
Suara ketukan pintu makin keras. Sementara, Yongki masih bersama Kimmy. Ia masih mengajak Kimmy bermain. Namun, pikiran Yongki masih kacau, masih tersirat dalam benaknya, antara Nadya dan
Dicka.
"Jangan-jangan mereka saling menyukai?" Ucap Yongki dalam batinnya.
"Tidak! hal ini tidak boleh terjadi! Nadya adalah wanitaku. Tidak boleh ada yang memilikinya selain aku." ucap Yongki geram.
Mendengar Yongki marah-marah, Kimmy pun menjadi ketakutan, ia pun merengek minta keluar dari kamar Yongki.
"Oh, ya ampun. Maafkan Daddy Sayang, maaf yah," ucap Yongki sambil mencium kening Kimmy lalu menggendongnya.
"Oia, Daddy punya hadiah untuk Tante Nadya, ayo kita berikan bersama, pasti dia senang," tutur Yongki sambil membawa sebuah kotak unik dan lucu.
Mereka pun langsung bergegas keluar dari kamarnya. Dan berpapasan dengan Nadya yang hendak membuka pintu.Namun, mereka tidak bertegur sapa, karena masih canggung atas apa yang dilakukan Yongki terhadapnya tadi. Kecuali Kimmy, ia sangat senang ketika berpapasan dengan Nadya.
Namun, gadis itu tidak berbicara sepatah katapun, hanya memberikan senyuman pada Kimmy yang berharap minta di gendong pada dirinya.
Ia pun langsung membukakan pintu tanpa melihat siapa yang datang.
"Kak, makanan sudah siap!" celetuk Nadya sembari membuka pintu. Tanpa ia sadari, jika yang mengetuk pintu bukanlah Dicka. Melainkan, Reno.
"Makanan?" Tanya Reno keheranan.
Seketika, hati Nadya tersentak dan wajahnya memerah. Ia sangat malu dengan ucapannya. Sementara, Reno yang masih berdiri di depan pintu, masih menatap lembut Nadya.
"Maaf Kak, aku pikir yang mengetuk pintu itu, Kak Dicka, (belum juga selesai bicara, Dicka sudah memotong pembicaraan Nadya)
"Aku disini," tutur Dicka menghampiri mereka berdua.
Nadya dan Reno langsung melirik ke arah Dicka. Mereka berdua kaget, tiba-tiba Dicka sudah ada di hadapan mereka.
Sementara, Yongki hanya memperhatikan mereka dari dalam. Hatinya semakin panas, melihat Nadya tersenyum kepada mereka berdua.
Dan seketika, Nadya juga syok serta gugup, melihat mereka berdua tepat ada di hadapannya. Dan mereka sama-sama menatap ke arah Nadya, sehingga Nadya pun menjadi salah tingkah.
"Ya ampun, apa yang mesti aku lakukan? hatiku syok melihat tatapan mereka," batin Nadya.
"A-aku masuk dulu, Kak," ucap Nadya gugup.
"Apa ini, Kak?" tanya Nadya penasaran.
"Buka saja, kamu pasti suka," ucap Reno berharap ia menyukainya.
"Apa? kamu membawakan sesuatu untuk Nadya ? jangan-jangan kamu juga menyukainya, Ren!" batin Yongki geram.
Kecemburuannya semakin memuncak. Ia bahkan tidak mendengarkan rengekan Kimmy.
"Kalau mau masuk, masuk aja jangan di luar!" teriak Yongki sinis.
"Awas, minggir aku mau masuk!" bentak Dicka kepada Reno. Ia juga tiba-tiba mendadak iri terhadap Reno,
"Yey, bilang aja iri!" celetuk Reno
Namun, perkataan Reno pun tidak di gubris oleh Dicka, ia lebih baik diam daripada harus berantem malam-malam. Dan Nadya, yang melihat hal itu, sangat malu dan merasa tidak enak hati.
"Yaudah Kak, kalau begitu aku masuk dulu, tapi soal pemberian ini, aku tidak bisa menerimanya, maaf!" ucap Nadya sembari memberikan kembali hadiah dari Reno.
"Loh, kenapa? aku memberikan hadiah ini tulus. lagipula ini pake uang gajiku yang pertama, dan anggap aja ini sebagai tanda terima kasihku padamu," ujar Reno
"Terima kasih untuk apa? tanya Nadya keheranan.
"Kan, selama ini kamu sudah membantu saya, menyiapkan makanan, baju dan semua kebutuhan saya. Apalagi ngurus Kimmy, kan capenya pasti dobel.
Jadi, apa salahnya kalau aku kasih kamu hadiah? kalau kamu tidak suka, anggap aja hadiah ini sebagai gaji pertama kamu bekerja disini." ucap Reno sambil masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Nadya.
Sementara, Nadya masih bimbang. Antara di terima atau tidak. Namun, melihat kebaikan Reno yang tulus, akhirnya ia menerima hadiah itu.
Yongki, yang sedari tadi melihat percakapan Nadya dan Reno, semakin geram. Ia langsung membawa Kimmy ke kamarnya sembari menenteng kembali bungkusan kecil itu.
Sementara, Nadya langsung berlari menuju ke dapur lagi, untuk menyelesaikan tugas yang belum ia selesaikan. Ia tidak memperdulikan Yongki karena, dalam pikirannya, Yongki pasti sedang marah pada dirinya. Ia belum berani untuk menyapanya.
SEMENTARA SUASANA DI DAPUR...
Dicka sudah menyantap makanan yang di masak oleh Nadya. Ia sangat menikmatinya. Bahkan, dia tidak sadar kalau Nadya berjalan melewati Dicka. Ia fokus pada makanannya. Sembari memikirkan percakapan antara Andi dan dirinya.
BERSAMBUNG...