HOT DADDIES

HOT DADDIES
episode 31



"Aku tau, pasti kamu marah sama aku, maafkan aku,Yang."ucap Nadya dalam hati sembari menatap Yongki yang tengah masuk ke dalam kamarnya bersama Kimmy.


Nadya merasa bersalah, karena tidak sabar untuk menunggu Yongki pulang.


Namun, disisi lain, ia juga tidak bisa menunggu lama-lama. Jika ada yang bersedia mengantarnya ke stasiun, kenapa tidak? Dalam pikirannya, ia hanya ingin pergi ke stasiun, tidak ada keinginan yang lain.


Suasana yang begitu tenang dan damai. hampir di berbagai sudut ruang terasa sunyi. Tidak ada tawa dan candaan yang ia dengar.


"Apakah mereka sudah tidur? ah, tidak


mungkin! baru saja mereka masuk kamar, masa sudah tidur?" batin Nadya.


"Ko, kenapa aku jadi gak enak hati banget. perasaan aku gak salah deh. Ah, sudahlah, mending aku masak dulu. Biar nanti Kak Dicka datang, makanan sudah siap." gumam Nadya.


Nadya pun langsung bergegas menuju ke dapur. Ia sudah berjanji untuk memasak buat Dicka. Sebagai tanda terima kasihnya atas bantuannya tadi pagi.


 


🍭🍭🍭🍭🍭


 


Di Cafe Maranti, terlihat Andi sedang menunggu seseorang yang sudah ia janjikan sebelumnya. Andi berharap, polisi yang akan mencari Nadya, bisa diajak kerja sama. Memang salah, tapi mau gimana lagi, supaya pencariannya di ulur waktu.


Sementara, Dicka pun sudah sampai di Cafe Meranti. Ia tengah mencari Andi, sambil menggenggam handponenya. Biar nanti, pas di telepon, langsung secepatnya bertemu.


Tapi, tidak lama kemudian, ia sudah menemukan Andi di pojok dekat jendela sambil melambaikan tangan ke arahnya.


"Halo, Pak Andi yah? saya Dicka," Ucap Dicka sambil berjabat tangan dengan Andi.


"Iya, Pak betul. Silahkan duduk Pak," ucap Andi dengan sumringah.


"Iya, terima kasih, Pak." jawab Dicka tersenyum manis.


Kemudian, Andi pun memanggil pelayan untuk memesan menu hidangan yang ada di Cafe itu. Mereka pun langsung berbincang-bincang sambil menunggu makanannya di hidangankan.


"Iya Pak, Jadi begini, sebenarnya orang yang kami cari itu tidak hilang! Namun, kami menyuruhnya untuk pergi dari rumah itu, dan kami tau dia dalam keadaan baik-baik saja," ucap Andi serius.


"Apa? kalau Bapak sudah tau, kenapa lapor polisi? jangan main main donk Pak, tugas kami, bukan melayani Bapak saja! tapi masih banyak tugas yang belum kami selesaikan," ucap Dicka kesal.


"Iya Pak. maaf. Sekali lagi saya minta maaf, tapi mohon pengertiannya Pak. Ini sangat penting bagi kami, Jika harus bayar, saya akan membayarnya berapapun Pak dicka inginkan," ucap Andi sambil memohon kepada Dicka, agar rencananya bisa dibantu oleh Dicka. Namun, Dicka tetap tidak mau mengerti. Ia masih kesal pada Andi, karena merasa di permainkan.


"Maaf Pak, saya bertugas dikota ini, baru satu bulan. Meskipun Pak Andi mau membayar saya, dan berapapun itu. Tapi maaf, saya bukan polisi yang Bapak pikirkan. Saya pamit dulu, Pak," ucap Dicka sambil berdiri dari kursinya.


Betapa kecewanya Andi, setelah apa yang ia lontarkan ternyata usahanya sia-sia.


"Padahal, aku belum selesai bicara Pak! kenapa langsung menolak duluan," gumam Andi sambil menatap Dicka sampai hilang dari pandangannya.


Tiba-tiba, makanan yang mereka pesan pun datang, Dan Andi pun langsung membayarnya dan segera pergi dari cafe itu.


"Loh, Pak! ini makanannya gimana? kan udah di pesanin!" ucap pelayan cafe itu.


"Tidak apa-apa ! silahkan buat kamu saja, yang penting saya sudah membayarnya." ucap Andi sambil meninggalkan Cafe Meranti itu.


Seketika, pelayan cafe itu sangat senang. Ia tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Andi.


 


🍭🍭🍭🍭🍭


 


TOK TOK TOK


Suara pintu terdengar begitu keras. Nadya, yang sedari tadi di dapur, langsung menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintunya.


"Pasti itu Kak Dicka, untung sudah beres semua, tinggal cuci piring yang belum." gumam Nadya senang.


BERSAMBUNG...