HOT DADDIES

HOT DADDIES
Mama?



"Ki, dia lihat siapa? perasaan cuma kita berdua disini," ucap Dicka sembari lirik-lirik kesemua sudut ruangan.


"Entahlah, anak kecilkan masih polos, mungkin dia melihat ibunya sedang berada disini," ucap Yongki dengan santainya.


"Iya juga, ini sudah hampir jam 12 malam. Jangan-jangan, dia sedang duduk didekat kita, makanya panggil-panggil Mama terus," ucap Dicka.


"Mungkin." tegas Yongki dengan singkat.


Namun ada kejanggalan dalam situasi ini. Dicka tidak merasakan adanya makhluk halus, biasanya ia suka merinding dan terkadang ketakutan. Akan tetapi untuk saat ini ia merasa seperti biasa-biasa saja.


"Aneh! dalam gelagatnya, dia bukan seperti melihat makhluk halus, Ki. Apa ada orang lain di luar?" tanya Dicka keheranan.


Melihat sekelilingnya, Dicka benar-benar merasa Aneh. Apa yang dilihat Kimmy, seperti bukan melihat makhluk astral. Melainkan wujud manusia.


"Entahlah. mungkin ... ( belum juga selesai bicara, tiba-tiba Kimmy memanggil Mama lagi) mana Sayang? mana coba tunjuk lagi!" ucap Yongki sambil langsung menggendong Kimmy.


Kimmy pun langsung menunjuk ke sebuah jendela. Dimana jendela itu masih terbuka dan belum mereka tutup.


Dicka yang berdiri tepat didekat jendela, langsung menghampiri apa yang ditunjuk Kimmy.


Namun, hasilnya nihil. Ia tidak menemukan apapun.


"Mana? Tidak ada siapa pun." ucap Dicka sembari memeriksa ke luar jendela.


Tanpa mereka sadari, tiba-tiba pintu depan terbuka. Dan sontak saja mereka kaget bukan kepalang.


Ketika apa yang mereka berdua lihat, ternyata dia adalah Nadya. Ia berdiri menatap mereka dengan sendu.


"Nadya!" teriak Yongki


Ia tidak menyangka jika orang yang berdiri di depan pintu itu adalah Nadya.


ia pun langsung berlari menghampirinya, sambil membawa Kimmy.


Mereka berdua langsung berpelukan. Seolah baru saja bertemu. Begitu hangat pelukan dan panasnya rindu antara dua orang ini. Tidak ada yang salah dengan semua itu, juga tidak lebay.


Namun, Dicka yang melihat hal itu, serasa terbakar api cemburu. Ia merasa seperti nyamuk diantara mereka berdua. Dicka pun tidak tinggal diam, ia langsung menuju ke arah mereka.


Tanpa Nadya sadari, Dicka langsung memeluk Nadya dengan erat. Yongki yang melihat hal itu, langsung melotot dan berusaha melepaskan pelukannya dengan satu tangan. Karena ia masih menggendong Kimmy.


"Nad, kami menghawatirkan mu loh," ucap Dicka sambil menyeruduk untuk memeluk Nadya.


Nadya pun hanya bisa terdiam dengan senyum terpaksa. Ia tidak tahu mesti berbuat apalagi. Yang bisa ia lakukan hanya memandang Yongki. Ia merasa kurang nyaman dengan pelukan Dicka.


"Apa-apaan sih kamu! ini perempuanku. kamu tidak berhak menyentuhnya!" ucap Yongki geram.


"Lho, kan aku ikut khawatir juga. apa salahnya aku peluk dia. Lagian cuma pelukan biasa tidak lebih," ucap Dicka sambil melepaskan pelukannya.


"Ah, pokoknya jangan sekali-kali lagi kamu sentuh dia, yang boleh sentuh hanya aku seorang, titik gak pake koma," ucap Yongki geram.


"hadeuh, nyesel aku balik lagi," batin Nadya


"Iya-iya aku faham. Sini Nak, kita tidur saja. Biarkan mereka berdua. Kita jangan sampai jadi nyamuk bakar disini," canda Dicka sembari menyodorkan tangannya untuk menggendong Kimmy.


"Nah, gitu donk," ucap Yongki sumringah


Tidak hanya mereka yang senang dengan kembalinya Nadya ke rumah. Namun, Kimmy juga sangat senang dan kegirangan.


