HOT DADDIES

HOT DADDIES
Getaran cinta Yongki



"A-apa yang kamu lakukan!" ucap Nadya.


Seraya memecahkan keheningan di malam yang dingin itu. Ia seolah tidak percaya jika dirinya sedang di peluk dari belakang oleh seseorang yang baru saja ia kenal.


Perkenalan yang masih seumur jagung. Hati dan pikirannya sedang melayang. Di malam ini mungkin mereka berada di bawah alam sadar, namun mereka tetap masih berpelukan sampe akhirnya Yongki membalikan tubuh Nadya agar berhadap-hadapan langsung dengan dirinya.


Ia menatap penuh wajah Nadya dengan sorotan mata yang tajam nan sendu. Dan tangannya pun tidak tinggal diam, turut ikut bergerak membelai dan mengusap rambut Nadya yang halus dan panjang.


Ia masih tidak percaya bahwa yang sedang berhadapan dengannya adalah sosok wanita yang sangat ia kagumi.


Nadya pun membalas tatapan Yongki. Hatinya sama seperti Yongki yang masih tidak karuan. Sosok lelaki yang ia tatap, seperti malaikat yang turun dari langit. Ia masih tidak percaya bisa bertemu dengannya meski pertemuannya itu membuat hati Nadya trauma.


Karena kejadian di markas preman itu masih teringat di kepalanya. Merekapun saling bertatapan, Yongki pelan-pelan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nadya. Semakin dekat dan semakin rapat. Hal ini membuat jantung Nadya berdetak kencang. Ia tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengikuti alurnya Yongki.


"Mau ngapain dia? Apa dia mau menciumku? Hah! Tidak-tidak,!" ucap Nadya dalam hatinya.


Ketika bibir Yongki akan melekat ke bibir Nadya, tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi.


Bim bim bim


Mereka berdua pun kaget bukan kepalang. Mereka berdua panik, seakan bertemu monster jalanan. Nadya pun cepat-cepat menundukan kepalanya ke arah dada Yongki. Ia takut jika yang berada di mobil itu adalah polisi. Setidaknya tertutup tubuhnya oleh badan Yongki yang tinggi dan kekar.


"Woy! kalau mau pacaran jangan disini!" seru ocehan yang ada di dalam mobil itu. Hal ini membuat Yongki malu. Ia hanya bisa terdiam dan membisu tidak ada perlawanan apapun untuk mereka. Kemudian mereka pun langsung pergi meninggalkan dua sejoli itu.


"Ayo kita pergi dari sini," ucap Yongki sambil berjalan ke arah mobilnya. Dan Nadya pun mengikutinya tanpa sepatah kata pun.


🍭🍭🍭🍭🍭🍭


Alam yang cukup indah, dimana puing-puing perasaan telah menjadi polusi, menyatukan dua hati bersatu padu dengan indahnya pelangi.


Mereka berdua terjerat diantara buih-buih cinta. Apa yang Nadya lihat saat itu, membuat dirinya berada di dalam kebimbangan dan penuh kekesalan.


Hal ini dikarenakan ciuman pertama Nadya direnggut oleh ketua preman yang brengsek itu. Ia trauma seakan hidup ini sudah tidak berguna lagi.


Air mata Nadya tiba-tiba terjatuh, mengingatnya kembali serasa sesak di dadanya. Yongki pun yang dari tadi menyetir ikut terbawa suasana. Ia tidak ingin merusak keheningan di saat seperti ini.


Ketika di perjalanan, tiba-tiba Yongki membelokan mobilnya ke arah tempat yang sangat mewah. Ia berhenti tepat di depan sebuah hotel Yang cukup di kenal oleh masyarakat.


"Ayo turun!"


"Aapaa? Ngapain kita turun disini? Lagi pula..."


Belum juga selesai bicara, Yongki sudah turun duluan. Tentu saja Nadya pun ikut turun dan membuntutinnya dari belakang. Mereka berdua masuk ke sebuah hotel ternama.


Ketika Yongki sedang memesan sebuah kamar, tiba-tiba ponselnya berdering. Lalu ia membuka HPnya, dan ternyata yang menelepon adalah Dicka.


Ia pun segera mengangkat teleponnya. sementara Nadya sedang duduk menunggu Yongki memesan kamar.


"Hallo!"


"Ki, kamu dimana? Jam segini kenapa belum pulang juga!" ucap Dicka cemas.


Ia mengkhawatirkan yongki karena sudah hampir jam setengah tiga malam, Yongki belum juga datang ke rumah.


"Oh, iya maaf. Malam ini aku tidak bisa pulang! Nanti aku akan usahakan pulang pagi-pagi oke!" jawab Yongki sambil menutup teleponnya.


Ia tidak kepikiran bahwa besok pagi-pagi itu Dicka dan Reno mesti berangkat lebih awal.


