
"Kalau macam-macam bagaimana?" ucap Reno memotong pembicaraan Yongki.
"Silahkan saja kalau berani!" ucap Yongki menyunggingkan bibirnya.
"Kita lihat saja nanti," tukas Reno sembari tersenyum licik.
"Woy! Kalian berdua! Jangan berdiam diri disitu. Bantuin aku coba! Dari tadi gak kelar-kelar ni kerjaan," teriak Dicka.
Mereka berdua pun langsung membantu Dicka kembali tanpa berkata apapun lagi. Yongki akhirnya tau apa yang dimaksud Dicka waktu itu. Namun, Yongki yakin, jika Nadya akan setia memilih dirinya, daripada lelaki lain. Meskipun teman dekat sekalipun.
Jam sudah menunjukan pukul satu siang, semua pekerjaan di rumah sudah teraelesaikan oleh mereka bertiga. Agar Nadya tidak perlu repot-repot untuk membereskannya kembali. Untungnya Nadya malah ikutan tertidur pulas bareng Kimmy di kamarnya.
Akhirnya ketiga pemuda itu bisa istirahat dengan tenang. Mereka langsung menyalakan TV dan bersantai ria. Sementara, Yongki sudah bersiap-siap untuk pergi mengantarkan Riri ke kota Dharma. Ada keraguan dihatinya, yang membuat enggan untuk beranjak dari tempat duduknya.
"Mendingan aku temui dia dulu," gumam Yongki.
Ia pun langsung menemui Nadya di kamarnya. Ia tidak mengira kalau Nadya sedang tertidur pulas. Wajah nan ayu jelas terlihat diwajah Nadya yang sedang tertidur. Yongki pun mendekatinya, ia duduk di tepi ranjang dan langsung mencium kening sang kekasih.
Kekaguman Yongki terhadap Nadya, sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia sangat mencintai dan menyayangi Nadya sepenuh hati.
"Tidur saja, kamu begitu cantik, Nad," ucap Yongki sambil membelai rambutnya.
"Aku akan pergi dulu, hanya sebentar saja. Aku harap kamu jangan berpikiran yang macam-macam terhadapku, karena aku hanyalah milikmu seutuhnya," ucap Yongki sambil mencium tangan lembutnya Nadya.
Tiba-tiba saja, Nadya terbangun dari tidurnya. Ia langsung menatap dua bola mata sang kekasihnya itu. Sembari berpindah dari posisi tidur ke posisi duduk, ia pun berkata, "Kamu belum berangkat?"
Yongki yang masih memperhatikan dirinya, langsung menjawab, "Belum, aku masih rindu sama kamu,"
Seketika Nadya tersipu malu, ia berpikir jika dirinya terlalu diistimewakan oleh sang dokter itu. Terkadang ingin sekali dimanjakan oleh dirinya. Dan terkadang lagi, dokter itu selalu membuat hati Nadya jengkel.
"Aku pamit dulu, kalau ada apa-apa, hubungi aku," ucap Yongki sembari mengelus kepala gadis itu.
"Ya, hati-hati di jalan," ucap Nadya tersenyum manis.
Yongki pun langsung meninggalkan Nadya di kamarnya. Sebelumnya, setelah mencium kening Nadya, ia pun tidak lupa untuk mencium kening Kimmy terlebih dahulu. Setelah itu, ia pun langsung bergegas keluar dari kamar itu. Dan langsung menuju ke mobil untuk segera berangkat.
🍭🍭🍭🍭🍭
Sementara di rumah Riri ...
"Ko lama banget sih! Apa aku ke rumahnya saja menyusul dia, Mah?" ucap Riri dengan tidak sabar.
"Sabar, Sayang. Nanti juga dia akan datang," tukas ibunya Riri.
Nanti keburu telat. Kan kita naki kereta, Mom!" ucap Riri ketus.
Tiba-tiba suara mesin mobil terdengar jelas oleh mereka. Senyuman manis tersungging di bibir Riri yang sedari menunggu Yongki datang menjemputnya. Ia pun berlari menuju ke luar rumah sembari membawa sekantong plastik makanan yang dibelinya tadi.
"Akhirnya kamu datang juga, aku pikir kamu akan menggagalkan rencana aku," celetuk Riri semvari menghampiri Yongki.
"Sejak kapan aku ingkar?" ucap Yongki singkat.
"Hmm, kalau begitu ayo kita langsung berangkat saja, takut telat ke stasiunnya," ucap Riri sembari membuka pintu mobil Yongki.
