
Waktu sudah hampir sore, kereta pun berhenti di Stasiun kota Petra. Semua penumpang turun dengan tertib. Kecuali mereka bertiga, karena masih mengurusi jasad almarhum wanita itu, yang mendadak meninggal di dalam kereta api.
Dan tak lama kemudian, petugas dari pihak kereta api pun datang menghampiri mereka. Mereka mengintrogasi kepada tiga orang pemuda itu.
"Apakah wanita ini saudara kalian?" tanya salah seorang petugas kereta api itu.
"Bukan!" jawab mereka bertiga dengan kompak.
"Kami baru kenal tadi Pak. Wanita ini mau membuat susu untuk bayinya. Jadi, dia menitipkan bayi ini kepada kami. Kebetulan kami duduk berdekatan," tukas Dicka.
"Betul pak! Dia mendadak terjatuh dan tidak sadarkan diri, dan beberapa detik kemudian nyawanya sudah tiada," sambung Yongki.
"Yasudah kita bawa ke pos keamanan dulu saja, sambil nunggu polisi datang," sahut petugas lainnya.
"Okee, ayo yang lainnya bantu angkat pindahin jenazah ini," sambung Kepala Petugas kereta api itu.
Dan mereka pun langsung menuju ke pos keamananan bersama sama.
🌻🌻🌻🌻🌻
Sementara di Tempat lain...
Tok tok tok
Terdengar Suara ketukan pintu oleh seorang pembantu dengan kencang. Namun sang pemilik kamar mewah itu belum juga membukakan pintunya.
Dan beberapa kali pintu itu diketuk, tetap saja sang pemilik kamar tidak jua membukakannya.
"Ko tumben Nona gak nyaut! biasanya sekali ketukan langsung nongol," gumam pembantu itu.
"Apa mungkin dia sedang tidur? ahh, masa iya jam segini sudah tidur."
"Coba ahh, sekali lagi siapa tau tadi tuh sedang mode budeg."
"Nonaaa Nonaaaa!" panggil pembantu itu kepada majikannya sambil mengetuk pintu.
"Ya Bi, masuk aja gak dikunci ko"
"Tuhkann benarr sedang mode budeg." gumamnya.
Langsung saja pembantu itu masuk dengan tergesa-gesa dan langsung menutup pintunya kembali.
Tanpa dia sadari bahwa, majikannya sedang maskeran. Sontak saja kagetnya bukan kepalang, dia pikir ondel-ondel padahal majikannya sendiri.
Ahh dasarrrrr pembantu lucnuuttt.
"Huwaaa!" jerit sang pembantu itu.
"Ishh, Bi Inah! Bikin kaget saja deh," teriak majikannya sambil menuju ke meja rias.
"Ya habisnya kaget lah Non! lagian Nona ngapain panas-panas begini pake maskerr segala. Hantu bukan Nyai Ronggeng bukan!" sindir Bi Inah.
"Hilih, bilang aja pengen nyobain dimasker," tukas majikannya sambil menyodorkan masker yang baru.
"Apalah dayaku, wajah yang burik begini dipakein masker!" ucap Bi Inah sambil melihat kekaca.
"Ya, kemungkinan ada dua Bi, yang pertama, mungkin jadi jelek. Dan yang kedua bisa jadi tambah jelek!" ledek majikannya
"Ishh, Non! Dya bohong dikit napa, jujur amat." sahut Bi Inah kesal.
Sontak saja majikannya tertawa terbahak-bahak . Ia sangat senang dengan kehadiran pembantu yang disayanginya itu.
Pembantu bukan sembarang pembantu. Melainkan, sudah seperti orang tua dan sahabatnya sendiri.
Nama lengkap Bi Inah adalah Caswinah usianya sekitar 45 tahun-an. Dari kota Metro. Dia sangat menyayangi majikannya dan selalu buat hati majikannya senang.
Bi Inah juga selalu menjaga dan melindungi majikannya itu. Jika Bi Inah dan suaminya pulang kampung, rasanya seperti ada yang kurang. Kalo diibaratkan mungkin, bagaikan sayur tanpa garam.
Tanpa bi inah hambar rasanya. Makanya sudah tidak ragu-ragu lagii antara majikan dan))) pembantu. Mereka selalu kompak. Suasananya pasti rame terus jika ada Bi Inah.
