HOT DADDIES

HOT DADDIES
Rencana Kabur!



Waktu sudah hampir petang, Yongki dan Dicka sedang menyiapkan makanan untuk makan malam nanti. Sedangkan Reno menemani baby Kimmy tidur di kamarnya.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba baby Kimmy terbangun dan menangis kencang.


"Huwaaaaaa....Huwaaaaaa," teriak baby Kimmy nangis.


Tangisannya mengguncangkan seisi yang ada di rumah. Bikin suasana geger dan rame.


"Duh berisik amat!" ucap Reno sambil terkantuk-kantuk.


"Reno! bangun woy! tuh anakmu mewek," canda Yongki sambil teriak karena mereka berdua sedang berada di dapur.


"Bikin susu Ren, lapar itu tuh," sambung Dicka.


"Iya-iya bawel amat dah kalian ini," cetus Reno.


"Sayang, cup-cup jangan nangis ya. Kamu pasti laparkan, aku akan buat kan susu untukmu," ujar Reno.


Reno langsung menggendong baby Kimmy dan menuju ke dapur. Baby Kimmy pun mulai berhenti menangis. Dan terlihat seperti keheranan, mungkin kalau diibaratkan orang dewasa, pasti sedang bertanya-tanya.


Siapa mereka? Dimana ini? Ibuku mana? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk diungkapkan.


"Ki, dimana botol susunya," ucap Reno sambil mencari-cari tas perlengkapan bayinya.


"Ko tanya aku?" cetus Yongki.


"Jangan bilang kalau perlengkapan bayi ini ketinggalan," imbuh Reno.


Mereka bertiga melongo dan baru tersadar jika perlengkapan baby Kimmy masih berada di pos keamanan stasiun kereta api.


"Yaudah kita makan dulu saja dari siang belum makan kita." ucap Yongki.


"Nanti kita kesana lagi, buat ambil barang barang Kimmy," sambungnya.


"Yaudah lah, yuk makan dulu laper," tutur Dicka.


Namun, Tiba-tiba baby Kimmy nangis lagi sekencang kencangnya.


"Lho, gimana ini gaes?" ucap Reno kebingungan.


Sementara mereka berdua mau melahap makanan pun tidak jadi. Karena tida tega melihat seorang bayi kelaparan, sementara mereka bisa makan.


"Ya mau gimana lagi, bayi lebih penting dari kita," ucap Yongki.


"Padahal aku sudah laper banget dari tadi," ketus Dicka.


"Ya samaaa!" sambung Reno.


"Yasudah kalian makan duluan saja, biar aku yang ambil kesana," ucap Yongki.


"Ah, tidak! Ini rumahmu masa tuan rumah ninggalin tamu," tutur Dicka.


"Hanya rumah sewaan. Tapi yasudah lah ayo ikut semua," ajak Yongki.


Mereka pun bergegas keluar rumah dan tidak lupa untuk mengunci pintu. Sementara Yongki mengeluarkan mobilnya dari garasi. Mobil yang baru beli, maklum hasil jerih payahnya selama bekerja di rumah sakitnya. Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil itu.


"Widih keliatannya mobil baru," ucap Reno sambil menggendong Baby Kimmy.


"Emang iyaa!" sambung Yongki.


"Lho, kenapa tadi pulang dari stasiun kita naik taxi? Buang-buang duit saja," ketus Dicka.


"Takut rusak," jawab Yongki singkat.


"Dasar! cusslah kita berangkat." sambung Dicka.


Dan mereka pun langsung berangkat menuju ke stasiun lagi.


 


🍭🍭🍭🍭🍭


 


Sementara di Rumah Nadya...


"Bibi benar! Aku harus keluar dari rumah ini. Entah bagaimanapun caranya aku harus tetap pergi," pikir Nadya.


"Aku tidak mau mati dengan sia-sia. Pokoknya, aku harus rebut kembali harta warisan orang tuaku," gumam Nadya.


Nadya pun langsung bergegas membereskan sebagian barang berharganya yang ia miliki. Dan langsung memasukannya kedalam tas kecil. Dia tidak membawa baju maupun barang lainnya. Karena takut pamannya akan curiga. Ada sebuah ide yang terlintas dari benaknya, untuk bisa keluar dari rumah itu.


Karena dimana-mana, ada CCTV. Untuk bisa keluar dari rumah itu, satu-satunya lewat gerbang belakang. Dan Nadya pun langsung mencari Bi Inah yang sedang berada di dapur.


"Bi! Udah siap belum makanannya!" teriak Nadya.


"Eh Non, kenapa ke dapur! Kalau Tuan Arif tau, nanti bisa-bisa Bibi dimarahin,"


"Tenang saja Bi, tidak akan ada yang marah," ucap Nadya sembari mengedipkan matanya.


"Udah Non, sana pergi! Nanti makanannya Bibi anterin deh ke kamar,"


"Dih, si Bibi ngusir! Oia, ini sampah dibuangnya kemana ya?"


"Aduh, jangan pegang-pegang sampah! Itu kotor Non. Lagian hari sudah petang, nanti saja dibuangnya kalau sudah pagi,"


"Ya ampun pegang sampah aja gak boleh!"