"Eh, tunggu dulu! Jangan terburu-buru. Yongki aja belum pamit sama Mama dan Papa, udah main kabur aja nih anak," ucap Ibunya Riri.
"Yasudah, berangkat saja. Tolong jaga puteriku ya, jangan sampai terjadi apa-apa sama dia," ucap Ayahnya Riri.
Yongki pun mengangguk sembari tersenyum kepada kedua orang tuanya Riri. ia pun langsung pergi secepatnya dari tempat itu. Di perjalanan, Yongki tidak bicara sedikitpun, ia fokus menyetir.
"Senangnya, jika mereka segera menikah," ucap Ayahnya Riri.
"Sabar Pah, biarkan mereka pacaran dulu. Masa-masa pacaran yang indah, harus mereka miliki, kitapun perna muda, pasti kamupun masih mengenang masa-masa pacaran dulu. Iyakan?" ucap Ibunya Riri.
"Tentu saja. Aku masih ingat sampai sekarang, moment yang tidak pernah aku lupakan seumur hidupku," ucap Ayahnya Riri.
"Nah itu," ucap Ibunya Riri sembari tersenyum genit.
Sementara di perjalanan, Riri yang berada disampingnya Yongki jadi merasa canggung. Ia bahkan kehabisan ide untuk membahas cerita agar bisa membuang rasa canggungnya terhadap Yongki.
Namun, hingga pada akhirnya, Riri tidak bisa membuat hati Yongki senang. Sampai-sampai tidak terasa mereka sudah sampai menuju ke stasiun. Yongki pun segera memarkirkan mobilnya dan menitipkan kendaraannya ke petugas yang ada di area parkiran tersebut.
"Ah, syukurlah, kita tidak terlambat, Ki," ujar Riri sumringah.
"Ya, masih ada waktu beberapa menit lagi," kata Yongki sembari melangkah menuju peron.
Mereka berdua duduk di tempat yang sudah tersedia sambil menunggu datangnya kereta api. Ketika sedang berada di peron itu, Yongki teringat waktu masa-masa dirinya bertemu dengan dua orang pemuda yang tidak sama sekali ia kenali.
Namun sekarang mereka sudah menjadi sahabatnya walau pertengkaran kecil sering mereka lakukan. Tidak hanya itu, ia pun mengingat masa-masa dimana seorang ibu muda sedang menggendong bayi, yang tak lain bayi itu adalah Kimmy. Yang ia asuh dan merawatnya hingga sekarang.
Tiba-tiba suara klakson Kereta api membuyarkan lamunannya. Yongki pun langsung bersiap-siap untuk masuk ke dalam kereta bersama Riri. Setelah kereta tepat di hadapannya, mereka berdua langsung masuk dan mencari tempat duduk yang kosong.
"Akhirnya, kita berangkat juga. Aku tidak sabar ingin secepatnya sampai di tempat tujuan," ujar Riri senang.
Gimana tidak senang, melihat orang yang ia sukai sekarang ada bersama dirinya. Jelas terlihat dimatanya, sosok Yongki yang tampan membuat dirinya enggan untuk melepaskan tatapannya.
🍭🍭🍭🍭🍭
Kring kring kring
Suara HP Dicka berdering sedari tadi. Namun ia tak kunjung mengangkatnya karena sedang dalam keadaan tertidur di sofa. Ia ketiduran ketika sedang menonton TV.
Tiba-tiba, Nadya keluar dari kamarnya. Ia pun segera menghampiri suara HP yang berdering Karena ia mendengar suara HP berdering sedari tadi. Namun, setelah melihat Dicka yang sedang tertidur pulas, Nadya pun sungkan untuk membaangunkannya. Ia sangat bingung karena HP Dicka berdering terus.
"Gimana ya! Apa aku angkat saja teleponnya, siapa tau penting!" gumam Nadya.
"*Tapi sopan enggak yah,"
"Aku angkat sajalah, siapa tau penting*,"
Nadya pun langsung mengambil HP Dicka yang disimpan di atas meja. Betapa kagetnya ia, ketika membuka dan melihat tulisan yang bernama Andi di HP Dicka.
"Andi!" pekik Nadya.
*
*
*
BERSAMBUNG....
Terima kasih yanh sudah membaca HOT DADDY semoga kalian sehat-sehat ^^ selamat membaca. Jangan lupa untuk like dan votenya terima kasihh ^^