HOT DADDIES

HOT DADDIES
Persiapan ulang tahun Kimmy



"Kamu tidak salah lihat data kan, Kak," ujar Nadya.


Mendengar hal itu, Yongki pun semakin bingung, karena dia memang tidak tahu kapan Kimmy lahir. Ia hanya menggunakan data dari ibunya Kimmy alias kakaknya Nadya.


"Tidak! Aku tidak salah lihat," tutur Yongki.


"Memangnya kenapa dengan tanggal lahir Kimmy? Ada masalah kah?" sambung Dicka.


"I-itu tanggal lahir kakakku, tanggalnya sama dengannya, jadi aku semakin rindu sama kakakku, aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi kenapa susah sekali," ucap Nadya sembari meneteskan air matanya.


"Sabar, suatu saat kamu pasti akan menemuinya," ucap Dicka.


"Kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, Nadya!" batin Yongki.


"Karena Kimmy sama-sama lahir di tanggal itu, sekarang anggap saja dia sedang bersamamu," ucap Yongki.


"Iya Kak," ucap Nadya singkat sembari tersenyum kecil.


"Jadi kapan acaranya? Kita sudah mempersiapkan semuanya, tinggal menyusun acaranya saja," tukas Dicka.


"Gimana kalau besok saja? Kalian semua kan libur!" ucap Nadya.


"Okey setuju. Oia kue ulang tahunnya udah dipesankan belum?" tanya Yongki.


"Belum," ucap Dicka


"Yasudah biar aku saja yang memesannya," ujar Yongki.


"Okey," ucap Nadya tersenyum manis.


Ketika barang-barang sudah beres, Nadya pamit kepada mereka berdua untuk beristirahat. Namun, Dicka malah menyindirnya. Ia ingin sebelum Nadya pergi tidur, harus masak dulu makanan untuk dirinya. Karena memang sedari tadi dia belum makan sama sekali. Mendengar hal itu, Yongki pun menyetujuinya. Ia juga merasakan hal yang sama seperti Dicka. Lapar yang tak tertahankan.


"Iya-iya, aku faham-aku faham. Memangnya kalian mau dimasakin apa malam-malam begini?" tutur Nadya.


"Bikinin mie goreng aja deh biar cepat," ucap Yongki.


"Aku mau nasi goreng saja," jawab Dicka.


"Eh, ralat! Aku juga nasi goreng lah," ucap Yongki.


"Okey, cuma itu saja?" tanya Nadya lagi.


"Iya," jawab mereka serempak.


Nadya pun langsung menuju ke dapur untuk memasak.


"Jangan lupa! nasi gorengnya yang pedas ya," teriak Dicka.


"Aku juga!" timpal Yongki.


"Ish, kamu ngikutin aku terus deh," sungging Dicka.


"Yey biarin suka-suka akulah," ucap Yongki menyunggingkan bibirnya.


Sementara Nadya memasak, mereka berdua menonton TV sembari menunggu makanan yang dipesannya. Tiba-tiba Reno keluar dari kamar Kimmy sembari sempoyongan karena masih dalam keadaan ngantuk.


"Kalian ko belum tidur?" tanya Reno sembari menguap.


"Belum, lagi nungguin makanan, laper soalnya," ucap Dicka.


"Loh, aku juga lapar! Aku pesan juga ah," tutur Reno sembari menuju ke dapur.


Sementara, Yongki masih fokus menonton TV. Ia tidak mempedulikan obrolan mereka. Setelah Reno menuju ke dapur tiba-tiba Dicka celetuk bicara, "Kamu akan pilih mana? Persahabatan atau perempuan?"


Mendengar hal itu, Yongki sempat berpikir, ia merasa Dicka sedang membicarakan soal Nadya. Karena, waktu bertengkar dulu, ia sudah faham dengan perasaannya. Jika mereka saling menyukai Nadya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? jika aku pilih persahabatan aku ingin bersahabat dengan kalian seperti sekarang ini, jika aku pilih perempuan, sudah pasti aku akan pilih Nadya menjadi perempuanku," tutur Yongki.


Sejenak Yongki terdiam. Ia tidak habis pikir, kenapa Dicka sampai bertanya hal semacan itu.


"Tentu saja aku akan pilih sahabat, biar bagaimanapun juga, persahabatan adalah hubungan pertemanan yang selalu ada saat suka maupun duka. Soal perempuan, aku rasa kalau berjodoh, pasti akan kembali bersama," tutur Yongki.


"Yakin pilih sahabat? Gimana perasaanmu jika wanitamu dekat dengan sahabat sendiri? Apa kamu tidak cemburu?" tanya Dicka lagi.


