
Suasana di stasiun, semuanya terdiam dalam keheningan. Terutama di pos keamanan yang semakin hening dan membuat orang-orang semakin bingung. Bagaiamana tidak, baby usia 8 bulan mendadak kehilangan ibunya.
Orang yang pertama ia ketahui dalam ingatannya adalah ibunya. Seorang ibu penerang dunia bagi setiap anak yang terlahir di dunia.
Tidak bisa dibayangkan, Jika ibu dan anak terpisah. Karena cinta ibu adalah yang paling menenangkan dan meneduhkan.Tiba-tiba petugas kereta api memecahkan keheningan itu.
"Oia, gimana kalo saya saja yang mengurus baby itu. Untuk sementara waktu sampe benar-benar menemukan keluarga almarhum ibunya," ucap salah satu petugas kereta api itu.
"Kebetulan saya hanya tinggal berdua bersama istri saya," Sambungnya.
Mereka bertiga terdiam, seakan enggan untuk mengatakan iya. Karena biar bagamana pun juga, mereka sangat menyukai baby Kimmy. Sangat disayangkan jika baby selucu ini diurus oleh orang yang belum tentu akan mengurusnya dengan baik.
"Ahh, aku rasa biar kami saja yang mengurusnya Pak!" celetuk Reno.
"Apaaa?" timpal Yongki semakin kaget.
"Ya, biar bagaimanapun juga, hal ini adalah amanah dari almarhum ibunya. Dari awal dia sudah mempercayai saya untuk membantu mnggendongnya. Jadi apa salahnya kita urus untuk sementara waktu. Lagian Pak polisinya juga sudah punya kartu nama kamu Ki, kalo terjadi sesuatu kan bisa menghubungi kamu benarkan?" sambung Reno meyakinkan Yongki.
"Ah, i-iya betul-betul he he. Betul sekali apa yang diucapakan Reno Pak," jawab Yongki gugup.
"Kamu yakin Ki? bisik Dicka sambil berbisik ke telinga Yongki.
"Entahlah aku bingung, tapi ya sudah lah mau gimana lagi, daripada diasuh sama orang yang gak dikenal!" tutur Yongki.
"Yasudah, kami percayakan pada kalian semua untuk menjaga baby ini, sebaik mungkin dan kami akan mengabari secepatnya," ucap Pak polisi.
"Baik Pak, terima kasih!" sahut mereka bertiga.
"Kalo begitu kami permisi dulu Pak," ucap Dicka.
"Ya silahkan." tutur Pak polisi dan para petugas kereta api yang ada di pos itu.
Mereka bertiga pun langsung bergegas meninggalkan stasiun kereta api. Sambil membawa baby Kimmy yang dari tadi masih tertidur pulas di pangkuan Reno.
Mereka bertiga akan menuju ke rumah sewaannya Yongki. Lokasi rumahnya lumayan dekat dari area stasiun. Jika naik taxi hanya butuh waktu 10 menit-an, maka sudah sampai di tempat tujuan.
🌻🌻🌻🌻
"Welcome in the home," ucap Yongki sambil membuka pintu rumahnya.
Dan mereka berdua pun masuk tanpa sungkan lagi.
"Nyaman juga tempatmu Ki," jawab Dicka sambil rebahan di kasur favorit nya Yongki.
"Aku pasti bakalan betah nih, Ki," sambung Dicka.
"Ehh, geser!" celetuk Reno sambil mepet-mepet ingin segera rebahin baby Kimmy di samping Dicka. Secara, dia yang sedari tadi menggendong baby Kimmy. Udah gendut, berat lagi.
Jadi sudah jelas apa yang dirasakan Reno saat ini. Tentunya seperti nano-nano sudah pegel, linu, encok, dan keram semuanya menjadi satu.
🌻🌻🌻🌻🌻
Sementara di tempat lain...
"Pak, rencana kita sudah berhasil!"
"Bagus! kerjamu selalu bikin aku puas!"
"Terima kasih Pak,"
"Terus selanjutnya rencana apa lagi Pak?" tanya anak buahnya.
"Tentu saja bereskan satu orang lagi yang ada di rumah ini!"
Praankkkkkk
Tiba tiba suara gelas pecah terdengar jelas. Sontak saja Bos dan para anak buahnya itu kaget.
Kemudian salah satu anak buahnya mengecek keluar ruangan. Dia adalah Andi usianya hampir 37 tahun-an. Dia juga sangat dekat sama Bi Inah dan suaminya.
"Bi Inah!" ucap Andi pelan.
Bi inah pun kaget dan gugup saat disapa oleh Andi. Secara, Bi Inah merasa ketakutan. Karena Pak Arif, tepatnya Pamannya Nadya, orangnya begitu sangar dan bengis.
Ia mengambil alih perusahan milik orang tuanya Nadya. Karena pada saat orang tua Nadya meninggal, Nadya dan kakaknya masih kecil. Maka, mau tidak mau dia dan kakaknya harus tinggal bersama pamannya.
Karena kalau tidak, semua harta kekayaan milik orang tuanya akan jatuh ketangan Pak Arif.