"Bi, aku ini perempuan, yang namanya perempuan itu harus bisa masak dan itu wajib. Apalagi buang sampah seperti ini, gampangkan? Tinggal dibuang ke belakang beres. Ya, setidaknya bantu-bantu lah gitu,"


"Iya juga sih, ya sudah buang aja Non, nih sekalian sampah yang ini, oia itu di belakang galon juga ada plastik tuh buang saja sekalian,"


"Eh, ya ampun,"


"Katanya mau bantuin?"


"Ya sudah, tapi anterin yaa. Kan hari sudah mulai gelap, aku takut," ucap Nadya sembari melirik-lirik ke tempat penyimpanan peralatan masak. Berharap menemukan benda tajam yang bisa membuka kawat pagar.


"Okelah, tumben Nona pakaiannya rapi mau kemana?" ucap Bi Inah sambil membawa sampah ke belakang.


Nadya hanya terdiam sambil mengedipkan matanya. Namun, matanya mengisyaratkan jika dirinya punya suatu rencana. Hal ini, membuat Bi Inah semakin penasaraan.


"Kamu ini kenapa si Non, dari tadi kedip-kedip mata terus, kelilipan kah?" tanya Bi Inah polos.


"Bi, aku akan nurutin semua kata-kata Bibi. Asalkan Bibi disini bisa jaga diri baik baik ya!"


"Apa? I-ini serius Non? Tentu saja Bibi bisa jaga diri dengan baik, tapi bagaimana dengan Non Dya? Bibi pasti sangat khwatir," ucap Bi Inah.


"Tenang saja Bi, aku bisa jaga diri. Doakan saja aku biar selamat dari orang orang jahat itu. Pokok nya Bibi harus janji sama aku untuk bisa ketemu lagi di lain waktu,"


Tidak terasa air mata mereka pun keluar membasahi pipinya masing-masing. Haru dan pilu menjadi satu. Setelah selesai membuang sampah, Nadya pun langsung segera pamit sama Bi Inah karena tidak ada waktu lagi dan ini kesempatan untuk bisa pergi dari rumahnya.


"Bi, aku pamit yaa! Mumpung suasananya sepi ini kesempatan bagus untuk bisa pergi dari sini," ucap Nadya sambil lirik kanan kiri.


"Tapi Non, ini sudah hampir malam mendingan besok saja. Dan lagian apa Nona bisa melewati pagar yang tinggi itu?"


"Bukan lewat pagar atas Bi, sudahh pokoknya Bibi awasi di sekitar sini, Bibi pura-pura sedang bersih bersih sampah dsini,"


"Okee Non, hati--hati ya jaga diri baik baik."


Lalu Nadya pun memulai aksinya. Dia juga pura pura bersih-bersih sambil berjongkok. Kemudian, merangkak ke sudut pagar yang ada jaring kawatnya. Lalu jaring itu ia buka dengan alat seadanya, karena sebelumnya ia menyelipkan peralatan yang ada di dapur ke dalam tong sampah, Alhasil jaring itu bisa terbuka dengan mudahnya.


"Bi, berhasil!" bisik Nadya.


"Okee," ucap Bi Inah sambil mengeluarkan jempol andalannya.


Kemudian Nadya pun pergi meninggalkan Bi Inah. Air mata terus membasahi pipi Bi Inah. Orang yang selama ini ia lindungi, kini telah pergi meninggalkannya. Tidak lama kemudian, Bi Inah pun langsung membuang sampah dan membereskan kawat-kawat tadi menjadi seperti semula lagi.


"Semoga Tuhan melindungimu Nona."


 


🍭🍭🍭🍭🍭🍭


 


Sementara di Stasiun kereta api...


"Kalian tunggu saja disini, biar aku yang akan mengambil barang itu," ujar Yongki sambil keluar dari mobilnya.


"Okeee," jawab Dicka dan Reno serempak.


Dan Yongki pun langsung menuju pos keamanan kereta api. Setibanya di pos keamanan, ia begitu kaget karena barang yang ia inginkan sudah tidak ada.


"Apa? Diambil sama siapa Pak? Bahkan, bayinya pun masih bersama saya!" ucap Yongki kaget.


"Iya, Pak Polisi yang membawanya langsung ko,"


"Ohh, gitu yaa. Yasudah makasih Pak, saya permisi dulu," ujar Yongki.


Yongki pun meninggalkan pos keamanan stasiun itu, dan berjalan menuju ke mobilnya. Sambil keheranan dan memikirkan sesuatu karena merasa ada kejanggalan. Di setiap langkahnya, Yongki pun bertanya-tanya.


"Kenapa Pak polisi itu tidak memberitahu saya, kalau peralatan bayi itu ketinggalan, malah dibawa ke kantor. Semakin ribet saja,"


Tiba-tiba lamunannya terberai dengan teriakan dua pemuda itu.


"Woy!" teriak Reno.


"Tau nih, dipanggil-panggil malah melamun saja," ucap Dicka.


"Gaes, barang-barang bayinya sudah tidak ada!" ucap Yongki sambil masuk kedalam mobilnya.


"Apa!" ucap mereka dengan serempak.


BERSAMBUNG...