
"Apa yang kamu lakukan brengsek?!" ucap Nadya sembari melawan ketua preman itu
Ia menangis sejadi-jadinya. Rasa takut menyelimuti dirinya, seakan dunia sudah tidak mau mendengarkannya. Jiwanya pun seolah tidak berdaya, untuk beranjak dari sofa itu, serasa berat sekali. Tidak lama kemudian, preman itu mulai mendekati Nadya yang berada di atas sofa.
"Ayolah! Jangan munafik jadi cewek. Kita nikmatin bareng-bareng dan kamu pasti akan merasa puas dan senang," rayu ketua preman itu sambil berusaha membuka bajunya Nadya dengan kasar dan bertenaga kuat sekali.
Nadya pun berusaha menangkisnya dan sempat terlepas dari cengkraman preman itu. Lalu, ia berlari ke arah pintu keluar, namun preman itu sangat gesit sekali, dan bisa menangkap Nadya lagi.
Dan hal itu membuat ketua preman menjadi kesal dan murka. Tanpa berpikir lagi, preman itu langsung saja menampar Nadya dengan keras.
PLakkk...
Tamparan ketua preman itu sangat keras. Dan membuat Nadya jatuh tersungkur ke sudut sofa. Nadya menangis sejadi-jadinya, namun hal ini tidak membuat ketua preman itu iba.
Ia langsung membuka baju Nadya dengan paksa dan kasar.
Sontak saja hal ini membuat Nadya merintih kesakitan sampai tidak bisa menangkis lagi. Ia pun menjerit dan meminta tolong.
TOLONG.....
"Jangan sentuh aku ********..,hiks...hiks..."
Nadya menangis ketakutan, ia mencegah tangan kasarnya untuk menyentuh tubuh Nadya. Namun tangannya terlalu kuat, sehingga baju Nadya robek dan hal itu mudah untuk membukanya.
Akibatnya, baju Nadya terlepas dari tubuhnya. Hanya pakaian dalam atas dan celana panjang yang masih melekat di tubuhnya.
"Hahaha...gitu donk! jangan so suci buka baju aja susah amat,"
Ketua preman itu langsung melahap bibir seksinya Nadya dengan rakus. Ia seperti srigala yang kelaparan. Sesekali tangannya meremas buah dadanya yang ranum. Sempat ingin membuka tali branya namun Nadya meronta sekuat tenaga.
Tetapi hal ini membuat ketua preman yang bertubuh besar itu semakin kuat dan ganas. Ia pun semakin liar, sementara Nadya masih meronta-ronta memperjuangkan tubuh miliknya supaya tidak ternodai.
Ketika sang preman hendak mencium tengkuk lehernya Nadya, tiba-tiba datang seseorang dari belakang membawa sebuah balok kayu.
Dia adalah Yongki, ketika melihat apa yang dilakukan preman itu terhadap Nadya, Yongki pun langsung menghantam preman itu dengan sangat murka.
Brughhhhh...
Ketua preman itu seketika pingsan. Tanpa basa-basi lagi, Yongki pun segera menolong Nadya dalam keadaan lemah dan syok. Ia langsung segera menutup tubuh Nadia dengan jasnya. Dan berusaha menenangkan Nadya.
Yongki tidak tega melihatnya seperti ini. Ia pun mengajak Nadya untuk segera pergi dari markas itu, Namun Nadya masih enggan untuk beranjak dari pinggir sofa.
"Jangan sentuh aku!" isak Nadya.
Perasaan Nadya sangat hancur. Ia hanya bisa menangis melihat dirinya seperti ini. Yongki pun ikutan geram, ingin rasanya mencabik-cabik tubuh preman itu.
Namun apa daya, ini negara hukum tidak boleh main hakim sendiri. Karena tidak ada waktu lagi, Yongki langsung menggendong Nadya dengan paksa. Agar secepatnya pergi dari markas itu.
"Kamu mau ngapain? Turunkan aku!" bentak Nadya.
Seketika tangisannya berhenti dan berubah jadi memarahi Yongki. Tapi Yongki tidak menggubrisnya. Ia tidak peduli dengan ocehan Nadya yang sedari tadi teriak-teriak sambil memukul dada Yongki untuk meminta diturunkan dari pangkuannya.
Yongki pun segera membawa Nadya ke dalam mobilnya. Untuk segera lepas dari tempat jahanam itu, sebelum anak buah preman itumengejarnya.
"Kamu itu budeg apa tuli sih, aku bilang turunkan aku sekarang juga,"
"Bisa diem gak si? Budeg sama tuli tuh sama aja. Lagian disini tuh daerah berbahaya bagi perempuan seperti kamu,"
"Loh, apa pedulimu? Kamu bukan siapa-siapanya aku,"
"Ohh, ya sudah, silahkan turun dari mobilku. Dan kembalikan jasku yang kau pakai itu sekarang!"
Ketika mendengar perkataan Yongki, Nadya pun tercengang.
"Ah, mmm anu, aku pinjam dulu. Baju aku tadi kan robek, masa kamu tega membiarkan aku berjalan tanpa busana!"
