanya diam tidak menjawab ucapan nya membuat nya memutar kepala menatap dinding. Yang menampakan kalender juga jam mewah yang me perlihatkan angka laknat disitu.Menghela nafas kecewa.


“Bunda derta malas sekali masuk kuliah”ujarnya kemudian.


“Sayang apa yang kau bicarakan? Mencubit pipi putrinya. “cepat bangun dan sarapan papa sama bunda menunggumu ”


.


“Bunda...... “mencoba merayu.


Mendapat tatapan tajam dari bundanya membuatnya menghela nafas putus asa.


“Baiklah bunda aku akan mandi”ujarnya berusaha bangun dari tempat tidur ternyaman nya.


Berusaha membangkitkan semangat 45 nya untuk melangkah kekamar mandi. Melangkah pelan. Menatap kebelakang mendapat tatapan dingin bundanya yang masih setia berdiri ditepi ranjang nya. Menatap kearahnya seolah menggiring langkah menuju kamar mandi.


Hanya dibalas dengan cengiran lebar tatapan mematikan bundanya.


Akh, mengapa mereka suka sekali memperlakukan ku seperti anak kecil. Membuatku merasa terkekang saja. Pikirnya.


Kembali pikiran lainya bersuara”apa yang kau pikirkan, mereka sangat menyayangi mu”mereka hanya ingin kau dewasa. Its true. Otak sadarnya bekerja dan membenarkan pemikiran itu.


Seharusnya aku sangat bersyukur. sebagai putri tunggal dari perusahaan dari Sumber jaya group aku terbiasa hidup yang berkecukupan, dan kasih sayang yang melimpah dari Orang tua dan sahabat-Sahabat ku. Aku tersenyum bahagia.


Aku tidak pernah berpikir seperti apa kehidupanku kedepanya, tapi aku bahagia dengan hidupku yang sekarang.


Mempercepat ritual paginya.


*******


“Selamat pagi Bunda, papa” sapanya dengan senyum lebar dengan langkah menurunin tangga.


Tanpa merasa bersalah melanggar peraturan yang dibuat bundanya.


“Selamat pagi juga putri kecilku” Ucap bunda sama ayah dengan kompak dan menatap satu sama lain.


“hahhahahah”


Aku senang mendengar kekompakan. Mereka sekaligus kesal. Hei, apa kalian tidak melihat aku sudah sebesar ini umurku bahkan sudah melewati masa remaja. Mengingat umurku sudah. Menginjak 21 tahun.


Menyantap dengan rakus roti kesukaan ku ditemani susu coklat favorit ku.


Mataku tidak sengaja menangkap angka pada jam dinding yang terpampang manis di dinding ruang makan.


Dengan cepat menelan susah roti ku di mulut dan menghela nafas kesal.


Huh, siapa yang percaya dengan angka pada jam dinding itu. Mencoba menyangkal penglihatannya. Kembali menyantap rotinya.


Untuk menyakinkan diriku.


Kembali Menatap dengan seksama jam kecil yang melingkar di pergelangan tanganku”huh, mengapa waktu sangat cepat sekali berjalan. Ternyata jam didinding itu benar.


“Bunda, papa aku berangkat “dengan menunjukan jam didinding.


“Baiklah sayang Hati-hati “jawabnya kompak lagi dan sekaligus mengakhiri drama pagi hari dirumahku.


*********


“Maaf Pak, lama menunggu” Aku meminta maaf kepada pak Rahmat yang sudah menjadi supir pribadi kami selama belasan tahun.


“tidak apa-apa nona” Jawabnya dan membukakan ku pintu mobil dan melaju kencang menuju universitaku.


Kembali ke rutinitas menjadi anak perkuliahan.


Fakultas hukum adalah tujuanku, berbeda dari papa sama bunda yang menjadi seorang pembisnis.


Ntah, aku sangat benci dengan hal yang berkaitan dengan perusahaan.


Mataku menatap keluar jendela mobil menampakkan bangunan megah. Tidak membuat ku tertarik. Semilir angin membuat lebih asik dengan pikiranku.


Ternyata aku sangat merindukan kedua sahabat ku. Hehheheh.


Mengapa aku baru merasa rindu dengan suasana ruang kelas juga suasana kantin. Hemm.


********


“sohyun, Jerry”teriakku dengan kencang.melambaikan tangan dan berlari mendekati mereka. “ Aku merindukan kalian” ucapku. ketika berada di dekat mereka. Yang hanya menatapku dengan tampang melongo.


“Plak,, kok lo makin **** sih”sohyun memukulku pelan. Membuat ku merintih seperti sangat kesakitan.


Membuat sohyun semakin mendelikan matanya.