Ketika mereka sedang asyik bercanda ria, tiba-tiba Reno keluar dari kamar Kimmy dengan sempoyongan karena dalam keadaan ngantuk.


"Nadya!" teriak Reno sambil mengucek-ngucek matanya.


"Iya benar. Nadya! Horee Nadya kembali," ucap Reno kegirangan.


"Dih, si kebluk main nyosor-nyosor aja, lepaskan!" bentak Yongki.


Sementara, Nadya hanya tersenyum dengan tingkah laku mereka. Ia sangat bahagia, jika mereka akur meski hambatan melanda.


Bahkan, ia semakin erat dengan Yongki. Ia merasa bersalah telah membuat mereka cemas. Namun, jika tidak begitu, mereka pasti akan bermusuhan lebih lama. Dan sekarang mereka sudah menyadari wataknya masing-masing.


Menjalin hubungan bukan berarti tanpa ada pertengkaran. Mereka bertengkar, tapi setelah itu mereka saling memaafkan dan mencintai satu sama lain, lebih dari sebelumnya.


 


🍭🍭🍭🍭🍭


 


Setelah saling bercengkrama, akhirnya mereka pamit untuk beristirahat di kamarnya masing-masing.


Begitu juga dengan Kimmy, ia sudah tidur sedari tadi dipangkuan Dicka.


"Aku akan menidurkan dia, kalian istirahatlah, besok pagikan kerja," tutur Nadya sembari mengangkat Kimmy dari tangan Dicka.


"Ayo aku antar," sambung Yongki.


Mereka pun langsung menuju ke kamarnya Kimmy. Sementara, Reno dan Dicka sudah menuju ke kamarnya masing-masing.


Setelah Nadya menidurkan Kimmy di tempat tidurnya, Yongki langsung memeluk Nadya kembali. Ia bahkan memeluk Nadya dari belakang. Hal itu membuat Nadya tidak bisa bergerak.


"Hey, kamu kenapa Sayang, ayo tidur. Nanti kesiangan loh," tutur Nadya.


"Aku masih rindu, tolong jangan pergi lagi," ucap Yongki sembari menyimpan dagunya dibahu Nadya.


"Iya-iya aku janji. Tolong lepaskan aku dulu, aku tidak bisa bernafas nih," ucap Nadya.


Yongki pun hanya tersenyum manis. Ia tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Masih teringat jelas bangunan mewah yang jadi saksi sejarah, di kala kita masih dinaungi hujan semalam, air yang jatuh begitu deras dan angin berhembus kencang. Kau dan aku bersatu dengan satu cinta. I love You, Nadya. Inilah yang aku dambakan. Aku berjanji, tidak akan pernah melepaskanmu walau apapun yang terjadi," batin Yongki.


Ia pun membalikan tubuh Nadya menjadi berhadap-hadapan. Nadya hanya bisa memandangi wajah Yongki, sementara Yongki hanya menatap dua bola mata Nadya dengan penuh cinta.


Dengan tatapan yang sangat berarti, dan belaian yang halus, membuat Nadya semakin terbawa oleh suasana.


Ia hanya diam terpaku, mengikuti alurnya suasana yang sangat indah.


Cup


Ciuman manis mendarat, dibibir manisnya. sudah lama ia tidak bercumbu mesra seperti ini. Nadya pun membalas ciuman Yongki dengan penuh gairah.


Lama-lama, ciuman manis itu merambat ke jenjang leher Nadya. Sontak saja, Nadya pun langsung mendesah.


"Ahh," pekik Nadya.


Ia memegang erat pundak Yongki. Sebuah hasrat yang terpendam, kini mereka luapkan dengan penuh gairah.


BERSAMBUNG....


 *****Hallo sahabat Miso, sudah lama nih tidak up hehe. Maklum ada hal yang penting di luar sana. semoga tidak jera dengan cerita miso yahh! ^^


Selamat membaca yaa! jangan lupa kasih likenya plus komennya donk. jangan pelit-pelit cukup Nyi Endit aja yang suka pelit. kalian jangan okeyy.


Oia jangan lupa loh mampir ke novel berikutnya yang berjudul Angkatan ke 7 mohon dukungannya ya sahabat misoo


terima kasihh*****^^