Dan sedangkan nama majikannya adalah Nadya usianya sekitar 25 tahun-an. Anak konglomerat dari kota Petra.
Bi Inah dan suaminya sudah bekerja sangat lama dikeluarga ini, dari sejak Nadya kecil. Jadi sudah mereka anggap sebagai keluarganya sendiri.
"Ehh Non katanya kakak Non mau datang ya?" ucap Bi Inah sambil moles-moles masker kewajahnya.
"Iya Bi, aku tuh lupaaa aja mau bilang dari kemarin tuh. Bibi tau darimana kalau Kakakku mau datang?" tukas Nadya.
"Tadi aku lewat, gak sengaja nguping pembicaraan Tuan Arif," ucap Bi Inah polos.
"Hah! pembicaraan yang seperti apaa?" ucap Nadya penasaran.
"Ahh, mmmm, itu Non pas lewat ruang tamu, Tuan Arif nyuruh suami saya, untuk menjemput kakaknya Non, di Stasiun kereta api Petra," tutur Bi Inah.
"Oh, kirain ada yang aneh," sambung Nadya.
"hehehee." tawa Bi Inah gugup
🌻🌻🌻🌻🌻
Sementara di Stasiun kereta api ...
Tidak lama kemudian polisi pun akhirnya datang. Dan langsung menuju ke pos keamanan di stasiun.
Semua barang-barang dan tas milik wanita itu juga sudah dibawa ke pos keamanan, untuk mencari identitasnya.
Sesampainya di pos Keamanan, semua barang dan tas milik wanita itu dicek oleh Polisi. Para petugas kereta api juga ikut membantunya. Kecuali mereka bertiga, mereka hanya bisa duduk dan menuggu hasilnya.
Memang barangnya tidak seberapa sih, cuma tas sama pakaian bayi dan peralatan bayi.
"Kami sama sekali tidak menemukan identitasnya Pak!" Sahut sebagian polisi lainnya
Sontak saja mereka bertiga kaget keheranan dan bertanya-tanya.
Ko bisa tidak ada identitas?
"Jadi gimana donk Pak? Kita gak bisa menghubungi keluarganya kah?" ucap Reno cemas, sembari mnggendong baby Kimmy yang sedang tertidur pulas.
"Kamu tenang dulu napa Ren," timpal Yongki
"Gimana mau tenang! kasian ini babynya gimana kalau bangun terus nangis nyari Ibunya?" sahut Reno geram.
"Duhhh malang bener nasibmu nak!" tambah Reno.
"Begini saja biar kami yang urus semuanya. Karena ini sudah tanggung jawab kami juga," tukas pak polisi.
"Tolong berikan saja alamat dan nomer HP yang bisa kami hubungi, untuk memastikan keluarga wanita ini. Jika sudah mendapatkan infonya, kami akan segera menghubungi kalian," tutur pak Polisi.
"Yasudah Pak, saya percayakan pada bapak saja, ini nomor dan alamat saya, jika sudah ada titik terang tolong hubungi saya secepat mungkin," sambung Yongki sambil menyodorkan kartu namanya.
"Okee, baik terima kasih Sodara Yongki, kami akan melakukannya sebaik mungkin," ucap pak Polisi sambil menerima kartu nama dari Yongki.
"Terus ini babynya gimana?" sahut Dicka sambil menunjuk ke arah baby Kimmy yang sedang digendong Reno.
Semua orang yang ada di pos keamanan mendadak terdiam. Mereka bingung seolah tidak ada yang berani untuk membawa baby itu.
Entah akan dititipkan ke panti asuhan atau dibawa sama mereka bertiga. Namun hal ini mustahil karena mereka bertiga masih perjaka. Apa jadinya kalau mereka bertiga mengurus bayi itu bersama-sama?
Lagi pula mereka sudah punya pekerjaan masing-masing. So gak kebayang jika, baby itu berada ditengah-tengah mereka bertiga.
Repot... iyaa pasti repot...!
"Kalau begitu, gimana kalau kita saja yang mengurus baby ini?" sahut Reno.
" What! " Yongki kaget dengan ucapan Reno itu. Seolah tidak percaya jika Reno akan mengucapkan kalimat sperti itu.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like dan vote nya ya^^