Selesai memesan kamar, mereka pun segera bergegas menuju ke kamar yang di tujunya. Nadya mengikuti Yongki dari belakang sambil memeluk erat jas milik Yongki, supaya tidak ada yang memperhatikan kalau nadya tidak memakai baju atasan. Padahal jas itu, sangat kebesaran bagi tubuh Nadya.


Ketika sudah menemukan kamarnya, Yongki langsung membukakan pintu kamar yang sudah di pesannya. Namun, tiba-tiba Nadya langsung menerobos masuk tanpa menghiraukan adanya Yongki.


"Haiss, dasar wanita," gumamnya.


ia pun segera ikut masuk dan langsung menutup pintu kamarnya.


Seketika jas milik Yongki tersirat, Sehingga bra dan perutnya terlihat jelas oleh Yongki. sementara Yongki yang sedari tadi berdiri dan memperhatikan tingkah laku Nadya, membuat ia semakin tertarik pada dirinya.


Setelah sadar jika Yongki sudah berdiri di hadapannya, ia langsung bangun dan merapikan kembali jas yang menutupi tubuhnya.


"Hei! ngapain kamu berdiri disitu? Jangan bilang kalau kamarnya hanya pesan satu,""


"Lahh emang iya," tutur Yongki sambil menuju sofa yang ada di sebelah kasur.


Lalu ia melanjutkan ocehannya sambil menumpangkan kakinya.


"Kamu pikir sewa kamar disini murah-murah?" sambung Yongki dengan tatapan tajam dan senyum menyeringai.


"Ya-ya, aku faham. Ya sudah kamu tidur di bawah dan aku tidur di atas," ucap Nadya manja seolah tidak ingin mengalah dari Yongki.


"Hei wanita! Yang memesan kamarnya siapa?" sahut Yongki sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya dengan kedua tangannya di pinggang.


"Ya kamulah, tapi masa kamu tega sama wanita sepertiku! Ah, pokoknya kamu tidur di bawah dan aku tidur di atas!" ucap Nadya sambil berdiri di atas kasur.


dan Nadya pun ikut meletakan tangannya di pinggang seperti Yongki. Seolah mereka ingin ngajak berantem. yang laki-laki tidak mau kalah dan yang perempuan pun apalagi.


"Ah, bodo amat! Yang jelas aku ngantuk, lagian badan aku pegal-pegal nih. Harusnya kamu mijitin aku," ujar Yongki sambil menuju kasur yang empuk itu.


"Iya juga, untung saja dia tidak memar-memar. Kalau memar, habislah aku," batin Nadya.


"Hilih! ogah banget, bilang saja tidak ikhlas nolongin aku!"


"Hei Tuan! Kamu tidak boleh tidur di kasur ini," ucap Nadya sambil berteriak.


Nadya berusaha membangunkan Yongki, namun Yongki tidak peduli, ia tetap memejam kan matanya. Karena usahanya sia sia, akhirnya Nadya punya ide.


Ia mengambil sebagian bantal dan gulingnya untuk membatasi tempat tidurnya antara Yongki dengan dirinya.


"Nah ini baru bener, enak aja aku mesti tidur di bawah sementara kamu di atas, mau di taro dimana muka yang imut ini nantinya!" ucap Nadya sambil melepaskan jas milik Yongki dan segera menarik selimut untuk tidur.


Akhirnya Nadya pun ikut teridur di sebelah Yongki dengan dibatasi bantal dan guling sebuah penghadang agar mereka tidak terlihat seperti tidur barengan, namun satu selimut.


🌻🌻🌻🌻


Sementara di rumah sewaan Yongki ...


Waktu sudah menunjukan pukul lima pagi, saatnya mereka bangun untuk bersiap-siap melaksanakan tugasnya masing-masing. Dicka yang sedari tadi sudah terbangun, dan sudah membereskan seisi rumah itu. Kini ia sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan paginya. Sementara Kimmy masih tertidur pulas dengan mimpi indahnya.


Ketika Reno terbangun dan menuju ke wastapel, setelah melihat dirinya di cermin, ia teriak kaget setengah mati.


Bagaimana tidak, wajahnya yang penuh dengan coretan spidol warna hitam, seakan menutupi wajah kegantengannya. Dicka yang mendengar teriakan Reno, malah tertawa terbahak-bahak.


Karena ia tau yang mencoret-coretnya adalah Kimmy. Reno pun segera menghampiri Dicka ke dapur sambil marah marah


"Dickaa!" teriak Reno sambil menuju ke dapur.


"Ha ha, ganteng banget kamu Ren," ledek Dicka.


"Jangan ketawa terus! Pasti ini ulah perbuatanmu. Iyakan?"


"Ngapain aku ngerjain kamu kaya gitu? Gak berfaedah banget. Kaya kurang kerjaan saja,"


"Trus siapaa donk kalau bukan kamu?"


"Siapa lagi lah kalo bukan Tuan Putri yang gembul. Tuh sekarang masih ngorok dia,"


" Apa?" ucap Reno kaget.


BERSAMBUNG...