HOT DADDIES

HOT DADDIES
Masih Bimbang!



Di ufuk timur, matahari mulai memancarkan sinarnya, yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin.


Pagi itu, Nadya sudah berada di taman belakang rumah, ia diam berdiri sambil menghirup udara segar, ditambah angin yang berbisik lembut menyuarakan alam yang terasa begitu ramahnya.


"Hatiku benar-benar merasa damai," gumam Nadya sambil memejamkan matanya.


Ia benar-benar menikmati suasananya yang begitu tenang. Membuat ia semakin menjadi wanita yang beruntung, meski sesuatu yang masih mengganjal di hatinya, ia tetap berusaha tersenyum.


Entah harus bagaimana lagi, memikirkan Kakaknya yang tak kunjung datang, membuat ia semakin bertanya-tanya.


"Kenapa aku harus menunggu dia di stasiun? sementara dia tak ada kabarnya sampai saat ini. Apa aku harus minta bantuan Dicka!" pikir Nadya.


"Kamu sedang apa di sini."


Tiba-tiba Nadya kaget dan lamunannya buyar setelah mendengar seseorang berbicara kepada dirinya.


Orang itu tidak asing lagi, dia adalah Reno. Seperti biasa, Reno pasti bangun lebih awal dari lainnya.


"Ah, aku hanya ingin menghirup udara segar saja," ujar Nadya.


"Oia, pakaian yang kemarin aku belikan gimana? kamu suka tidak?" tanya Reno.


"Ya ampun, aku hampir saja lupa!" batin Nadya.


"Iya Kak, aku suka," ucap Nadya malu.


"Syukurlah, kalau begitu, aku ingin kau memakainya " ucap Reno tersenyum manis.


Nadya pun hanya mengangguk saja. Ia masih tidak mengerti dengan maksud Reno terhadapnya.


Matahari semakin memancarkan cahayanya. Sinarnya mulai terasa hangat. Nadya pun pamit kepada Reno untuk segera menyiapkan apa yang seharusnya ia siapkan.


 


🍭🍭🍭🍭🍭


 


Andi dan para pekerja yang ada di rumah Nadya, yang sekarang masih di kuasai oleh Pak Arif, kini sudah mulai beraktivitas. Ada yang masih belum sarapan, ada pula yang sudah bersiap-siap untuk bekerja.


Andi yang sedari tadi masih menggenggam handponenya, mulai kacau pikirannya. Ia bingung dan tidak enak hati. Sesekali ia berpikir, "Apa aku harus menemui Polisi itu lagi?" PIkiran Andi sudah tidak karuan.


Namun, ketika ia sedang bingung, Bi Inah pun datang menghampirinya. Ia bahkan sambil membawa kopi untuk Andi.


"Ndi, nih kopi kesukaanmu, yang ini buat suamiku. Eh suamiku lagi kemana yah?" ucap Bi Inah riweuh.


"Aha, Bi Inah tau aja deh kalau aku belum ngopi, tadi lagi nyiram tanaman," ujar Andi sembari menyeruput kopinya.


"Nanti suruh dia minum kopinya yah, mumpung masih panas. Bibi mau ke dapur dulu," ujar Bi Inah.


"Siap Bi, ehh tunggu dulu Bi. Ada yang mau saya bicarakan, tapi ..."


"Ah, aku tau soal Nadya kan?" bisik Bi Inah memotong pembicaraannya Andi.


Andi pun mengangguknya. Ia ingin sekali mencurahkan isi hatinya kepada Bi inah. Namun, suasananya tidak memungkinkan. Karena sudah pasti disana-sini ada CCTV.


"Aku ada ide. gimana kalau kamu, antar aku ke pasar hari ini," ucap Bi Inah.


"Ngapain ke pasar, tugasku kan hanya pengawal Pak Arif," ujar Andi.


"Katanya mau ada yang dibicarakan? Yaudah antar aku ke pasar," ucap Bi Inah.


Akan tetapi, Andi tidak tahu apa yang sedang direncanakan Bi Inah. Namun, ia mulai faham dengan perkataannya dan ia pun mulai menyetujui ajakan Bi Inah.


"Okey lah. Aku mau minta ijin dulu sama Pak Arif," ucap Andi sembari menyimpan cangkir kopinya di meja.


"Sip lah. Aku mau bersiap-siap dulu dan ngasih kopi smaa suami tercinta," ujar Bi Inah sembari membawa kembali kopi yang di simpan di meja itu.


Andi pun langsung bergegas menuju ruang Pak Arif. Kebetulan, ia sudah berada di ruangannya sedari tadi. Ia langsung meminta ijin, untuk mengantarkan Bi inah ke pasar. Dan hal itu, diijinkan oleh Pak Arif.


Betapa senangnya Andi, setelah Pak Arif mengijinkannya. Dan ini saatnya ia mulai menyusun sesuatu yang harus ia selesaikan selesaikan waktu itu. Dimana, ia dan Bi Inah menyusun sebuah rencana yang akan menjatuhkan nasib Pak Arif.


BERSAMBUNG...