
Dari kejauhan, terlihat seorang perempuan cantik memakai jas berwarna biru, yang dikombinasikan dengan kaos warna netral putih membuat penampilannya terlihat chic dan elegan. Ya dia adalah Dokter Riri, yang selalu tampil modis, membuat para lelaki terpesona melihatnya.
"Dokter Yongki!!" teriak Riri ketika menuju parkiran mobil di rumah sakit. Ia sudah datang lebih dulu sebelum Yongki tiba.
"halo, Dok tumben pagi pagi sudah disini?" tanya Yongki dengan wajah berseri seri, hal ini membuat seorang Riri jatuh hati dengan ketampanan nya. Bagaimana tidak, wajah Yongki sangat mempesona. Tidak heran jika ia pria idamannya para dokter dokter cantik.
"Ia nih, tugas kemarin belum selesai, dan besok nya aku mau cuti," jawab Riri sambil berjalan bersama Yongki menuju rumah sakit.
"Wah, enak donk cuti," tutur Yongki
"Ia aku ada acara keluarga yang tidak bisa di tinggalkan," ucap Riri dengan suara manjanya.
"Okelah kalau begitu, selamat bercuti ria jangan lupa oleh oleh nya ya," canda Yongki dengan senyuman pamungkasnya
"Loh, memang nya aku mau jalan jalan apa! orang aku di suruh nikah,"ucap Riri kesal
"Wah nikah? selamat donk yah, kamu bakal punya kehidupan yang baru dan... belum juga Yongki selesai bicara, Riri sudah menangis duluan.
"Tuu tunggu, ko nangis? ada masalah kah? ucap Yongki penasaran. Namun Riri tidak menjawab nya, ia hanya menggelengkan kepala saja, ia tidak bisa membendungkan air matanya, yang membuat dirinya semakin bersedih. Seketika Yongki pun terdiam, ia hanya bisa menepuk lembut pada pundak mungil nya. Ada keinginan untuk memeluknya, namun ia sadar, ia bukan siapa siapa nya Yongki. Lagipula pikiran Yongki masih tersimpan nama Nadya. Ia sangat mencintainya, tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Nadya di sisinya.
"Apa kamu dilema?"tanya Yongki menkerutkan alisnya. Ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Riri saat ini, namun ia tetap menggelengkan kepalanya, seolah ia tidak mau berbagi kesedihan nya sama siapapun. Yang tadinya selalu terlihat ceria, bawel, dan selalu menorehkan senyuman manis nya, kini akhirnya nya bisa bersedih juga.
Bukan sebuah dilema yang ia rasakan, tetapi karena jiwa tidak bisa mengambil keputusan secara rasional.
Apa mau di kata, Yongki tidak bisa menemani nya di saat ia sedang bersedih. Karena pagi ini, ada operasi yang tidak bisa ia tinggalkan. Dan Riri pun mengerti atas hal itu, mereka pun saling berpamitan untuk melaksanakan tugas nya masing masing.
🌻🌻🌻🌻🌻
KRING KRING KRING
Suara handpone pak Jaja berdering dengan keras, namun dia tidak kunjung mengangkat nya, karena ia sedang berkunjung ke rumah saudaranya, untuk menitipkan dan menjaga rumahnya,selama ia bekerja. Begitu juga dengan bi Inah, ia tidak mendengar suara handpone nya berbunyi.
Saking lamanya, mereka tidak kunjung mengangkat teleponnya, akhirnya Andi sudah keburu sampai di depan rumah mereka. Namun suasana di rumah itu sangat sepi hanya ada tas yang sudah siap untuk mereka bawa. Tidak lama kemudian, mereka berdua pun sudah kembali ke rumahnya.
"Ehh Andi, udah datang!pasti sudah nunggu dari tadi," ucap pak Jaja kegirangan sambil bersalaman, begitu juga bi Inah ia senang sekali ketika Andi datang menjemputnya.
"Iya Pak, tas nya ada tapi orang nya tidak ada, aku jadi bingung sendiri heheh," canda Andi.
"Yaudah, sebelum berangkat, kita masuk dulu yuk! kebetulan bibi masak makanan kesukaan kamu, Ndi" ucap bi Inah sambil menggiring Andi supaya mau masuk ke rumahnya. "Aduhh pemaksaan ini mah," ucap Andi sambil tertawa lepas. "Yahh, mau gimana lagi Ndi, sifat nya udah mendarah daging, selalu maksa! Mau tidak mau harus mau," tutur pak Jaja sembari mengikuti mereka dari belakang.
