
"Kalau makan tuh, jangan sambil melamun! ayam si Fara aja, kemarin pada melamun, langsung mati mendadak semua!" celetuk Reno sambil duduk di dekat Dicka.
"Apaan si ganggu orang aja!" pungkas Dicka.
"Wow, makanan lezat! pasti makanan ini hanya untuku," ucap Reno tanpa mengedipkan matanya.
"Hentikan omong kosongmu! semua makanan ini hanya untukku! kau tidak boleh memakannya," ujar Dicka kesal.
"Yey, apa yang membuatmu marah padaku? kalau semua makanan ini untukmu, terus aku makan apa donk?" tukas Reno menyunggingkan bibirnya.
"Terserah! itu derita kamu," jawab Dicka ketus.
Sementara, Nadya yang masih berada di dapur, mendengarkan percakapan mereka berdua. Ia lama- lama pusing dengan keadaannya.
"Ya ampun, makanan aja di rebutin." gumam Nadya.
"Masa bodoh lah, mending aku segera istirahat." tambah Nadya sembari mempercepat mencuci piringnya.
"Ren, apa kamu menyukai Nadya? celetuk Dicka sembari mengambil air putihnya.
"A-apa? aku menyukai Nadya? jangan ditanya! semua orang menyukainya, termasuk Kamu!" ucap Reno dengan lantang.
Dan otomatis, perckapan itu di dengar oleh Nadya. Sementara, mereka berdua tidak tau kalau Nadya ada di dapur juga. Hanya saja terhalang oleh dinding tempat mencuci piring.
"Tentu saja! dia wanita idamanku, jadi kamu tidak boleh dekat-dekat dengan dia!" sergah Dicka.
Reno pun menghentikan makannya, "Kenapa kamu larang-larang aku? mau aku dekat atau tidak, itu bukan urusan kamu!" tukas Reno emosi.
"Ya Tuhan, gimana ini! mereka berantem!" pekik Nadya gemetar.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tutur Yongki menghampiri mereka berdua.
Dan sontak saja mereka berdua kaget. dan tidak ada yang berani untuk menjawabnya.
"Kalian berantem karena seorang perempuan? memangnya di dunia ini tidak ada lahi sosok perempuan seperti Nadya, hah? ucap Yongki dengan suara tingginya.
Nadya yang masih berada di dapur sangat gemetar mendengar percakapan merska, apalagi di tambah adanya Yongki.
Seketika, Yongki pun syok mendengar jawaban mereka berdua, "Iya juga sih, memang langka perempuan seperti Dia, tapi kalau begini, aku semakin tersiksa!" batin Yongki meracau.
"Ya ampun, matilah aku! aku harus bagaimana ini?" lirih Nadya.
"Kalian harus dengar baik-baik! N A D Y A itu adalah milik ku! ingat yah, m i l i k k u.
Kalian tidak boleh memilikinya, selain aku titik gak pake koma," ujar Yongki geram.
Sementara, mereka berdua hanya diam membisu. Karena, Yongki lah yang berkuasa di rumah ini, mereka tidak berani untuk melanjutkan percakapan yang memang benar-benar memicu perdebatan.
Dan sesaat, di ruangan itu menjadi hening.
Nadya akhirnya memberanikan diri untuk menemui mereka.
"Sudah selesaikah berdebatnya?" tanya Nadya sembari mendekapkan tangan di dadanya.
Sontak saja mereka bertiga kaget bukan kepalang. Mereka tidak menyangka, jiak Nadya berad di dapur juga.
"Ka-kamu kapan datangnya?" ucap Yongki gugup.
"Dari tadi! malah sudah selesai nyuci piringnya," ucap Nadya datar.
"A-apa? Jangan-jangan kamu mendengarkan percakapan kita?" seru Dicka kaget.
"Tentu saja, dari A sampai Z aku tau semuanya," ucap Nadya ketus.
Mereka bertiga pun terdiam seribu bahasa. Karena merasa tidak mengenakan hati.
"Aku senang, kalian mau menerimaku tinggal di rumah ini. Tapi, setelah apa yang aku dengar, aku mulai merasa tidak nyaman. Apalagi sampai berdebat seperti ini," tutur Nadya dengan mata berkaca-kaca.
"Jika kalian terus seperti ini, lebih baik aku pergi saja dari rumah ini. Lagi pula awalnya kalian bertiga kan? Tanpa aku!" ucap Nadya lirih sambil meninggalkan mereka bertiga di dapur.
BERSAMBUNG...