"Jadi, mau nurut atau mau..."
Belum juga Yongki selesai bicara, Nadya sudah memotong pembicaraannya.
"Iya-iya aku nurut! Puas!" Cetus Nadya sambil cemberut.
Sementara Yongki menyalakan mobilnya sambil tersenyum manis. Mereka pun segera berangkat dan meninggalkan tempat itu sejauh mungkin.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Sementara di rumah sewaan...
Waktu sudah menunjukan hampir pukul satu dini hari. Dicka terbangun karena tangisan Kimmy yang hendak minta susu. Dicka pun langsung bangun dan membuatkan susu untuknya. Sementara Reno masih asyik dalam mimpinya.
"Ko si Yongki belum pulang juga sih," gumam Dicka sambil melihat ke arah jam.
Ketika Dicka sedang membuatkan susu di dapur, Kimmy yang sedari tadi menangis, tiba-tiba berhenti menangis. Ia merangkak dari kasurnya untuk menyusul Dicka. Untung kasur nya pendek, jadi Kimmy bisa sesuka hati naik turun.
Ketika ia menuju pintu, Terlihat kertas kertas berserakan di meja. Kimmy pun menghampirinya. lalu mengacak-acak dan sesekali memegang bolpoint dan mencoret coretnya ke tembok.
Untungnya tidak mencoret-coret kertas yang berserakan itu. Tiba tiba Kimmy menemukan sebuah spidol warna hitam dari sudut sofa, Kimmy pun langsung mengambilnya dan ingin membuka spidol itu namun tidak bisa.
"Acha chaa chaaaaa"
Begitulah ocehan Kimmy ketika hendak menginginkan sesuatu. Lalu ia menghampiri Reno yang sedang tertidur pulas. Ia hendak ingin membangun kan Reno, Namun Reno tetap tidak bangun juga.
Kimmy pun kesal dan memukul mukul reno dengan spidol sambil teriak teriak. Ehh ternyata tiba-tiba spidol nya sudah terbuka.
Langsung saja kimmy mencoret-coret sprei dan sesekali Kimmy mencoret-coret muka Reno dengan spidol.
Hal ini membuat Kimmy keasyikan. Sampai-sampai ia mencoret-coret muka dan lengan Reno. Ketika Sedang asyik mencoret-coret, Dicka pun datang dan membawakan susuo untuk Kimmy.
"Astagfirullah! Kimmy Sayang. Ha ha," ucap Dicka tertawa lepas.
Namun meskipun begitu, Reno tetap saja dengan mimpi indahnya. Setelah itu, Kimmy pun langsung melahap botol susunya dan langsung tertidur lagi dengan pulas. Setelah itu, Dicka langsung menuju ke meja dan membereskan kertas-kertas yang berserakan. tadi. Ia tidak enak hati jika Yongki datang ke rumah masih berantakan.
🌻🌻🌻🌻🌻
"Kita mau kemana?" tanya Nadya.
Ia memecahkan keheningan yang sedari tadi tidak ada obrolan apapun. Sementara, Yongki fokus mengendarai mobilnya.
"Aku akan mengantarmu pulang ke rumah," jawab yongki singkat.
"Apa! Tidak! Aku tidak mau!" timpal Nadya seraya menyentak Yongki.
Mendengar hal itu, tiba-tiba Yongki pun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia bingung karena, harus membawa Nadya kemana. Kalau pun ikut Yongki ke rumah sewaannya, pasti akan menjadi pembicaraan orang-orang di sekitarnya.
"Kenapa Berhenti?" tanya Nadya keheranan.
"Kalo kamu tidak mau pulang, yasudah disini saja! Lagian aku tidak mungkin membawa kamu ke rumahku, sementara kamu berpakaian seperti ini,"
Tiba-tiba Nadya pun tersadar dengan apa yang terjadi dengan dirinya tadi.
"Iya kamu benar aku tidak mungkin ke rumah orang dengan berpakaian seperti ini." ucap nadya dalam batinnya.
"Aku turun saja kalau begitu. Makasih ya atas semuanya dan ini jasnya aku kembalikan," ucap nadya sambil menyodorkan jas Yongki yang ia pinjam.
Padhal Nadya sadar, ia tidak memakai baju atasannya karena sudah robek dan tidak layak untuk dipake. Ia hanya memakai bra dan bawahnya celana jeans panjang. Tanpa berpikir panjang lagi, Ia pun turun secepatnya dari mobil Yongki.
Yongki pun kaget dengan ucapan Nadya. Ia tidak bermaksud menyinggung Nadya. Hanya saja, tidak mau kalau Nadya pulang kerumahnya dengan berpakaian sperti itu. Sementara di rumahnya sudah ada Dicka Dan Reno. Nanti apa kata mereka, Jika Yongki benar-benar membawa Nadya dalam keadaan seperti itu.
Yongki pun langsung bergegas menyusul Nadya dan memeluknya dari belakang hinga pada akhirnya, ia memakaikan kembali jasnya ke tubuh Nadya.
"Maafkan aku...tolong maafkan aku" ucap Yongki lirih.
BERSAMBUNG...