Meskipun begitu,Nadya tetap menghormati pamannya. Karena sudah merawat dan membesarkan dia dan kakaknya sampe sekarang ini. Semenjak kakak nya lulus kuliah, Nadya belum juga bertemu dengan kakaknya.
Rasa rindu Nadya memuncak. Ia ingin rasanya pergi dari rumah itu. Ingin kebebasan, ingin bersama kakaknya lagi dan masih banyak lagi yang ia harapkan.
"Ah, maaf Ndi, tadi waktu lagi bawa minuman, kaki saya keseleo," ucap Bi Inah sambil membereskan pecahan gelas tadi.
"Yasudah, cepat bereskan Bi, nanti Pak Arif keburu keluar," ujar Andi.
Dari sekian anak buah Pak Arif, hanya Andi lah yang begitu dekat dengan Bi Inah. Jadi, ia tidak begitu mempermasalahkan Bi Inah. Karena Bi Inah, selalu memperlakukan Andi seperti anaknya sendiri.
Dengan tergesa-gesa, Bi Inah membereskan pecahan gelas tadi. Takut bosnya tau, kalau dia sudah menguping pembicaraannya. Dan setelah itu, ia pun langsung bergegas menuju ke dapur.
🍭🍭🍭🍭🍭
Tokk tok tok
Suara pintu terketuk dengan begitu keras. Sang pemilik kamar itupun langsung membukakan pintunya. Dan ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Bi Inah. Ia pun langsung masuk ke dalam kamar Nadya dengan penuh rasa khawatir.
"Non, saya mau bicara!"
"Ehh, ada apa Bi? Kelihatannya serius banget," ujar Nadya penasaran.
"Yaa Non, ini penting! Dengarkan saya baik-baik ya! Mulai saat ini, lebih baik Non Nadya sekarang tinggalkan rumah ini. Karena suasana di rumah ini sudah tidak aman," ucap Bi Inah dengan penuh kecemasan.
"Apa maksudnya Bi?" ucap Nadya heran.
"Tadi Bibi, tidak sengaja menguping ..."
"Menguping lagi?" ucap Nadya memotong pembicaraannya Bi Inah.
"Ini serius Non! ada sangkut pautnya dengan non Nadya. Ini berhubungan hidup dan matinya kamu Non," lirih Bi Inah.
"Bi, sebenarnya ada apa sih? Aku belum faham dengan ucapan Bibi!" ucap Nadya semakin penasaran.
"Non, Tuan Arif itu tidak baik, dia jahat!" ucap Bi Inah meyakinkan Nadya.
"Apaa?" ucap Nadya kaget.
Seolah ia tidak percaya jika paman nya berbuat seperti itu.
"Iya Non, tadi saya tidak sengaja menguping pembicaraannya, kalo dia ingin melenyapkan kamu Non!" jawab Bi Inah sambil nangis sesenggukan.
"Sekarang non Nadya lakukan apa yang saya katakan tadi. Saya tidak ingin majikan saya mati ditangan orang jahat macam Pak Arif," sambung Bi Inah.
"Tapi Bi, bagimana dengan nasib kakak saya? Dia pasti kehilangan saya kalo saya kabur dari rumah ini. Lagian sekarang ini Dia akan datang dan juga hari sudah mau gelap. Bibi kan tau dia satu-satunya keluarga yang saya punya. Jadi mana mungkin saya ninggalin kakak saya seorang diri," ucap Nadya sambil menyeka air mata bi Inah.
"Tapi Non ..."
"Sudahlah Bi. Tenang saja, aku bisa jaga diri. Mendingan sekarang, siapakan makan malam untuk saya. Laper soalnya," ucap Nadya manja.
"Tapi, yasudahlah. Bibi siapkan duluu ya,"
"Oke Bi, makasih ya,"
Bi Inah pun langsung bergegas menuju ke dapur.
Setelah beberapa menit kemudian, Nadya pergi mencari sebuah kotak yang ada di lemari bajunya.
Setelah menemukannya, ia langsung membukanya. Kotak itu berisi alat-alat kecil yang bisa mengetahui percakapan orang-orang yang ada di sekitar rumah dirinya.
Sebuah alat mata-mata berbentuk kupu-kupu. Alat itu, pemberian dari teman sekolahnya, waktu dirinya berulang tahun.
Tapi, sayangnya belum pernah ia coba. Maka dari itu, kini saatnya untuk mencobanya. Apakah alatnya berfungsi atau tidak.
Dan sontak saja, Nadya kaget dan syok. Setelah alat itu berfungsi, semua percakapan terekam semua. apa yang didengarnya sungguh tidak disangka-sangka.
Nadya menangis dan kecewa kepada pamannya, kenapa ia punya watak sejahat itu. Kini ia sudah tau apa yang direncanakan pamannya itu.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan!"
Nadya menangis sejadi-jadinya, dia teringat akan janji pamannya untuk menjaga dan melindunginya. Ternyata di balik semua ini adalah bohong belaka.
Sungguh Kecewa berat bagi seorang Nadya. Dalam kesendiriannya,
Terlukis raut wajah penyesalan,
Hati nya kian membisu dalam kehampa'an.
Entah harus kemana ia pergi, kejadian ini membuat dirinya syok.
BERSAMBUNG...