"Oia, Kang ! aku mau bicara sesuatu ini sangat penting sekali," ucap Andi sambil menyantap makanannya. "Soal Nadya?" tambah pak Jaja mengkerutkan dahinya. "Bukan, soal Shely!" ucap Andi pelan. Sangat berat ia ucapkan, karena ia tau rahasia di balik semua itu.
"Memang nya ada apa dengan Non Shely? bukan kah sudah bersama Non Nadya?" ucap bi Inah penasaran, karena yang ia tau terakhir kalinya, dia akan pulang menemui Nadya, sudah pasti dalam pikiran bi Inah, mereka sudah bersama sama lagi.
Dengan berat hati, Andi mengatakan nya, ia tidak mau menyimpan rahasia ini sendirian. Ia tau jika suatu saat nanti semuanya akan terbongkar, dan dia tidak mau di cap sebagai pengkhianat. "Bi, sebenar nya Non Shely itu sudah tiada!" ucap Andi lirih ia berhenti menyantap makanannya. Sementara pak Jaja dan bi Inah terkejut dan tidak percaya dengan perkataan Andi barusan.
"Maksudmu, Non Shely sudah meninggal?" ucap bi Inah dengan mata berkaca kaca.
"Iya, Bi" jawab Andi singkat. Sontak saja mereka berdua syok, sangat terpukul bahkan sesak didada. Bagaimana tidak, orang yang selama ini ia asuh, sudah tidak ada lagi di dunia ini. Ia menghilang bak di telan bumi,tiba tiba hanya tinggal nama yang ia dengar. Sungguh malang nasibnya, bahkan Adiknya saja pun masih menunggunya di stasiun kereta api.
"Ndi, apa benar yang kamu katakan itu? kamu tidak bohongkan? terus bagaimana dengan Nadya? apakah dia baik baik saja?" ucap Pak Jaja cemas.
"Berarti, selama ini apa yang aku dengar itu benar! pendengaranku tidak salah!" ucap bi Inah emosinya membludak. Ia geram dan dendam terhadap Pak Arif.
"Iya, Kang ! aku tidak bohong, aku tidak mau jadi pribadi yang jahat, itu sangat merugikan diriku sendiri!" tutur Andi sambil menyeka air mata nya.
"Kamu menangis ? ada apa Ndi? ayo cerita saja, mumpung kita masih ada disini, aku yakin ini pasti ada hubungan nya dengan pak Arif!" sahut bi Inah menatap dengan serius. "Iya, betul Ndi, cerita saja aku tau pribadi kamu ko, aku sudah anggap kamu anak kami, aku yakin kamu tidak akan berada di jalan yang salah." bujuk pak Jaja, ia yakin jika Andi berada dalam masalah.
"Iya, Kang aku pasti cerita, tapi aku mau nerusin makan dulu, mubazir!" celetuk Andi dengan manja.
"Beuhh dasarr si wasjud, orang lagi serius seriusnya juga!" ucap bi Inah menyunggingkan bibirnya.
"Ohh, silahkan sok makan yang banyak biar sehat dan berisi," canda Pak Jaja, semua masakan yang ada di meja, ia sodorkan ke dekat piringnya Andi. Hal ini membuat bi Inah geli, "Tapi janga lupa yahh, kamu harus beritahu kami, sesuatu yang belum kami ketahui, okey!" ucap bi Inah sambil mengulurkan jempolnya. Dan Andi pun membalas dengan jempol nya, tanda ia setuju.
🌻🌻🌻🌻🌻
Hari sudah sore, tugas Yongki pun akhirnya sudah selesai, ia berniat untuk menuju ke lantai atas, guna menemui dokter Riri. Disana, banyak para calon dokter yang sedang magang. Ia mencari cari ke ruangannya, namun dokter Riri tidak kunjung ketemu. Padahal ia bermaksud untuk menyemangati nya, supaya dia tidak stress.
Yongki mulai gelisah, ia takut teman wanita nya berbuat yang tidak benar. Karena biar bagaimanapun juga Riri adalah teman perempuannya yang pertama ia kenal di rumah sakit itu.
Yongki pun, segera menelepon nya, ia sedikit panik,karena orang yang di cari tidak ia temukan.
"Kamu sedang mencari aku kah?" ucap Riri yang sudah berada di belakang Yongki. Seketika Yongki pun terkejut, ia langsung menoleh ke arah belakang, ia pun terpana melihat Riri sudah ada di depan matanya.
BERSAMBUNG...
HALO, Sahabat HOT DADDY aku mau ucapin selamat tahun baru yahh semoga ditahun baru ini kita di beri keberkahan dan kesehatan untuk kita semua aminn.