HOT DADDIES

HOT DADDIES
Mengintrogasi Pak Arif



Pagi itu, Yongki sudah berada di rumah sakit. Karena memang banyak tugas yang harua ia selesaikan. Ketika menuju ruangannya, Yongki bertemu dengan orang tuanya Riri. Mereka baru saja sudah sarapan di kantin rumah sakit.


"Nak, Yongki!" teriak Ayahnya Riri.


Yongki pun menoleh ke arah sumber suara. Dan senyuman ia paparkan dengan manis. Hal itu, membuat orang tua Riri semakin mengaguminya.


"Iya Pak," sahutnya.


"Oia Bapak dan Ibu habis darimana?" tanya Yongki.


"Habis dari kantin, semalaman kami berjaga disini, soalnya Bibinya Riri ijin pulang sebentar," sahut Ibunya Riri.


"Oh gitu,"


"Oia, Nak Yongki sedang apa disini?" tanya Ayahnya Riri.


"Aku kan kerja disini juga Pak, bareng sama Riri, namun beda profesi. He he," ucap Yongki malu.


"Ya ampun, Bapak kira kamu bukan seorang dokter," ucap Ayahnya Riri sumringah.


"Tidak apa-apa. Oia maaf Pak, saya mohon pamit bertugas dulu," ucap Yongki.


"Oia, silahkan,"


Yongki pun langsung masuk ke dalam ruangannya. Sementara, Ayah dan Ibunya Riri begitu sangat senang dengan sosok Yongki. Mereka semakin Mengagumi Yongki, apalagi Yongki seorang dokter sederajat dengan Riri. Dan hal ini, membuat Ayahnya Riri semakin penasaran ingin segera menemui keluarganya.


Sesampainya di ruangan Riri, orann tuanya langsung bercerita tentang soal Yongki. Mereka ingin banyak mengetahui tentang dirinya. Riri yang mengetahui segalanya, langsung menceritakan kepada orang tuanya. Dan hal ini, membuat Ayahnya semakin senang dan semakin mudah untuk berkunjung ke rumah Yongki.


"Sayang, apa kamu menyukainya?" tanya ibunya Riri.


"Kalau aku tidak menyukainya, mana mungkin menyiksa diri seperti ini. Aku sengaja, biar Papa membatalkan perjodohan aku sama sahabat Papa itu," ucap Riri kesal.


"Maaf Sayang, Papa benar-benar minta maaf. Itu juga salah kamu sendiri, tidak cerita soal teman kamu itu kepada Papa. Jika tau, pasti Papa batalkan," ucap Ayah Riri sambil tertawa kecil.


"Kalau begitu Mama menyetujuinya, karena dia sederajat dengan kamu, udah gitu ganteng lagi, Mama semakin menyukainya," ucap Ibunya Riri.


"Mama, gak sabar ingin segera punya mantu yang ganteng dan kaya," tambah Ibunya Riri.


Riri dan orang tuanya tertawa riang. Mereka benar-benar bahagia atas keadaan ini. Meski Riri masih terkulai lemah, namun, hatinya bersemangat untuk mendapatkan hatinya Yongki. Apalagi, orang tuanya sangat menyetujuinya. Hal ini membuat Riri semakin ingin segera memilikinya.


 


 


Di kediaman rumah Nadya ...


Pagi-pagi, Dicka sudah berada di rumah Nadya, yang sekarang dikuasai oleh Pak Arif. Kedatangan Dicka ke rumah itu, ingin menemui Pak Arif langsung.


Ia ingin mengetahui sosok Pak Arif itu seperti Apa. Kedatangan Dicka, disambut senang oleh Pak Arif. Ia benar-benar senang karena, dalam pikirannya, Nadya pasti akan ditemukannya secepat mungkin. Maka semua rencana akan berjalan mulus.


Namun malah sebaliknya, Dicka yang mengetahui niat jahatnya itu, malah ingin menjerumuskan dirinya ke penjara.


"Sosok Nadya, menurut Bapak seperti apa?" tanya Dicka.


"Dia anak yang baik, pintar dan mudah bergaul, saya sangat menyayangi dia. Apalagi sekarang entah ada dimana, aku sangat kehilangan dia," lirih Pak Arif.


"Ektingmu sungguh luar biasa, Pak tua," batulin Dicka.


"Okey Pak, aku akan segera berusaha mencarinya, tapi menurut Bapak, ada tempat yang ia sukai tidak? Misalkan tempat nongkrongnya gitu?" tanya Dicka.


Sejenak Pak Arif terdiam, ia tidak pernah tau menau soal tempat yang sering Nadya kunjungi. Jangankan tempat nongkrong, tempat sahabatnya Nadya pun ia tidak tahu.


"Kalau soal itu, saya kurang tau. Soalnya saya tidak pernah mendengar dia ke tempat tongkrongan," ujar Pak Arif ragu.


"Oh gitu, selain Bapak? Di rumah ini, siapa saja yang paling dekat dengannya?" tanya Dicka lagi.


"Keparat! Polisi macam apa dia! Tanya-tanya terus, bikin muak saja!" geram Pak Arif.


Pak Arif sudah mulai kesal dengan Dicka, bagaimana tidak, Dicka yang sudah mengetahui seluk beluknya Pak Arif, hanya bisa membuat Pak Arif marah. Dan hal ini, terlihat dari raut wajahnya Pak arif yang nasam itu. Sementara, Dicka hanya bisa terdiam dengan polos. Padahal dalam batinnya, ia menertawakan kelicikan dirinya.


"Orang yang dekat dengan Nadya itu, ya asistennya, dia masih kerja disini ko," ujar Pak Arif.


"Oh, apa boleh saya menemuinya?" tukas Dicka.


"Apa?" ucap Pak Arif kaget.


"Jika Polisi ini bertemu Bi Inah, nanti bagaimana kalau dia menceritakan hal-hal yang merugikan diriku! Bisa gagal rencanaku," ucap Pak Arif dalam hatinya.


BERSAMBUNG...