
"Tante, aku dan Yongki pamit dulu, nanti di lain waktu aku pasti akan berkunjung lagi," ucap Riri.
"Iya makasih ya sudah mau mampir ke rumah ini, tolong jaga Yongki yah, oia kalau ada apa-apa hubungi Tante ke nomor ini. Tante akan senang jika kamu selalu memberi kabar soal dia. Biar Tante tidak Khawatir," ucap Ibunya Yongki sembari memberikan kartu namanya.
"Baik Tante," ucap Riri tersenyum manis.
Sementara, Yongki hanya berdiam diri di depan teras rumahnya. Ia benar-benar ingin segera pergi dari rumah itu. Rasanya sudah tidak senyaman dulu lagi, semenjak ibunya menekan terus ingin segera punya mantu.
Akhirnya, mereka berdua pergi dari rumah orang tuanya Yongki, dan menuju ke stasiun lagi. Orang tua Yongki benar- benar merasa kehilangan lagi. Sosok anak semata wayangnya kini telah berangkat lagi ke kota tempat dimana ia bekerja sebagai dokter.
Di perjalanan, Yongki tidak berkata sedikit pun. Seperti biasa, ia hanya berdiam diri seolah tidak peduli dengan keadaan yang ada disekitarnya, termasuk keberadaan Riri yang ada disampingnya.
"Kamu, masih marah kah sama aku?" ucap Riri pelan-pelan.
"Tidak," ucap Yongki singkat.
"Terus, kenapa kamu mendiamkan aku terus, hampir seharian kamu begini," ujar Riri cemberut.
"Aku cape nanti kalau sudah nyampe bangunkan aku," ucap Yongki sembari memejamkan matanya.
"Kamu boleh saja sekarang mengacuhkanku, tapi suatu saat nanti, kamu pasti berada dalam pelukanku," ucap Riri dalam hatinya sembari menatap kartu nama milik ibunya Yongki.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭
Sementara di tempat lain...
"Sudah sampai!' ucap Dicka sembari memarkirkan mobilnya di tempat parkiran yang sudah tesedia.
Mereka tidak menyadari bahwa, mobil yang dikendarai oleh Dicka berada di area parkiran yang sama dengan mobilnya Yongki.
Nadya, yang begitu sangat antusias, langsung luar dari mobil dan menuju ke arah peron. Ia tidak mempedulikan Kimmy yang sedang digendong Reno. Tapi untungnya ia sudah tertidur pulas dipangkuan Reno. Kalau tidak! Kimmy pasti ingin ikut dengannya.
"Seperti biasa, aku duduk manis disini saja yah," teriak dicka.
"Oke!" teriak Nadya dari kejauhan.
Ia pun melanjutkan langkahnya untuk menuju ke sebuah peron. Beberapa menit kemudian, kereta api itu pun datang membawa sejumlah orang-orang yang akan menuju ke kota Petra. Nadya yang melihat hal itu, sungguh sangat kegirangan.
Betapa banyaknya jumlah penumpang pada saa itu. Sehingga, Yongki dan Riri turun dari kereta pun, tidak terlihat sedikit pun olehnya.
"Ko lama sekali, Ki! Jangan-jangan mereka bertemu!" ujar Reno yang masih duduk di dalam mobil, sambil menggendong Kimmy yang tengah tertidur pulas.
"Mungkin saja! Tapi ..."
Tiba-tiba, Dicka melihat seseorang yang sangat ia kenali. Bahkan dari bajunya saja sudah terlihat jelas olehnya. Bahwa sosok yang ia kenali adalah Yongki.
"Yongki!" pekik Dicka pelan sambil mengkernyitkan alisnya.
Dicka sangat kaget ketika Yongki berjalan dengan perempuan lain. Karena setau dia, Yongki minta izin untuk antar temannya bertugas ke luar kota.
"Hah! Ada apa Ki? Kelihatannya kamu mengatakan sesuatu, ada apa?" ujar Reno keheranan.
"Ah, a-anu kaya kenal orang yang barusan tadi lewat?" ucap Dicka gugup.
"Oh, kirain ada apa," tukas Reno.
Setelah mendengar hal itu, Reno kembali lagi memeluk Kimmy sembari memaminkan HPnya. Dicka tidak mau memberitahukan hal itu kepada Reno. Karena ia tahu, jika mereka sedang bersaing untuk merebutkan hatinya Nadya.
"Kenapa Yongki bisa bersama perempuan itu lagi? Bukankah perempuan itu yang waktu itu berpapasan dijalan!" batin Dicka aambil mengingat-ingat sosok perempuan yang bersama Yongki Yang tak lain adalah Riri.
"BERSAMBUNG....
Selamat membaca^^ semoga sukaa dan terima kasih atas semnuan semnagat doņbn