HOT DADDIES

HOT DADDIES
Para preman jahat




Rerumputan turut membius jiwa bersama dinginnya malam. Mengikuti beku diamnya mencoba berbicara kepada sang malam.


"Ya Tuhan kenapa aku harus seperti ini." gumam Nadya sambil meratapi gemerisiknya air hujan.


"Tidak, Tuhan hanya ingin menguji kesabaranku. Bagaimana aku bisa bertahan dalam situasi ini jelas tidak lebih sulit dibanding dengan bertahan hidup yang sudah kulakukan selama ini. Aku yakin bisa melewati ini dengan mudah." gumam Nadya.


Ia pun optimis bahwa badai pasti berlalu. Hujan pun semakin deras seperti air menghujam sendu, terus jatuh mengalir kelu


dalam ayunan langkah, yang semakin lambat


Dalam helaan napas, yang semakin dalam.


"Aku mesti kemana lagi! Tidak mungkin harus tidur di hotel lagi, uangku tinggal sedikit, apalagi ATM gak bisa di gunakan,"


Tidak lama kemudian hujan pun berhenti. Semua yang berteduh di pinggir pertoko-an langsung pergi meninggalkan Nadya seorang diri. Entah harus kemana Nadya berpijak. Tidak ada tujuan hanya hampa yang terasa.


Tiba-tiba teringat akan pesan Bi Inah, cepat-cepat dia menelepon Bi Inah dengan nomor barunya. Namun nomor yang dituju tidak dapat di hubungi. Nadya semakin cemas, dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Hatinya semakin gundah gulana.


Malam pun semakin larut, Nadya masih duduk di depan pertokoan. Ia memutuskan untuk tidur di depan pertokoan untuk sementara. Untung tokonya sudah tutup dari tadi sore.


"Tak apalah aku tidur disini. Mudah-mudahan aman," gumamnya.


Sambil duduk -duduk dan memainkan handponenya, tiba-tiba ingatan Nadya malah tertuju pada bayi yang kemarin ia gendong. Nadya merasakan ada kerinduan pada bayi itu.


"Andai saja bisa bertemu lagi, aku ingin memeluknya lebih lama." gumam Nadya sambil memejamkan matanya.


 


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


 


Sementara di rumah sakit...


Tugas praktek Yongki sudah selesai dan bersiap untuk pulang. Pas lewat ruang forensik, dia berhenti. Dalam pikirannya ada niatan untuk menanyakan sesuatu. Kebetulan dibagian forensik, ada salah satu temannya yang bernama Riri.


Dokter Riri usianya 26 tahun. Masih single, ia menjalani pekerjaannya sebagai seorang patologis forensik di Rumah Sakit Putra Bahagia. Teman Yongki Pada waktu kuliah dulu.


Yongki pun masuk dan menyapa dokter lainnya. Mereka sangat antusias ketika Yongki datang menghampirinya, maklum dokter paling ganteng sejagat rumah sakit.


"Halo Dok," ucap para dokter junior yang ada di ruangan itu.


"Halo juga, Dokter Ririnya kemana?" tanya Yongki tersenyum manis.


"Oh, bentar Dok, dia sedang ke toilet sebentar," ucap salah seorang dokter yang baru magang.


"Oh gitu," ucap Yongki singkat.


Ia pun disuruh untuk menunggunya, namun, tdak lama kemudian, Dokter Riri pun keluar dari toilet.


"Ehh Dokter Yongki! Tumben nih ada apa? Mimpi apa aku semalam ya, bisa bertemu lagi denga dirimu, Dok," ucap Dokter Riri sumringah.


"Ehh iya Dok, kebetulan lewat hehe. Ini saya mau tanya apakah jenazah yang meninggal pada waktu di kereta api, di otopsi disini atau tidak yah," tanya Yongki.


"Ohh, yang itu sih udah selesai Dok. Kemarin mayatnya sudah dibawa ke rumah duka," jawab Riri.


"Oh, gitu ya! Apa ada sesuatu soal mayat itu Dok? Soalnya dia meninggal secara tiba-tiba dan kebetulan aku ada disana," tukas Yongki.


"Setelah aku teliti, ada luka kecil dibagian lengan seperti bekas suntikan. Kemungkinan sih dia pemakai obat-obatan terlarang," ujar Riri sambil memberikan kertas hasil penelitian nya kepada Yongki.


Yongki pun langsung membacanya, dikertas itu tertulis bahwa mayat itu bernama Shelya Anderson, usianya 28 tahun.


"Jika minum obat-obatan terlarang, harusnya tidak langsung mendadak meninggal," celetuk Riri.


Seketika, Yongki pun kaget dan berkata, "iya juga, tidak mungkin mendadak meninggal pasti sakit dahulu, Lalu apa penyebab wanita ini meninggal? apakah ada gejala lain selain obat-obatan terlarang itu?"


"Mmm, mungkin dia punya gejala Emboli paru!" jawab Riri.


"Gejala yang penyumbatan pembuluh darah paru?" tanya Yongki penasaran.


