
Bagaimana ini! apa aku harus menelepon balik?
Seketika, hati Andi serasa tidak tenang. ia sangat gelisah karena, ia tidak sempat mengangkat telepon dari Dicka. Namun, Ia ragu untuk meneleponnya kembali. Mengingat atas apa yang dikatakan Dicka waktu itu.
Tiba-tiba tanpa ia sadari, temannya mengagetkannya.
Duarr
"Ya ampun, apa-apaan si kamu! bikin kaget saja!" ucap Andi kesal
"Ya maaf. Habisnya aku dari tadi ngomong, kamunya diam terus," celetuknya.
"Bodo amatlah, aku mau istirahat dulu." ucap Andi sambil melangkah meninggalkan temannya itu.
"Okey, jangan lupa ini rahasia kita, Ndi!"
"Apaan? main rahasia-rahasiaan segala. Jangan ada rahasia diantara kita, bye." Ucap Andi sambil melangkah cepat menuju kamarnya.
"Rahasia apaan. Bahkan aku tidak mendengarkannya sedikit pun" gumam Andi dalam hati.
Andi pun sudah hilang dari pandangan temannya. Sementara, temannya yang masih duduk dibangku itu, masih merenung dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini.
Ia sering dibantu oleh Andi. Bahkan Andi sering menyebutnya ginsul. Karena ia memang bergigi ginsul. Padahal nama aslinya Hendra.
Sudah hampir 2 tahun ia bekerja untuk Pak Arif. Dan tidak begitu dekat dengan Nadya.
Maka dari itu, ia tidak tau apapun soal seluk beluknya Nadya.
Yang ia tau, apa yang Pak Arif suruh, ia langsung melaksanakan tugasnya. Tanpa memikirkan konsekuensinya seperti apa.
"Hah, aku yakin kamu pasti mendengarkannya. Maafkan aku, Non ... Shely!"
Hendra masih menggerutu dengan apa yang sudah terjadi. Ada sedikit penyesalan dalam benaknya. Bimbang dan takut menjadi satu, entah harus bertahan dengan Pak Arif atau berhenti mengundurkan diri bekerja dengannya. Hal ini membuat ia semakin galau dibuatnya.
Sementara di kamar Andi ...
Andi masih belum bisa memejamkan matanya. Masih penasaran dengan apa yang terjadi saat ini. Ada sedikit ketakutan dalam dirinya. Takut polisi Dicka, memberitahukan percakapannya tentang Nadya kepada Pak Arif. Dan ini akan sulit baginya untuk membongkar kebusukan Pak arif.
Selama beberapa menit, ia masih menggenggam handponenya berniat untuk menelepon balik Dicka. Namun ia urungkan lagi, karena waktu sudah tidak memungkinkan lagi. Sudah terlanjur larut malam. Saatnya ia untuk berisitirahat.
"Sudahlah, apapun yang terjadi, terjadilah aku pantas menerimanya," ucap Andi dengan pasrah.
🍭🍭🍭🍭🍭
SEMENTARA DI RUMAH YONGKI...
Sudah hampir lamanya mereka bertiga menanti Nadya yang tak kunjung kembali.
Entah harus mencari kemana lagi, karena yang mereka tau, Nadya hanya hidup seorang diri. Ia tidak pernah menceritakan asal kehidupannya pada siapapun. Bahkan, Yongki yang begitu dekatnya pun tidak berani menanyakan sisi pribadinya.
"Gimana Dik, orang yang kamu telepon itu? apakah ada sesuatu?" tutur Yongki penasaran.
"Terus bagaimana kalau sudah begini? Ya Allah ... semoga dia baik-baik saja," ucap Yongki lirih.
Ketika mereka berdua sedang berputus asa, tiba-tiba suara tangisan Kimmy terdengar oleh mereka.
Mereka tidak menggubrisnya, karena mereka pikir Reno lah yang akan menanganinya.
Namun, semakin lama tangisannya semakin kencang.
Yongki yang mendengar hal itu, langsung segera menuju ke kamar Kimmy. Dan apa yang dilihat oleh Yongki pada saat itu, membuat dirinya geram. Kenapa tidak, Reno tidur dikasurnya Kimmy. Dan hal itu membuat Kimmy sesak, ia tidak bisa tidur dengan bebas.
"Ya ampun. Renooo!" teriak Yongki sambil menghampiri mereka berdua.
"Papapapa," ucap Kimmy sembari menepuk lengannya Reno yang sedang tertidur pulas. Ia memberitahukan kepada Yongki, kalau Reno tidur dikasurnya.
Sementara, Kimmy sudah dalam keadaan duduk karena tidak kebagian tempat.
"Sini Sayang, duhh kasian sekali anak Daddy," ujar Yongki sambil menggendong Kimmy.
Yongki pun langsung membawa Kimmy keluar kamarnya. Ia hendak membuatkan susu untuknya.
"Loh, si Renonya kemana? katanya soal Kimmy dia yang urus," ujar Dicka keheranan.
"Molor Dia. Udah gitu pake tidur dikasur anak lagi. Nih gendong dulu, Aku mau buatkan susu sebentar." ucap Yongki sembari memberikan Kimmy pada Dicka.
Dicka pun langsung menerimanya dengan senang hati. Seketika mereka lupa dengan kecemasannya pada Nadya. Dicka malah asyik bermain dengan Kimmy.
Tidak lama kemudian, Yongki pun datang membawakan susu untuk Kimmy.
"Taraaaa, susunya datang?" ucap Yongki sambil memberikan botol susu kepada Kimmy.
Dan Kimmy pun langsung melahapnya dengan rakus, seperti sedang kehausan.
Mereka berdua hanya bisa melihatnya dengan penuh kasih sayang.
Bahkan mereka tidak memikirkan lagi siapa pemilik Bayi ini. Yang sekarang sudah tumbuh besar, seiring berjalannya waktu.
Ia menjadi anak yang cantik dan menggemaskan.
Pertumbuhannya sangat cepat. Ia bahkan sudah bisa berjalan dan berlari kesana-kemari dengan perawakannya yang tambah besar dan gendut. Kini ia sedang belajar bicara, dan pastinya butuh kesabaran untuk mengasuhnya.
"Mamaa," celetuk Kimmy
Seketika mereka berdua kaget. Mereka tidak menyangka ucapan Kimmy begitu membuat mereka senang. Karena ini kedua kalinya setelah ia bilang Papa waktu itu.
"Horee, Kimmy sudah bisa panggil Mama," ucap Dicka senang sambil bertepuk tangan.
"Yey, tapi sayangnya Mamanya tidak ada," canda Yongki sambil bertepuk tangan.
Kimmy pun lamgsung tertawa lepas. Dan begitu terlihat sangat bahagia.
"Mamaa," ucap Kimmy yang kedua kalinya. Ia fokus dengan pandangan yang ada dihadapannya, sambil menunjuk ke arah pintu ruang tamu.
Mereka berdua yang melihat gelagat Kimmy, keheranan. Siapa yang di tunjuk Kimmy itu.
BERSAMBUNG...