Membuatku sukses mengeluarkan tawa ku. Melihat ekspresi nya membuatku mencubit gemas pipinya. Membuatnya semakin melotot kan matanya kepadaku.


Jerry hanya menatap tingkah kami dengan datar.


Libur semester ini membuat semakin gila. Hahahah.


*****


Sohyun dan jerry adalah sahabatku dari kecil hingga sekarang kami memutuskan untuk selalu bersama sama bahkan kuliah pun memutuskan di Universitas yang sama.


(Jerry laki ya guyss) (Sohyun sama sepertiku)


“Kau lagi ngak kerasukan Derta” Ucap dengan tampang aneh dan mencubit balik pipiku dengan keras.


“hei cubitanmu sangat sakit dan tidak ada manis-manisnya”seru ku dengan protes.


Dengan cengesan sohyun melepaskan cubitan nya.


“nama nya juga cubitan”jerry menimpali dan berjalan menjauh.


“Jerry tolong guee” ujarku Mendramatis melambaikan tangan kepada Jerry.jerry hanya menatapku dengan tertawa bahagia dan lebih memilih menjauh.


Terdengar tawa laknat dari sahabat disampingku. Seolah sangat bahagia tidak ada yang membantu drama ku. Huh. Menyebalkan.


Mahasiswa/Mahasiswi lain tidak heran karena mereka sudah terbiasa melihat kami.


******


“sebaiknya kalian berhenti bermain-mainnya”perintahnya seperti memberi perintah kepada adik nya. Bukanya kita hari ini makul nya pak jihon?ujar Jerry.


Sukses membuat ku dan sohyun berhenti mengoceh dan menatap satu sama lain.


“jer, lo memberitahu atau beri pertanyaan sih? Sohyun berkomentar.


“lo kok sewot”sambung ku gaje. “Makanya otak tu digunain tuk berpikir, mungkin karena kita hebat makanya Jerry membuat kalimat antara memberitahu atau pertanyaan”hahahhahah.tawa mengema.


“Kita ngak boleh lambat woyy” Teriakku seperti tersadar akan sesuatu.berbalik dan menarik tangan sohyun dan berlari menyusul Jerry yang sudah menjauh.


“Hush..hush.....hush.


“Lelah gue njirr, ikutin irama lari mu, yang dah macam dikejar hantu” Ujar sohyun dengan menepuk kepala ku dengan kurang ajarnya.


“kan, gue nyelamati nyawa kita berdua bego” jawabku Dengan nafas ngos-Ngosan.


Dan dengan bersamaan kami melirik kejam kearah Jerry yang dengan acuh tak acuh menangkat kedua bahunya tak peduli dengan lirikan monster ku dengan sohyun...


“Awas lo,, pokoknya lo traktir kami berdua” Tunjuk ku dengan sohyun kearah jerry.dengan suara sepelan mungkin. Karena didepan sudah berdiri pak botak.


“Siapa yang sudah membuat keributan pagi-pagi”tatap pak jihon dengan garang kearah kami berdua.


Yang sudah duduk manis dikursi masing-masing.


“ Kalian berdua, sekali lagi berulah kalian keluar dari kelas bapak, Mengerti!! “teriaknya cukup nyaring ditengah keheningan kelas


“ Iya Pak, maaf kan kami”Ucapku mewakili kami berdua dan tidak lupa melirik sadis kearah Jerry yang hanya menatap kami dengan tatapan kasihanya.


******


Waktunya istirahat.


“Jerry,Pokoknya kami ndak mau tau lo harus traktir kami berdua” Teriak sohyun kencang diantar mahasiswa/Mahasiswi yang berhamburan keluar kelas.


Yang berulah kan kalian kenapa gue yang salah. Itulah yang dipikirkan Jerry.


“Baik para nenek sihir, Raja yang baik hati ini akan mentraktir kalian” jawab Jerry dengan memberi hormat layaknya seorang Raja.


Sungguh malas berhadapan dengan kedua sahabat permpuan nya.


“Jijiks. “ Teriakku bersamaan dengan sohyun dan berlari mengejar Jerry yang sudah kabur duluan.


Karena dia tau apa yang akan terjadi jika kami berhasil menjangkau nya.


“Makasih Jerry, makin cintai deh gue” Ujar sohyun dengan tatapan liarnya menatap hidangan didepannya. Yang hanya dibalas Jerry dengan tampang judesnya.


Aku dengan kawan Jerry yang lainny saling menatap dan...


“hahahhahahahahhahahahha.... “ Kantin bi inah dipenuh suara kuntilanak dan para ****** gigolo🤣🤣🤣🤣


Bab pertama ini author referensi ulang. maaf kalau typo nya masih bertebaran.