"Iya betul, akibat lepasnya gumpalan sumbatan pada pembuluh darah balik di bagian tubuh lain atau trombosis vena dalam," jawab Riri.


"Mmm, oke lah kalo begitu, terima kasih ya atas infonya. Aku pamit pulang dulu, soalnya sudah malem," ucap Yongki sesekali melihat jam tangannya.


"Yaudah kita pulang bareng saja," ajak Yongki.


Riri pun menyetujuinya untuk pulang bersama. Yongki mengantarkan dahulu Riri


ke rumahnya. Karena sudah larut malam, dia hanya mengantarkan sampe depan rumahnya. Setelah itu langsung bergegas pergi menuju pulang.


Di persimpangan jalan tepatnya dekat pertokoan, Yongki melihat seseorang yang pernah ia lihat. Ya dia adalah Nadya. Ia terlihat sedang tidur di kursi depan pertokoan. Yongki pun langsung memarkirkan mobilnya ke depan toko itu. dan langsung bergegas menghampiri Nadya.


Namun belum juga dekat, Nadya sudah terbangun. Sontak saja mereka berdua kaget. Yongki kaget dengan terbangunnya Nadya, Sedangkan Nadya kaget dengan adanya sosok Yongki yang tiba-tiba sudah ada di depan matanya.


"Kamu kamu kamuuu mau ngapain kemari," ujar Nadya sambil menunjuk ke arah Yongki dengan mata melotot tajam.


"A-aku mau melihat kamu!" ujar Yongki gugup.


entah apa yang ia pikirkannya. Ketika melihat Nadya, hatinya terasa deg deg seerr.


"Nah, itu u-udah lihat, sekarang sana pergi!" cetus Nadya.


padahal dalam hatinya ia sangat senang karena orang yang kemarin ketemu sudah ada di depan matanya lagi.


"Ahh, tapi-tapi kamu ngapain disini? Ini kan sudah malam, tidak baik untuk wanita sepertimu sendirian disini," ujar Yongki sambil menatap wajah ayunya Nadya.


Namun Nadya tetap memalingkan wajahnya. Seperti tidak suka adanya Yongki. Ia hanya pura-pura jual mahal.


"Mau pergi gak? Atau aku teriak nih biar semua orang kemari dan menghajar kamu!"


"Ya ampun galak amat, perasaan kemarin lemah gemulai deh. Iya-iya aku pergi tapi ada syaratnya!"


"Apa-apa?" ucap Nadya jutek.


"Minta...


Yongki pun belum selesai bicara, Eehh tiba-tiba segerombolan preman kira-kira sekitar lima orang datang menghampirinya. Sontak saja mereka berdua pun kaget.


"Wah-wah cantik juga ceweknya," ucap preman itu sembari menghampiri mereka berdua.


Ketika sudah berada diantara mereka berdua, para preman itu iingin sekali menyubit pipinya Nadya. Namun Nadya menangkisnya. Tentu saja hal ini membuat preman-preman itu semakin greget pada Nadya.


"Maaf Bung! anda tidak berhak menyentuh wanita itu," ucap Yongki kesal.


Kata kata Yongki membuat para preman geram. Mereka tidak terima atas ucapan Yongki dan ingin sekali menghajarnya. Namun, ketua preman itu tiba-tiba memukul perut Yongki.


Bughhggg....


sontak saja Yongki terpental dekat tembok. Dan hal ini membuat Nadya menjerit ketakutan.


"Jangan! Hentikan!" pekik Nadya.


Ia menangis sekencang-kencangnya. Akan tetapi, mereka tidak menghiraukan perkataan Nadya. Semua para preman itu memukul dan menghajar Yongki.


Dan Yongki pun tidak tinggal diam. Ia langsung membalas perlawanan kelima preman itu. Karena biar bagaimanapun juga Yongki pernah ikut les karate. Jadi, untuk hal seperti itu, tidak masalah baginya.


Sementara Yongki melawan mereka, ada pemikiran Nadya untuk membantu Yongki, ia segera bergegas mengambil gagang sapu yang ada di depan toko itu.


Dengan sekuat tenaga ia memukul para preman itu dan membuat para preman kesakitan serta membuat yongki mudah untuk melawan nya.


Namun hal ini membuat ketua preman itu semakin geram. Langsung saja ia menyeret dan membawa Nadya pergi.


Sementara Yongki masih berurusan dengan keempat preman-preman itu. Untung saja ia melihat Nadya dibawa oleh preman bejad itu.


Yongki pun marah dan menghajar para preman lainnya dengan sekuat tenaga.


Sementara Nadya dibawa ke markasnya yang tempatnya tidak jauh dari area pertokoan itu. Tidak lama kemudian, keempat para preman itu, menyerah. Mereka sudah tidak kuat lagi melawan Yongki seorang diri.


Setelah itu, Yongki pun langsung mengejar ketua preman itu dan mengikutinya dari belakang.


Brugghhhhh...


preman itu mendorong Nadya ke sudut sofa yang ada di markasnya.


BERSAMBUNG...