"Hey, mau sampai kapan kau tidak faham-faham dengan perasaanku? Tentu saja lah aku cemburu," tutur Yonki.


"Katanya pilih sahabat, terus kenapa kamu cemburu?" ucap Dicka menyeringai.


"Ya tapi masa iya mau ambil wanitaku? Apa tidak ada wanita lain di luaran sana? Ngomong-ngomong, ini yang kamu maksud Nadya kah?" ucap Yongki penasaran.


Seketika Dicka tersenyum, ia tidak menyangka jika Yongki akan memilih persahabatan dibandingkan wanitanya.


"Aku tidak yakin dengan perasaanmu, tapi aku hanya berpesan saja padamu, jika suatu saat wanitamu diambil oleh sahabatmu sendiri, maka jangan salahkan mereka. Dan jangan mendendam. Karena sesuatu akan terjadi dan akan merubah segalanya," ucap Dicka.


"Benar juga, hal ini pasti akan terjadi. Apalagi sering bertatap muka seperti ini, cinta akan tumbuh karena sering bertemu. Ya ampun kenapa hal ini aku takut sekali," ucap Yongki dalam hatinya.


"Aku faham dengan maksudmu. Tapi aku ... entahlah. Mudah-mudahan saja tidak terjadi," tutur Yongki.


"Kamu tidak perlu berpikir yang aneh-aneh. Jagalah wanitamu jangan sampai kau menyia-nyiakan perasaannya. Karena wanita itu sangat lembut. Kau tidak boleh membentaknya seperti tadi, aku tidak suka mendengarnya," ucap Dicka.


"Iya-iya aku menyesal. Sepertinya kamu cocok jadi pakar cinta," canda Yongki.


"Hey, aku ini sedang bicara serius. Kau harus mendengarkan pesanku. Ingat kalau terjadi sesuatu jangan sampai mendendam, bersainglah secara sehat," tukas Dicka.


"Siap Komandan!" ucap Yongki sembari beranjak dari kursinya.


" Sana ke dapur, kamu pasti syok melihatnya," canda Dicka.


Yongki pun tanpa disuruh Dicka, ia sudah munuju ke dapur. Dan benar saja! mereka terlihat begitu mesra. Sampai-sampai Yongki yang melihatnya pun terbakar api cemburu dibuatnya. Ia pun langsung menghampirinya


"Mana nasi gorengnya? Udah jadi belum?" tanya Yongki ketus.


"Oh be-belum Kak. Sebentar lagi," ucap Nadya gugup.


"Kamu ngapain disini?" tanya Dicka sinis.


"Bantu-bantu lah, ngapain lagi," tukas Reno.


Nadya hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka berdua. Tidak ada firasat apapun untuknya. Karen bagi Nadya yang ada dihatinya hanyalah Yongki seorang. Tidak lama kemudian, nasi goreng pun terlah siap disajikan. Mereka langsung insiatif ngambil dengan sendirinya. Kecuali Dicka, Nadya pun segera memanggilnya. Karena, makanan sudah siap disajikan di meja makan.


"Mmm, enak sekali nasi gorengnya," puji Yongki.


"Siapa dulu donk yang masaknya. Koki cantik gitu loh," ucap Reno yang tak mau kalah dari Reno.


Dicka dan Nadya hanya cekikikan melihat ulah mereka. Nadya tau kalau mereka berdua sangat menyukai dirinya. Ini akibat pertengkaran yang sudah terjadi waktu itu, makanya dia hafal betul watak dan sifat para pemuda itu terhadapnya.


"Tak apalah bertengkar kecil seperti ini, asal jangan sampai putus persahabatan kalian karena aku," ucap Nadya dalam hatinya.


Ketika sedang asyik makan, tiba-tiba HPnya Yongki berdering. Ia pun langsung mengecek siapa yang tengah menggangu makan malamnya.


Terlihat olehnya pesan dari Riri, bahwa ia meminta Yongki agar besok harus siap-siap untuk berangkat mengantar dirinya ke kota Dharma. Kota dimana tempat ia dilahirkan sekaligus dibesarkan oleh kedua orang tuanya.


Sontak saja Yongki kaget. Kenapa Riri begitu terburu-buru ingin segera ke tempat asalnya. Padahal Riri baru saja sembuh. Hal ini membuat ia semakin bimbang.


"Ya ampun. Gimana ini! Sedangkan besok ulang tahunya Kimmy, aku mesti gimana?" batin Yongki.


***BERSAMBUNG**...


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA ^^


BACA JUGA KARYA MISO YANG BERJUDUL **SINCERE LOVE ^^


MAKASIHHH*** ^^