HOT DADDIES

HOT DADDIES
Kapan ulang tahun Kimmy?



Sudah pasti suasana di pasar begitu ramai. Banyak orang yang berjualan hingga pembeli berkerumun disana.


Keramaian juga muncul dari hiruk-pikuk penjual-pembeli yang sedang melakukan tawar-menawar dan bertransaksi.


Bi Inah, yang sedari tadi sudah berkeliling mencari bahan-bahan makanan dan juga buah-buahan serta kebutuhan lainnya, kini sudah ia dapatkan, tugasnya sudah selesai tinggal menghubungi Andi.


Belanjaannya begitu banyak, karena untuk stok selama satu minggu. Ia pun segera menghubungi Andi karena sudah kelelahan. Namun, Andi tak kunjung mengangkatnya karena HPnya di silent.


"Ya ampun, si Andi kemana sih! Ninggalin orang tua disaat seperti ini," ujar Bi Inah.


Sementara, Andi masih bercengkerama dengan Dicka. Mereka berdua begitu serius perihal orang hilang, yang tak lain adalah Nadya.


"Jadi, mau Pak Andi, saya mesti gimana? Kalau untuk menyelamatkan majikan anda, itu sudah pasti akan saya lakukan," ucap Dicka.


"Okey, Pak saya percaya, tapi hanya ada satu hal yang Pak Dicka mesti ingat! Hati-hati dengan yang namanya Pak Arif, pamannya Nadya. Dan tolong selidiki kebusukan dia. Anggap saja, surat laporan itu memang surat kehilangan. tapi tujuannya bukan itu, Pak Dicka ngerti gak apa maksud saya?" tanya Andi.


"Ya saya mengerti, anda ingin saya menyelamatkan Nadya dari tangan-tangan orang itu dan menyelidiki orang jahat itu, lalu menjebloskannya ke penjara?" ujar Dicka.


"Tapi Pak Dicka harus bisa menjaga rahasia ini, saya hanya ingin tidak ada lagi yang berbuat jahat kepada majikan saya, ingin seperti dulu yang aman dan damai," ucap Andi.


"Okey, kalau begitu saya mengerti, kalau begitu ..."


"Andi! Ternyata kamu disini!" teriak Bi Inah memotong pembicaraan Dicka.


Mereka berdua pun kaget dengan teriakan Bi inah yang begitu cempreng dan semangat. Tidak hanya mereka berdua yang kaget, tapi seisi warung itu juga ikutan kaget.


"Eh, Bi Inah! udah selesai belanjanya?" tanya Andi polos.


"Yaudah lah! Aku tuh dari tadi nungguin kamu, udah menghubungi kamu tapi gak diangkat-angkat. Dasar kamu bisanya ngerjain orang tua aja," ucap Bi Inah ngomel-ngomel.


"He he maaf Bi, sengaja," canda Andi.


"Sengaja-sengaja, eh ini siapa ya?" tanya Bi inah yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya.


"Iya Bi, saya Dicka," ucap Dicka singkat sambil berjabat tangan.


"Alhamdulilah, akhirnya Allah mengabulkan Permintaanku. Terima kasih ya Allah, tolong ya Pak. Aku ingin secepatnya masalah ini kelar," ucap Bi Inah terharu.


"Inshaa Allah, akan saya lakukan sesuai kemampuan saya. Dan saya juga akan berusaha semaksimal mungkin. Oia Bi, panggil aku Dicka saja," tutur Dicka sembari tersenyum manis.


"I-iya Terima kasih, Nak Dicka. Semoga Allah membalas kebaikanmu Nak," ucap Bi Inah sembari meneteskan air matanya, ia begitu terharu akhirnya, ada polisi yang mau membantunya.


Setelah sekian lama bercengkerama dengan mereka, akhirnya Dicka pamit untuk segera menuju kantor. Begitu juga Andi dan Bi Inah, ia mesti cepat-cepat pulang karena takut dicurigai oleh Pak Arif. Mereka pun akhirnya berpisah namun, mereka sepakat untuk saling berkomunikasi.


 


 


🍭🍭🍭🍭🍭


 


Sementara di tempat lain...


Hari semakin siang, Nadya hendak menyiapkan sesuatu untuk Kimmy. Mumpung dirinya masih tidur. Sesuatu kesukaan Kimmy, yaitu puding coklat. Ia begitu suka dengan makanan itu. Apalagi, dia sekarang sudah pintar makan sendiri.


Ketika hendak mengambil bahan-bahannya, Nadya lupa, jika stok persediaan makanan sudah mulai habis. Ia pun segera mengecek tanggal untuk melihat waktunya berbelanja. Karena apapun dan segala sesuatunya, ia selalu di tulis di kalender.Supaya tau saat bayar kontrakan, bayar listrik, belanja dan lain-lain.


"Tanggal berapa sih sekarang? Sudah lama tidak belanja. Oh, pantas saja, memang hari ini waktunya buat belanja," gumam Nadya.


"Oia, kalau dipikir-pikir, saat ini Kimmy sudah bisa berjalan dan bicara, itu tandanya usianya semakin bertambah. Kapan ulang tahunnya? Kenapa aku baru sadar sekarang!" gumam Nadya.


BERSAMBUNG...